Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 20


__ADS_3

"Ren .. Renn , kamu kenapa Ren?"


"Sadar Irena!" teriak Dika yang melihat Irena terus memanggil nama Ayahnya sembari menangis histeris.


"Ee-aku a..kuuu ..." Irena berdiri dan menangis diperlukan Dika.


"Aku teringat ayahku Dik, apa yang terjadi dengan Ayahku terjadi juga dengan Rudi. Kenapa semua orang yang aku sayangi harus seperti ini"


"KENAPA HARUS RUDI, DIK? Hiks..hikss..hikss"


Dika pun kembali menyuruh Irena duduk, mencoba menenangkan.


"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Kita berdoa saja semoga Rudi nggak kenapa-kenapa. Semua ini ujian dari Allah, kamu jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi" ucap Dika.


Saat pintu IGD terbuka, mata Irena langsung tertuju ke Dokter Herman yang keluar dari ruangan. Mereka berdua langsung berdiri dan beranjak menanyakan keadaan Rudi.


"Bagaimana dengan Rudi, dok?" tanya Irena.


Dokter itu menghela napas sejenak kemudian berkata "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyawa pasien tidak bisa tertolong. Terlalu banyak pendarahan di dalam otak pasien, kami sudah berusaha, tapi Allah berkehendak lain. Saya turut berduka atas kejadian yang menimpa pasien"


"Tidak, tidak, dokter berbohong kan. Gak mungkin, Rudi masih hidup kan, dok!"


"Rudiii .. Rudii... " teriak Irena sembari berlari melihat Rudi di ruang IGD yang sekujur tubuhnya telah ditutup kain.


Irena membuka kain penutup, melihat wajah Rudi yang tampak manis dan tampan tersenyum tipis seperti saat mereka bersama.


"Kenapa harus kamu Rud? Kenapa ini terjadi lagi? Kamu sudah janji sama aku terus di sampingku, aku juga belum sempat membuka kotak kecil hadiah dari kamu. Saya bilang jangan pergi Rudi Chaniago, JANGAN PERGI!!"

__ADS_1


Dika langsung menarik tubuh Irena untuk keluar dari IGD, ia mencoba menenangkan nya.


"Sadarlah Ren, ikhlaskan! Kamu harus kuat, Rudi udah mencoba bertahan sebisanya, tapi Allah lebih sayang kepadanya. Dia sudah bahagia bersama-Nya"


Irena hanya tertunduk menangis sesenggukan. Hatinya sangat hancur, dadanya begitu sesak. Kemudian ia jatuh pingsan.


Irena yang baru saja sadar, terbangun dan sudah berada di ruang inap pasien. Dika yang duduk disampingnya tertunduk menahan lelah karena menunggu Irena sadarkan diri.


"Dik, Dika ... Rudi.. Dik. Dimana dia? Aku mau ketemu dia Dik " ucap Irena.


"Jenazah Rudi udah dibawa kerumahnya Ren, kami tadi pingsan jadi dibawa kesini dulu"


"Aku mau pulang Dik, aku harus menemuinya" ucap Irena sembari menggalakan infus yang ada ditangannya.


"REN! KAMU HARUS SADAR! JANGAN SEPERTI INI, KAMU HARUS KUAT!" gerutu Dika dengan nada keras.


"Lihat tuh tangan kamu, berdarah gitu. Bagaimana Rudi bisa tenang disana, sementara kamu menyiksa diri kamu seperti ini"


Dika menelpon Suster untuk datang keruangan mengobati tangan Irena yang berdarah karena melepas infusnya.


"Mmm-maafkan aku juga Dik, aku juga nggak tau kenapa aku seperti ini, kejadian ini seperti yang aku alami saat ayahku meninggal dulu. Tolong maafkan aku kalau aku menyakiti hatimu"


"Itu karna kamu mencintainya Ren, aku coba untuk mengerti. Aku juga gak boleh egois kan. Pernikahan kita sebaiknya kita batalkan saja Ren, aku nggak papa kok. Aku nggak mau menjadi beban dalam hidupmu" ucap Dika sembari memberikan senyuman diwajahnya.


"BATAL? TIDAK DIK, TIDAK!! Kamu jangan konyol, kamu gak mikirin gimana perasaan kedua keluarga kita. Mereka sudah menyiapkan ini semu, maafkan aku yang belum bisa mencintaimu. Semua juga butuh waktu. Kalau kamu begini, itu artinya kamu egois. Maafkan aku" ucap Irena sembari memegang tangan Dika.


"Sudahlah nanti kita bicarakan lagi, untuk sekarang aku izin ke dokter dulu biar kamu bisa pulang dan kerumah Rudi secepatnya, karna jenazah nya akan dikubur besok pagi"

__ADS_1


"Baiklah" ucap Irena masih terlihat lemas.


Dika pergi meninggalkan Irena untuk menemui Dokter.


"Dik ...." ucap Irena.


"Ya ..."


"Terima kasih ya"


"Maafkan aku"


Dika hanya menganggukkan kepala sembari memberikan senyuman manisnya.


****


"Rud, aku datang nih. Lihat kamu untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih ya untuk beberapa tahun kebersamaan kita selama ini. Aku harap kamu jauh lebih bahagia disana"


"O-iya, hadiah ini. Terima kasih juga ya. Seharusnya kamu loh yang memakaikannya, aku baru buka saat perjalanan kesini, dan langsung aku pakai. Akan aku jaga pemberian kamu ini. Kamu yang tenang ya disana, aku coba untuk lebih ikhlas" ucap Irena sembari menahan tangis yang mulai keluar dari pelupuk matanya sembari menunjukkan kalung pemberian Rudi.


"Rasanya saat ini aku belum siap kehilanganmu Rud, kehidupanku seperti hancur kembali. Apa sebegitu cintanya aku sama kamu? Lebih baik aku yang pergi deluan Rud, biar aku gak ngerasain sakit lagi seperti dulu dan saat ini"


Isak tangis terus terdengar dari keluarga, kerabat dan orang-orang yang begitu menyayangi Rudi. Tapi Irena mencoba lebih tegar sekarang, ia sadar dengan tangisan pun tidak akan merubah semua yang telah terjadi, biarlah semuanya menjadi kenangan yang akan selalu diingat dan cinta yang akan selalu tersimpan di hati .


"Ternyata benar yang kamu bilang, Allah mentakdirkan kita bertemu untuk menjadi cerita yang berakhir dengan cara yang tidak bisa kita duga. Aku akan selalu merindukanmu Rud. Selamat jalan Bos, partner hidup sekaligus cinta terbaikku. I love you, Rudi Chaniago"


"

__ADS_1


__ADS_2