Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 84


__ADS_3

"Haii sayang, kamu sudah datang pagi-pagi buta begini. Gak sabaran banget ya."


"Atau jangan-jangan istri kamu kurang memuaskan ya tadi malam makanya kamu cepat datang kesini."


Pagi-pagi sekali sebelum Irena bangun, Dika sudah pergi terlebih dahulu untuk menemui Rebecca. Ia harus bergerak cepat untuk menyelesaikan ini semua, karna ia tau Irena pasti gak akan tinggal diam dengan semua yang telah terjadi padanya.


"Dasar wanita gila!!"


"Maksud kedatanganku bukan seperti yang kau pikirkan. Aku ingin memperingatkan mu, jangan pernah sentuh istriku apalagi kalau kau sampai berani menyakitinya. Kau pasti tau bukan, hal lebih gila apa yang akan aku lakukan kalau sampai kau berani menyentuhnya."


Rebecca tida menggubris ancaman yang diberikan Dika padanya.


"Ayolah, aku gak mengharapkan perdebatan saat kau tiba disini, Mas."


"It's time for our time, baby. Stay calm and enjoy it." Dengan perlahan Rebecca menyentuh setiap inci bagian tubuh atas Dika dengan tangan lihainya yang tentu saja siapapun tak akan mampu untuk menahan godaannya.


Dimulai dari bagian dada kekarnya, dan kini berlanjut memainkan ****** yang tampak mulai menegang diatas sana. Setelah itu tangan nakal itu berlanjut menuju bagian bawah senjata sang pria. Baru beberapa detik menjangkaunya, Dika langsung menghentikan semua permainan yang mungkin bisa saja membuatnya tergoda.


Dengan susah payah ia menahan segala nafsu birahi jahatnya yang mulai meronta-rona, mengingat sudah lama juga tak ia keluarkan setelah berpisah lama dengan Irena.


"Kau memang benar-benar wanita gila!!"


"Jauhkan tangan kotormu itu dariku. Aku sudah bukan milikmu, tolong akhiri semuanya."


"Dan kau harus ingat setiap perkataan yang aku lontarkan padamu, Rebecca. Jangan sampai kau menyesalinya karna tak memperdulikannya."

__ADS_1


"Hemm ..."


"Aku gak akan pernah melepaskanmu, Mas. Sampai kapanpun gak akan pernah."


"Kau pikir, ancaman mu itu bisa membuat aku takut. Kau salah, Mas. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Bahkan itu harus menyingkirkan istrimu dan bayimu. Kau ingat itu!!"


"Jadi ikuti saja permainanku, atau malah kau yang justru akan menyesalinya. You'll see.


Rebecca tetap kuat dengan pendiriannya. Apapun yang Dika katakan tak menggoyahkan sedikitpun niat jahatnya itu. Bagi Dika, percuma ia menyelesaikan semuanya sendiri. Rebecca tetaplah wanita gila yang kapan saja siap melemparkan bom atom untuk membuat lawannya benar-benar harus mati atau bisa saja dia juga akan ikut mati bersama dengan lawannya itu.


"Baiklah kalau itu mau kamu. We'll see." Ucap Dika mengakhiri pembicaraan dan pergi meninggalkan Rebecca.


"Mas .. Mas... Masih aja bodoh mau bersama wanita itu. Lebih oke aku lagi kali Mas daripada dia. HAHAHAAA." Rebecca terkekeh jahat.


*****


Irena yang saat itu sedang memasak untuk sarapan pagi langsung menghentikan aktifitasnya sebentar untuk bertanya kepada Dika.


"Kamu ... dari mana, Mas?" Tanya Irena lagi.


"Oh itu ... tadi malam yang Mas dapat telepon dari sekretaris Mas. Dia minta Mas untuk ketemu klien lebih awal di bandara, karna klien yang satu ini tiba-tiba saja harus pergi ke Amerika. Makanya Mas buru-buru pergi gak sempat pamit ke kamu."


"Apalagi, Mas lihat kamu tidurnya pulas banget. Gak tega dong Mas bangunin kamu." Ucap Dika sembari mencubit hidung mancung milik Irena.


"Hemm .. yakin kamu?" Tanya Irena sedikit mencurigai suaminya itu.

__ADS_1


"Ya, kenapa harus gak yakin? Ayolah kamu masih saja mencurigai suamimu ini?"


"Eummm ... Eummm ... Eummmm ..." Dika menggelitik tubuh Irena dan mencium tengkuk lehernya yang membuat Irena kegelian.


"Mas, Mas ... Apaan sih. Jangan dong, aku lagi masak loh. Nanti tumpah tuh." Irena terkekeh.


"Udah gak usah masak. Stop dong, masak mulu nih. Ya kan mochi mochi." Ucap Dika sembari mengelus perut Irena.


"Kita gak usah kerja hari ini yuk. Kamu ... bolos kerja aja hari ini, kita pergi kemana aja yang kamu mau. Gimana? Please .... " Dika memohon.


"Jangan dong, Mas. Nanti deh aku atur libur cutiku. Eh, tapi mana bisa ya. Aku kerja juga masih hitungan berapa bulan udah minta cuti aja. HAHAHAA."


"Gimana kalau pas weekend aja, gimana? Kamu setuju?" Ucap Irena bersemangat, sedikit melupakan kecurigaannya.


"Oke, baiklah. Janji weekend ya? Deal?" Tanya Dika.


"Deal ..." Jawab Irena.


"Nah gitu dong, sini peluk Mas dulu. Sini sini ..." Dika merapatkan tubuhnya memeluk Irena.


.


.


.

__ADS_1


See you next, Readers 😘😘


__ADS_2