
"Kamu bisa jatuh dari tangga kalau berjalan dengan seperti itu." Ucap Bryan tanpa diminta penjelasan.
Setelah sampai diruang makan, Bryan menurunkan Irena dan langsung menarikkan kursi untuk Irena duduk.
"Ibu gak tau apa makanan kesukaan kamu, tapi Ibu rasa kamu akan suka dengan ini." Wanita itu memberikan semangkuk sup jagung dengan aroma jahe.
"Irena sih sukanya ikan teri sambal sama daun ubi tumbuk, Ma." Canda Bryan.
"Apaan sih, kamu? Suka kok, Bu. Terimakasih banget udah repot-repot nyiapin ini semua." Ucap Irena.
"Ma? Mama?"
"Apa wanita ini Mamanya Bryan? Pantes saja wajahnya yang awet muda dan juga ayu menurun kepada anaknya." Irena bergumam dalam hatinya yang masih bertanya-tanya.
"Hemm, nanti deh kalau Irena main kesini lagi pasti Mama masakin." Sambung Ibu Bryan.
"Mama?" Ucap Irena pelan tapi masih terdengar ditelinga Bryan dan juga Mamanya.
"Ya, saya adalah Mamanya Bryan. Kamu boleh panggil saya Ibu atau Mama. Itu terserah kamu, gimana enaknya kamu saja." Jawab Mama Rita.
"E-iya, Bu." Irena terbata-bata.
Bryan tersenyum, "Entar juga ada masanya panggilan Ibu akan berubah jadi Mama." Ia duduk dihadapan Irena.
Irena berpaling, pipinya memerah terasa panas melihat senyum aneh dan tatapan Bryan yang begitu dalam. "Sadar, Ren!"
"By the way, tadi malam kenapa kamu bisa dijalan selarut itu, Nak?" Tanya Mama Rita mulai menginterogasi.
__ADS_1
"Suaminya berselingkuh." Bryan merasa tidak perlu berbohong dengan kehadirannya disana tepat saat Irena pingsan.
Irena sama sekali tidak terkejut. Lagi pula ia merasa tidak perlu berbohong dan juga tak ingin membuat Dika terlihat baik dimata orang lain lagi.
"Kamu sudah tau?" Tebak Irena dengan tatapan tajam.
Bryan menatap Irena begitu lekat, seperti sedang merasakan sakit yang Irena rasakan. "Aku tau." Jawabnya.
"Kamu tau? Tapi tidak memberitahu ku? Kamu juga ikut bersekongkol dengan mereka untuk menutupi semuanya, Bryan?" Irena emosi.
"Ehemm ... Mama ke kamar dulu ya. Kalian lanjutin aja makannya." Mama Rita berdehem, memilih pergi untuk memberikan ruang kepada mereka berdua agar lebih leluasa berbicara.
"E-iya, maaf Bu." Jawab Irena merasa gak enak hati karna terlalu keras saat berbicara.
Mama Rita hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian berjalan menuju kamarnya.
"Jadi apa? Kamu sudah tau dan gak kasih tau aku apapun. Tega kamu, Bryan."
"Aku juga baru tau semenjak kepulangan mu kerumah Bryan. Tapi kalaupun aku kasih tau kamu, apa kamu akan percaya?"
Irena terdiam. Mana mungkin dirinya percaya.
"Aku pernah beberapa kali memergoki kebersamaan mereka. Baik itu di apartemen Rebecca ataupun dirumah Jhonatan."
"What?"
"Pertama kalinya aku melihat mereka saat aku bertemu klien di salah satu hotel, Rebecca masuk ke salah satu kamar. Aku mengira kalau wanita itu bersama suaminya, Jhonatan. Ternyata ada Dika dibelakang yang juga ikut masuk kesana."
__ADS_1
Irena tercengang. Ia sangat ingat, kalau dirinya dan suaminya pernah berencana akan menginap di salah satu hotel yang diberitahukan Bryan itu. Ditambah lagi demi kelancaran projek kerja suaminya itu, rencana yang mereka buat harus gagal karna Dika tiba-tiba diminta datang sesegera mungkin untuk bertemu dengan klien penting pada saat itu. Mereka pun akhirnya membatalkan semua rencana, tapi kesempatan itu dipakai Dika untuk bermain serong dengan Rebecca.
"Kurang ajar!" Irena tertunduk.
"Maafkan aku, Ren. Seharusnya aku memang memberitahumu, entah kamu akan percaya atau tidak nantinya."
Irena mengangkat kepalanya dan tersenyum getir. Tatapannya begitu terluka. "Mas Dika suamiku, Bryan. Aku mencintai dan mempercayainya selama ini."
"I know." Bryan membalas dengan senyuman teduh.
"Aku benar-benar malu padamu, Bryan. Aku menyombongkan pria yang nggak punya hati didepan kamu." Irena menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Itu karna kamu nggak tau, Ren. Aku nggak pernah sekalipun menganggap kamu bodoh, tapi memang kamu terlalu lugu dan pemaaf. Padahal, seharusnya banyak hal yang mulai kamu curigai."
Irena mengangguk, "Itu sebabnya dia nggak pernah menyentuhku lagi, karna udah terlalu sering bermain dengan wanita psycho itu."
Semua kenyataan ini semakin membuatnya kesal dan malu. Bersikap tenang bukanlah perihal yang mudah untuk dilakukan. "Aku butuh waktu sebelum menghadapi mereka, Bryan."
"Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
.
.
.
*Baiklah, mari kita pikirkan dulu cara apa yang cocok untuk dikasih buat mereka. Coba komen spam dulu, biar kita hajar mereka ramai-ramai 😂😂*
__ADS_1