Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 92


__ADS_3

"Gimana? Kamu senang?" Tanya Dika.


"Ya aku senang Mas. Akhirnya Rebecca sudah sadar dengan sifat jahatnya."


"Sepertinya kami bisa jadi teman baik kali ya, kamu lihat aja tadi asyik banget ngobrolnya. Nyambung gitu loh Mas sama dia ngobrol. Enak dan positif vibes pastinya." Ucap Irena.


"Berteman? Kamu yakin? Gak takut gitu entar dia tiba-tiba kumat gilanya." Tanya Dika lagi.


"Ya palingan kalau dia kumat gilanya itu pasti karna kamu juga sih ya."


"Loh, kok jadi aku sih?" Dika mendekati Irena sembari mencubit lengan istrinya.


"Awww!! Sakit loh, Mas. Kamu ini ..." Ucap Irena kesal.


"Udah ah, aku mau ganti baju dulu. Capek banget rasanya hari ini." Irena pergi ke kamar mandi mengganti baju.


Dika masih tetap saja ragu dengan ketulusan Rebecca. Pikirannya masih trave*l***ling kemana-mana, mulai dari permintaan maaf dan sifat lembut dan baik yang ditunjukkan Rebecca malam ini.


"Apa iya dia sudah berubah?"


"Hemm .. ya mudah-mudahan sajalah." Gumam Dika.


"Sayang, kamu lama lagi gak ganti bajunya? Mas, mau buang air kecil nih."


Tidak ada jawaban dari Irena karna Irena menghidupkan keran air sangat deras, entah apa yang dilakukannya didalam sana.


"Sayang ... "


"Tokk .. Tokk ... Tokk ..."

__ADS_1


"Mas masuk ya." Dika berteriak sembari membuka pintu kamar mandi tapi tidak ada juga jawaban.


"Wah kode keras nih." Gumam Dika dengan pikiran travelling kemana-mana.


Jelas saja terpampang nyata lekukan tubuh Irena dengan perut yang membesar. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh istrinya selama hamil. Masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang perut membuncit berisikan bayi mochi, seperti panggilan sayang Dika kepada bayinya itu.


*****


"Selamat pagi, Pak." Ucap setiap karyawan yang berjalan berpapasan dengan Bryan.


"Pagi ..." Jawab Bryan.


Pagi yang sangat cerah untuk Bryan mengawali rutinitas kembali seperti dulu. Ia berharap hatinya selalu kuat dan sabar menahan godaan dari wanita yang sudah bersuami itu.


Saat hendak berjalan menuju ruang kantor, tatapannya sekilas melihat ke arah ruangan kerja Irena. Terlihat Irena sedang sibuk mempersiapkan beberapa berkas untuk keperluan meeting pagi ini. Ya meeting pagi dengan dirinya, tapi Irena tidak mengetahui bahwa Bryan sudah kembali masuk kerja.


"Ren, sudah siap? Udah ditungguin tuh." Ucap salah satu karyawan.


"Bryan ..." Gumam Irena dalam hati.


Irena duduk tepat bersebalahan dengan Bryan. Tak ada kalimat yang diucapkan diantara keduanya.


"Ini Pak." Irena memulai pembicaraan.


"Oh terimakasih." Jawab Bryan.


Meeting pun dimulai. Ada sedikit rasa canggung diantara keduanya. Tapi semuanya bisa teratasi hingga meeting selesai.


*****

__ADS_1


"Ren, makan siang bareng yuk. Ada waktu senggang gak? Kebetulan aku lewat kantor kamu nih." Pesan whatsapp dari Rebecca.


Irena langsung mengecek handphonenya dan membalas, "Boleh, sebentar lagi aku selesai. Tunggu didepan aja ya."


"Maaf ya nunggu lama, tadi beres-beres dulu." Ucap Irena.


"It's okay. Kita udah bisa berangkat?" Tanya Rebecca yang siap untuk melajukan mobilnya.


Irena menganggukkan kepalanya.


Dari kejauhan Bryan melihat Irena masuk kedalam mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia penasaran. Tapi mencoba untuk tidak ikut campur dengan apapun yang berhubungan dengan Irena. Ia lebih memilih untuk pergi juga dengan mobilnya untuk bertemu dengan klien sembari makan siang.


Kedua wanita itu berhenti disalah satu cafe dekat kantor Irena. Tempat yang sangat sesuai buat Irena tidak jauh dari kantornya.


Dan ditempat itu pula Bryan bertemu dengan kliennya itu. Irena dan Rebecca sampai terlebih dahulu, sementara Bryan tiba tak lama setelah kedua wanita itu duduk dan memesan makanan.


Saat masuk kedalam, Bryan melihat sosok yang tak asing. Dia mengenali kedua wanita itu.


"Irena? Rebecca?" Gumamnya.


"Apa Rebecca yang dimaksud Irena dulu wanita itu? Tapi kenapa mereka tampak akrab. Apa mungkin bukan Rebecca itu yang diceritakan Irena." Bryan mulai tampak gelisah terus menerka-nerka. Ingin rasanya bertanya kepada Irena, untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.


Kali ini ia tidak fokus dengan pertemuannya dengan klien yang sedang duduk dan berbicara didepannya. Lirikan matanya terus saja tertuju dengan Irena dan Rebecca.


"Ren, apa yang sebenarnya kali ini terjadi. Kenapa diriku merasa khawatir melihat kedekatan mu dengan wanita itu." Pikir Bryan.


.


.

__ADS_1


.


Haloo, Readers. Mohon dukungannya ya, jadikan novel Othor ini favorite buat kalian. Thankyuu, see you next 😘


__ADS_2