Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 133


__ADS_3

"Ini uang untuk kopi yang saya pesan." Ucap Rebecca pada kasir di Coffee Shop.


"Apakah Coffee Shop ini milik Shirena Indira? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah sehat?" Tanya pelanggan setia di Coffee Shop ini yang tiba-tiba datang bertanya.


"Alhamdulillah sudah membaik Pak." Jawab karyawan kasir.


Rebecca yang mendengar pembicaraan mereka, langkahnya terhenti dan dengan sengaja terus mendengar percakapan mereka.


"Saya benar-benar sedih saat mengetahui keadaannya, sepertinya ia benar-benar terpuruk sampai tidak pernah datang lagi kesini ya." Lirihnya.


"Tidak kok, Bu Irena udah baik-baik saja." Balas Winda seorang kasir sembari tersenyum kecil meyakinkan.


"Dulu ia terlihat sangat bahagia dengan kehamilannya. Tapi sekarang, pasti ada hikmah dibalik semuanya." Sambungnya.


Rebecca langsung mencari meja untuk duduk menikmati kopi yang ia pesan.


"Ternyata Coffee Shop ini milik Irena ya, hem." Gumamnya mulai memikirkan hal-hal licik.


******


"Kamu ada masalah apa sih, Ren? Cerita ke aku, jangan lari-lari kayak gini." Radit mulai kesal.


"Aku baik-baik saja." Jawab Irena sembari membereskan tasnya untuk pergi ke Coffee Shop miliknya.


"Aku kenal kamu sudah lama, jangan sembunyikan apapun dari aku. Kamu tuh ya, suka banget lari dari masalah. Bukannya dihadapi malah lari, aku tau banget!"


Irena menggigit bibir bawah, bimbang antara harus menceritakan semuanya pada Radit atau tidak. Sebenarnya ia juga gak mampu menyimpannya sendiri, karna Radit adalah sahabat yang tau banyak segala hal tentangnya.


"Bertengkar dengan Bryan?"


"Atau Dika dan Rebecca masih mengganggumu? Ayo kita lapor polisi saja."


"Ha? Semua ini tidak ada hubungannya dengan mereka berdua, Dit!" Kesalnya.


"Nah, kalau begitu pasti ada hubungannya dengan Bryan, bukan?"


"A-aku cuma lagi kepikiran tentang Mas Bryan, Dit." Irena langsung menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya.


"Aku bukan istri yang sempurna untuknya, kalau belum bisa hamil." Tangisnya pecah.

__ADS_1


"Apaan sih, Ren! Bryan bukan orang yang seperti itu. Ia sangat mencintaimu. Tidak perduli juga kamu bisa hamil apa enggak. Dia sudah menceritakan semua yang terjadi dengan kalian padaku." Radit menjelaskan.


"Sudahlah, kamu gak perlu memikirkan itu semua. Jalani saja semuanya dengan ikhlas dan bersyukur. Kalian pasti bisa menghadapi ini." Ucapnya memberikan semangat pada Irena.


Irena hanya berjalan sesenggukan ke mobil bersama Radit.


Saat tiba di Coffee Shop hendak berjalan ke ruang kantor, samar-samar terdengar suara orang tengah bertelepon. "Apa aku kedatangan tamu?" Pikirnya.


"Suara itu terdengar seperti suara suamiku. Tapi untuk apa dia kemari? Bukankah seharusnya ini jam sibuknya di kantor." Gumamnya.


Irena berjalan dengan langkah pelan ke ruangannya. Dengan tangan gemetar membuka pintu kayu yang terpasang.


"Oh, kamu sudah datang?" Bryan mematikan telepon dan menoleh ke arah pintu yang terbuka. Menatapnya lama dengan sorot mata yang teduh.


Irena mengerti arti dari sorot mata Bryan kali ini, penuh dengan kekhawatiran akan dirinya.


Bryan tersenyum dengan kedatangan Irena, lalu berjalan menuju sofa duduk disebelah Irena. Namun, Radit tiba-tiba datang menyusul keruangan. "E-kalian mengobrol saja dulu, aku akan membantu para karyawan didepan." Pamit Radit kemudian berjalan keluar.


Di ruangan itu Irena tampak kaku duduk di sofa dengan wajah yang saling berhadapan. Keduanya saling berdiam diri, bagaikan dua orang asing yang tak saling mengenal, seakan terjebak dalam situasi canggung dan kehabisan kata-kata.


Irena memberanikan diri, mendongakkan kepala menatap mata suaminya. Sesaat terdiam, kemudian menjatuhkan diri ke pelukan Bryan.


"Bagaimana mungkin kamu bisa kesini disaat jam kerja, Mas? Kamu sungguh tidak profesional sebagai atasan."


"Sekeras apapun aku bekerja, aku nggak akan pernah fokus dengan keadaan kita saat ini, sayang. Aku sangat khawatir." Jawab Bryan, melingkarkan kedua lengan ke pinggang istrinya.


"Hei, look at me. Tersenyumlah sedikit." Ucap Bryan yang duduk tanpa berjarak dihadapannya.


Irena yang masih ingin terus berada di pelukan suaminya, langsung menoleh ke arah Bryan dan memberikan senyum terbaiknya.


Dibalas senyuman penuh arti dari bibir Bryan. "Nanti malam kita akan berangkat liburan ke Swiss. Lihat, pihak travel baru saja mengirimkan jadwal keberangkatan kita. Mereka langsung mempersiapkan semuanya, padahal baru saja aku menelpon mereka."


"Jadi tadi yang ditelpon Mas Bryan adalah orang travel." Batinnya.


"Sayang, kamu happy?" Tanya Bryan antusias.


"Nggak perlu jauh-jauh kesana Mas, di ruangan ini saja sudah cukup bagiku." Jawab Irena.


"Hem," Bryan menyentil kening istrinya yang selalu saja merendah diri.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku akan terus membahagiakan istriku bagaimanapun itu caranya."


"Ma ... maafkan aku, Mas. Gak seharusnya aku berkata kasar padamu." Ucapnya lirih.


Di ulurkannya tangan agar Bryan bereaksi untuk memegang tangannya, lalu berjanji dan berterima kasih dengan suara yang bergetar karna Bryan selalu mengerti dan sabar menghadapi sikap dan emosi berlebihannya belakangan ini.


"Aku ... melakukannya karna aku takut kamu tidak bahagia denganku, Mas." Punggung tangannya langsung bergerak cepat menghapus buliran air mata di sudut mata.


Dapat terlihat air mata itu terus mengalir tak bisa terbendung. Melewati pipi dan menggantung di dagu.


"Nggak papa, aku mengerti. Aku yakin kamu punya alasan melakukan semua itu, dunia pasti punya cerita lain yang lebih bahagia setelah kesakitan yang kini kita rasakan, Ren." Memeluk dan mencium lama kening Irena, berharap kesedihannya perlahan hilang.


Terdengar hembusan nafas Irena yang kasar setelah perasaannya jauh lebih tenang sekarang. Mengalihkan pandangannya kebawah, takut riasan di wajah yang rusak terlihat oleh suaminya. Tapi Bryan malah memegang wajah sendu itu dengan tangannya, menghapus air mata yang masih tersisa degan tisu.


"Jangan menangis seperti ini, kamu tau kan riasan di wajah kamu ini membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakannya." Candanya, membuat Irena terkekeh.


****


Dika tersenyum melihat Vanesha berlarian di rumput hijau terawat. Dengan pemandangan yang cukup bersih dan udara yang begitu segar. Ia memilih membaringkan tubuhnya di rerumputan dan memandangi langit pagi yang begitu cerah. Memejamkan mata untuk menenangkan jiwa dan pikiran yang sebenarnya masih saja sibuk bergulat.


"Sudah lama sekali aku tidak se-happy ini, Dik." Ucapnya, tapi ia melihat Dika sudah tertidur. Ia melanjutkan perjalannya untuk berkeliling disekitar, memakai handset memutar lagu favoritenya "Before you go, Lewis Capaldi".


"Hello ..." Seorang pria asing dengan lancang menarik tangan kanan Vanesha kemudian mengecupnya lembut.


Sontak Vanesha membelalakkan matanya, lalu menarik tangannya dari pria itu. Keadaan disekitar memang masih sangat sepi, karna masih pukul setengah tujuh pagi. "Are you crazy?" Teriaknya kesal.


Ia memilih berjalan dengan cepat setelah mengatakan kata-kata itu padanya. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan pria itu tidak mengikutinya. Tapi masih bisa dilihat dengan jelas, kalau pria itu memang mengikutinya. Vanesha mulai berlari sekuat tenaga untuk kembali ke tempat Dika. Menatap bingung sekeliling, mengingat sepertinya ini memang tempat ia terakhir kali bertemu dengan Dika, tapi tak ada seorang pun disana. "Sial, apa aku tersesat?" Gumamnya.


Vanesha terus berlari tergesa-gesa sambil sesekali menoleh kebelakang dengan panik. Tapi seseorang kembali menarik tangannya, namun ia berhasil melepaskannya dengan kasar. Lalu terjatuh diatas rerumputan dengan lutut tertekuk. "Awww!!" Pekiknya merasa kakinya seperti terkilir.


Rambutnya yang panjang terurai berantakan menutupi pandangannya, "Please, aku mohon jangan ganggu aku. Aku mohon!!" Teriak Vanesha ketakutan.


.


.


.


See you next 🤗

__ADS_1


__ADS_2