
"Cepat, Bi ..." Titah Dika yang sudah sangat takut dan gelisah memikirkan istrinya yang sedang di rumah sakit.
Dengan keadaan gelisah dan kekhawatiran yang berlebihan, Dika melajukan mobilnya sangat kencang. Ia tau itu akan membahayakan dirinya. Tapi Irena pasti sedang menungguku, pikirnya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di rumah sakit. Langsung ia memarkirkan mobil dan berlari menuju ruang UGD seperti yang sudah di beritahu oleh Bibi.
"Ren .. Irena ... Irena ..." Panggil Dika berharap akan ada sahutan balik.
Bukannya Irena yang menjawab melainkan Ibu Irena. "Dika ... Disini."
Dika merasakan ada sesuatu yang aneh dari wajah mertuanya itu, begitu pula orang yang ada di ruangan tempat Irena terbaring tapi ia tak terlalu memperdulikannya.
Saat ini istrinya yang paling penting, begitu juga dengan bayinya. "Ren, mas disini. Maafkan Mas karna terlambat untuk menemuimu. Maafkan Mas, sayang." Dika memegang erat tangan Irena mencium keningnya serta memeluk tubuh istrinya yang masih belum sadarkan diri, sembari menahan isak tangis yang tak sebenarnya tak mampu ia tahan.
"Bu, Irena kenapa Bu?" Tanya Dika sesenggukan.
"Irena Alhamdulillah baik-baik saja."
"Hanya saja ..." Ucapan Ibu Irena terhenti tak mampu melanjutkan karna air mata yang keluar deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Tiba-tiba suara keras menantang terdengar, yang pasti tak mengenakkan hati siapapun yang mendengarnya, "Kamu kemana aja? Kakakku harus berjuang untuk dirinya dan juga bayinya. Seharusnya kamu tidak mematikan ponselmu saat bersama dengan wanita pujaanmu itu. Dasar laki-laki zina!!!" Ucap Kania lantang karna tak mampu menahan emosinya.
"Memang ya, kalau dasarnya tukang selingkuh. Seterusnya akan begitu juga. Sudah aku duga dari awal, permintaan maaf mu hanya topeng. Topeng untuk menutupi kebusukan kalian berdua." Lanjut Kania.
Dika hanya bisa terdiam. Bagaimana adik iparnya itu bisa tau dengan apa yang terjadi semalam. Apa Rebecca yang memberitahunya. Entahlah, iya tak mau memikirkan hal itu saat ini. Yang terpenting adalah istri dan juga anaknya.
Lutut kaki kini terasa lemas, tak mampu untuk menopangnya. Akibat terlalu berat semua yang ada dipikirannya saat ini. Dan akhirnya Dika hanya bisa terduduk lemas dilantai bawah rumah sakit tepat disamping Irena.
"Bangun, Nak. Kamu harus kuat dan sabar." Ibu Irena masih saja menyemangati menantunya itu, menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Saat ini kondisi Irena lagi tahap pemulihan, tapi semuanya baik-baik saja. Dokter sudah menanganinya dengan baik."
"Tapi ... Bayi kalian ... Tidak bisa diselamatkan. Dokter harus memilih satu diantara keduanya. Memilih Irena atau bayinya."
"Jadi Ibu mengambil langkah memilih Irena untuk tetap hidup. Karna melihat kondisi bayi yang sangat tidak memungkinkan untuk bertahan juga didalam rahim Irena, jadi dokter juga menyarankan untuk tetap memilih Ibunya."
"Maafkan Ibu, mengambil langkah ini. Ini sangat berat buat kita semua. Tapi kita harus ikhlas. Semua sudah jalannya, gak ada yang perlu disalahkan kedepannya nanti." Ucap Ibu Irena sudah mulai tampak tenang untuk bisa menjelaskan.
Dika tak mampu berkata apapun. Pikirannya kacau, pandangannya terlalu berat untuk menatap ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Bayi kami dimana, Bu? Aku ingin melihatnya." Ucap Dika pelan.
"Lagi diurus sama dokter untuk dibersihkan, nanti juga dibawa kesini untuk diperlihatkan pada kita semua." Kata Ibu Irena.
Dika kembali berdiri, ia genggam tangan istrinya itu. "Maafkan Mas, sayang. Ini semua salah Mas. Maafkan Mas. Mas bukan suami dan juga ayah yang baik buat kalian. Hiksss ... Hikss ... Hikss ..."
"Bangun sayang, sebentar lagi anak kita akan datang. Kamu harus bangun, kita harus melihatnya bersama-sama untuk terakhir kalinya."
Semua diruangan itu masih bersedih dan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata yang terus terjatuh. Begitu juga dengan Bryan, walaupun ia seorang laki-laki yang biasanya bisa menutupi kesedihannya. Tapi kali ini ia tampak berbeda, terlalu naif baginya untuk tidak memikirkan wanita yang dicintainya itu harus berjuang sekuat tenaga di ruang UGD.
"Bagaimana nanti kalau kamu sudah sadar, Ren. Aku gak mampu harus melihatmu kesakitan seperti ini. Terlalu banyak cobaan yang harus kamu alami. Aku bodoh karna melepasmu. Aku bodoh karna tidak memperjuangkanmu."
"Kamu tidak pantas bersama dengan lelaki yang ada di sampingmu saat ini." Gumam Bryan dalam hatinya menahan emosi dengan mengepal kuat genggaman tangannya.
.
.
.
__ADS_1
*Haloo Readers. Episode yang sangat menguras hati ya kan. Othor yang nulis aja sampai ikutan ngeluarin mata air, ehh air mata maksudnya 😔
Soon, Irena harus jadi wanita strong dan happy ya. Kudu kuat dengan semua rintangan dan hambatan disetiap perjalanan hidup. Semoga kita semua bisa jadikan ini sebagai pembelajaran ya, harus strongggg !!!!*