Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 17


__ADS_3

Hanum baru saja keluar dari kamar, ia mendengar suara mesin motor Irena. Langsung saja ia menutup pintu kamar dan berjalan menuju pintu depan rumah. Terlihat Irena sedang siap-siap untuk pergi dengan pakaian gamis hitam dan hijab menutupi dadanya.


"Irennaa .. " Hanum mendatangi Irena.


"Astaghfirullah siapa yang meninggal Nak? Kamu mau melayat kemana?" tanya Hanum.


"Bukan siapa yang meninggal Bu, Irena hanya ingin datang ke makam Ayah saja. Irena ingin meminta maaf padanya, sejak Ayah meninggal dan sampai hari ini, Irena belum pernah datang mengunjungi makamnya. Mungkin dengan mendatangi Ayah, Irena jauh lebih tenang dan mendapatkan jawaban atas semua ini"


"Tapi kamu ingat kan Ren, hari ini keluarga Dika akan datang loh, jangan lama ya" pinta Ibu.


Irena hanya menganggukkan kepalanya.


"Irena pergi dulu ya Bu, Assalamu'alaikum"


Irena berpamitan dengan Hanum dan menyalaminya.


*****


"Assalamu'alaikum, Ayah. Iren datang nih. Ayah gak rindu sama Iren? Terima kasih ya Ayah udah datang ke mimpi Iren, senang banget rasanya. Maafin Iren baru sekarang datang nyekar kesini"


"Ayah, Iren bangga punya Ayah seperti Ayah. Iren tau Ayah itu orang baik, sayang banget sama keluarga. Mungkin memang semua ini sudah takdir kita ya, Yah. Iren selalu merasa bersalah banget tiap kali mengingat semua yang terjadi dengan Ayah. Coba saja Iren membuka pintu kamar itu Yah, mungkin kita ...."


Iren kembali meneteskan air mata nya, tapi untuk kali ini ia mencoba untuk menahan tangisnya, lebih tegar dan menghela napasnya dalam-dalam.


Ia nggak ingin terlihat cengeng didepan Ayahnya.


"You said i must be a strong woman. Yes, i'm here, Dad. Your little girl, really miss you so much"


"Oiya hari ini ada pria bersama keluarganya mau datang kerumah nih, Ibu pasti udah cerita ke Ayah kan soal perjodohan Iren. Iren harus gimana ya, Yah? Iren nggak mau buat Ibu kecewa dengan keputusan Iren yang salah"


Gadis itu menaburkan bunga-bunga yang sudah dicampur dengan air, begitu harum. Seperti yang biasa dilakukan orang-orang setiap kali menyekar ke kuburan.


Ia kembali pulang, tapi hatinya masih memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil nanti ketika keluarga Dika datang menemuinya.

__ADS_1


Saat dijalan menuju rumah, perutnya keroncongan, rasa lapar mulai bergejolak. Ia melihat kedai bubur ayam, letaknya tepat berada di persimpangan jalan rumahnya. Irena memarkirkan motornya. Dulu biasanya bubur ayam langganan Irena dan ayahnya. Sudah lama sekali ia tidak makan disana.


Dari jauh, saat sedang memarkirkan motor. Tukang bubur itu memperhatikan Irena terus-menerus.


"Eh, mbak Iren ya? Iya kan mbak Iren? Wah udah lama ya gak kelihatan, baru sekarang nongolnya mbak semenjaaakk ... Tidak tidak, Ahh sudahlah, mau pesan mbak? Makan disini atau bawa pulang?" tanya tukang bubur ayam kaget melihat kedatangan Irena.


"Hemm, iya nih Pak. Saya pesan satu ya makan disini, untuk dibawa pulang satu aja entar sehabis saya makan ya" jawab Irena.


Dari meja sebelah terdengar suara berbisik-bisik.


"Eh, itu kan anaknya Pak Bayu ya kan? Pak Bayu nya udah meninggal, mati ditembak polisi. Dengar-dengar sih karna dia Mafia Narkoba, buronan. Gempar banget ceritanya, udah lama sih 10tahun lebih. Tapi anaknya baru-baru ini aja sih kelihatan. Kasihan banget memang, didepan anaknya itu tuh ditembaknya"


Irena yang sekilas mendengar itu semua, hanya bisa terdiam. Ingin rasanya menangis tapi itu tidak mungkin dihadapan mereka. Ia mencoba tegar pura-pura tidak mendengarnya. Ia jauh lebih kuat dibandingkan hari-hari yang lalu.


Gadis itu coba menenangkan diri, menarik nafas perlahan dan membuangnya pelan-pelan. Tidak memperdulikan apa yang dikatakan mereka.


"Tenang Ren, tenang. Kamu harus tenang. Bodoh amat lah apa yang dikatakan mereka. Stay cool ajee .." gumam Irena hingga nggak terasa sampai di suapan terakhir, kemudian ia meminta satu porsi dibungkus untuk dibawa pulang.


"Siap mbak, bentar ya" jawab tukang bubur.


*****


Irena memilih baju apa yang akan dipakainya. Karna Ibunya bilang kalau keluarga Dika sebentar lagi sampai. Walaupun ia tidak setuju dengan perjodohan ini, bukan berarti ia tampak jelek didepan mereka. Malu-maluin dong.


"Kringg ..."


"Kringg ..."


"Rudiii?" ucap Irena bingung.


"Assalamu'alaikum Ren, kamu mau dibawakan apa? Aku mau otw nih kerumah kamu. Kamu cuti libur kan"


"HAHH! Rudi? Ya Allah, mana mungkin dia kesini. Kasihan amat anak orang kalau tau akan ada pertemuan dengan keluarga Yudi ngomongin masalah nikah"

__ADS_1


"E-eh nggak usah Pak, gak usah repot-repot. Saya... saya ... Saya mau pergi sama Ibu hari ini. Nggak usah ya"


Sangking gugupnya takut Rudi datang, ia sampai lupa menjawab ucapan salam dari Rudi.


"Oh mau pergi ya? Biar saya anterin ya, kebetulan saya gak ada kerjaan nih dikantor. Boring juga gak ada kamu" ucap Rudi


"Nggak usah Pak, nggak usah ya. Eh Pak,saya dipanggil Ibu nih. Udah dulu ya, Assalamu'alaikum" Irena pura-pura dipanggil Ibunya dan langsung mematikan telepon dari Rudi.


" Tapi saya sudah bawakan ko..piii.. Wa'alaikumsalam" jawab Rudi yang belum sempat melanjutkan perkataannya.


"Yah kok dimatiin sih, belum selesai juga bicara. Memang gadis aneh, hemm Ren Ren. Kayaknya ini kopi aku antar aja deh kerumahnya, sayang juga kan udah keburu dibeli"


Rudi tetap melanjutkan perjalanannya kerumah Irena, tapi ia hanya bermaksud untuk mengantar kopi saja.


Setibanya didepan rumah Irena, Rudi melihat beberapa mobil parkir tertata rapi. Ia bertanya-tanya ada apa dirumah Irena. Ingin rasanya bertanya dengan orang sekitar pikirnya.


Ia berhenti dibelakang salah satu mobil yang terparkir dan mematikan mesin mobil. Ia turun dan memanggil salah satu orang sekitar yang ia nggak tau kalau orang itu adalah kakaknya Dika, Arini.


"Permisi mbak, didalam ada acara atau apa ya. Rame banget kayaknya" tanya Rudi.


"Oh iya, nggak ada acara apa-apa sih. Cuma pertemuan keluarga doang, silaturahmi. Mas siapa ya? Keluarganya Irena?" tanya Arini balik.


"Oh bukan, saya temannya. Tadinya mau kasih kopi ini, tapi kayaknya lagi rame banget. Nggak enak juga saya masuk kedalam"


"E-ee ini mbak, tolong kasihkan ya. Kalau ditanya dari siapa bilang aja dari Agung. Terima kasih ya mbak"


"Oh iya Agung ya, AGUNG! Sama sama mas" jawab Arini.


Tanpa berpikir panjang, Rudi langsung kembali masuk kedalam mobil. Melihat semua itu, Rudi begitu sakit hati. Apalagi begitu banyak keluarga Dika yang datang kerumah Irena, itu artinya Irena dan Dika akan segera menikah.


Rudi hanya terdiam sembari memperhatikan orang-orang masuk berdatangan kerumah Irena.


"Ren, mungkin Allah memang mentakdirkan kamu untuk menjadi cerita yang berakhir dengan cara yang nggak bisa aku duga. Sudah seharusnya dari dulu aku mundur dan menjauh dari cinta yang nggak seharusnya aku simpan didalam hati. Bersikap sewajarnya dan sebisa mungkin mengikhlaskan kamu untuk Dika" Rudi berkata dalam hatinya sembari melihat foto-foto dirinya dan Irena di album galeri handphone yang diberi nama OTW Wife.

__ADS_1


__ADS_2