Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 129


__ADS_3

"I love you ..." Bisik Bryan ke telinga istrinya.


Irena tersenyum begitu mendengar ucapan itu, dan kini berbalik menciumi bibir pria itu. Melakukannya kurang lebih lima menit dengan tangan yang bergerilya kesana kemari. Bryan terus saja menyerang tubuh istrinya dengan penuh gairah tanpa penolakan sedikitpun dari yang punya.


Malam ini terjadilah pertempuran yang seharusnya mereka lakukan sedari tadi. Menikmati malam yang penuh gairah dengan perasaan menggebu-gebu.


*****


Irena memerhatikan suaminya yang sedang tidur. Ia teringat akan wanita yang hadir di acara pesta pernikahannya. "Siapa wanita itu? Ada hubungan apa dengan Bryan? Bagaimana kalau wanita itu berniat menghancurkan rumah tangga kami dan merebut suamiku."


"Suami? Hahaha. Nggak nyangka banget." Irena menggeleng.


"Hm! Nggak usah aneh-aneh kamu. Aku mendengar semuanya." Ucap Bryan membuat Irena berdecak.


"Oh kamu sudah bangun tapi pura-pura tidur!" Kesalnya.


"Mas, kamu kemarin kan sempat menghilang alias memalsukan kematian kamu. Jadi kamu kemana saat itu?" Tanya Irena bertanya masa lalu mereka.


"Aku ke Jerman, kerumah orang tua ku. Ya, aku terpaksa karna sepertinya kamu lebih bahagia dengan perjodohan kamu dengan Dika. Jadi aku nggak mau aja merusak semuanya." Lirihnya.


"Hem, terus saat di Jerman kamu ngapain aja?" Tanyanya lagi.


"Aku? Ya, yang pastinya memulihkan kesehatan ada sekitar hampir satu tahun. Terus aku balik lagi ke Indonesia. Papa minta aku untuk tetap stay di Jerman nerusin bisnisnya, tapi aku tolak." Jelasnya.


"Hem ... Terus?"


"Terus apa? Terus ketemu kamu lagi lah. Mungkin kalau aku gak ketemu kamu, ya kita gak bisa jadi seperti sekarang ini." Peluk Bryan.


"Enggak, maksud aku sebelum kamu ketemu aku lagi. Ada ketemu wanita lain atau siapa gitu?" Tanyanya lagi masih penasaran.


"Maksud kamu?" Bryan bertanya balik dan mulai curiga kemana arah pertanyaan Irena.


"Wanita itu yang nangis-nangis meluk kamu. Siapa?" Tanyanya pelan.


"Oh, itu Vanesha. Sahabatku dari SMP. Udah dekat banget sih, udah seperti adik bagiku. Cuma ada sedikit salah paham aja diantara kami."


"Yang kemarin aku bilang ke kamu, wanita itu ya Vanesha. Cantik banget kan?" Tanyanya sengaja membuat Irena kesal.


"What? Kamu bilang cantik banget? Gak salah tuh!" Irena mulai kesal.

__ADS_1


Bryan terkekeh, "Hahahaha. Enggak dong, istri aku yang paling cantik pastinya. Angelina Jolie aja tereliminasi ..." Godanya sembari memeluk erat tubuh polos istrinya yang sedang berselimutkan kain tebal.


"Mulai deh, gombalnya." Balas Irena.


"Ya, aku cuma takut aja sih. Kamu tau sendirilah."


"Enggak, Vanesha bukan wanita seperti itu. Dia wanita baik dan sangat dewasa. Aku sangat mengenal seperti apa dia." Jawaban Bryan sedikit menenangkan kekhawatiran Irena.


"Dari pada kita mikirin orang lain, mending kita mikirin gimana caranya biar kita sehat-sehat dan punya tenaga ekstra terus tiap hari untuk ..."


"Untuk apa?" Irena melirik tajam.


"Ya, untuk bertempur ... Siap bertempur kapanpun dan di manapun, biar cepat punya bayi maksud aku. Hahahaha." Kekeh Bryan.


"Apaan sih, Mas. Kalau mau lanjut lagi bilang aja. Gak usah berbelit-beli ih!" Irena menutup wajahnya dengan selimut itu.


Suasana hening sebentar, lalu Irena kembali membuka selimutnya. "Loh, ayok! Tapi katanya mau tempur lagi kapanpun dan di manapun. Kok malah diam, aku nungguin loh!"


Dika tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang dengan sengaja mempermainkannya, "Hem, ternyata kamu nungguin didalam ya? Yasudah ayok!" Bryan menarik selimut dan langsung melakukan pertempuran kembali hingga akhirnya keduanya sampai benar-benar lelah.


Malam semakin larut, cahaya bulan pun mulai bersembunyi dibalik awan hitam. Para manusia pun bersiap untuk menyelami alam mimpi mengharapkan bunga tidur yang paling indah. Namun, berbeda dengan pengantin baru ini. Baru satu hari menggelar acara pesta di Jerman, seharian ini mereka tidak berniat sedikit pun untuk keluar kamar atau hanya sekedar untuk berjalan-jalan berkeliling hotel.


*****


Irena terbangun dari pertempuran yang cukup panjang mereka lakukan. Mengedipkan mata berkali-kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ingatannya kembali akan apa yang mereka lakukan seharian kemarin saat melihat tangan yang melingkari perutnya. Dengan tangan satunya dijadikan bantalan untuknya.


Wanita itu mendongak keatas melihat wajah Bryan yang masih tertidur pulas. Ia teringat bagaimana Bryan memperlakukannya begitu sangat lembut membuatnya terus melayang penuh kepuasan.


Kisah yang berawal dari perpisahan kini kembali hingga menimbulkan benih-benih cinta. Semua itu terjadi karna ketulusan cinta Bryan padanya. Tak ada yang tau bagaimana sulitnya kisah hubungan Irena dan Bryan, seperti cerita di novel-novel.


Bryan terbangun dengan senyuman dan tatapan melihat Irena masih berselimut sebatas dada, "Kenapa melihatku seperti itu? Mau ngajakin mandi bareng ya?" Godanya, sembari merapikan rambut Irena yang berantakan.


Pipi Irena memerah, "Ih! Sendiri-sendiri aja!" Ketus Irena.


"Nggak mau dapat pahala ya?" Tanyanya seakan memberikan pertanyaan yang siapapun nggak akan bisa menolak kalau ditanya seperti itu.


"Ya, maulah ..." Jawabnya pelan.


"Nah, yaudah apa lagi kalau begitu. Setelah itu biar kita sarapan kerumah Papa Mama." Ucapnya.

__ADS_1


Irena berteriak terkejut, "Aaaa!!!" Karna Bryan menggendongnya, membuat selimut yang menutupi tubuh Irena terjatuh dan kini mereka berdua tak memakai sehelai benang pun. Irena yang masih saja malu, menenggelamkan wajahnya ke dada kekar Bryan. Merasa malu pada cucuran air shower yang membasahi tubuh.


Setelah mandi, Bryan langsung mengambil hair dryer dari lemari. Membantu mengeringkan rambut, saat Irena baru saja melepas lilitan handuk di kepalanya. "Sini, Mas bantu." Ucapnya membuat istrinya merasa terbang melayang diperlakukan istimewa seperti itu.


"Kamu bahagia sekarang?" Bryan tersenyum.


"Aku nggak ingin bahagia hanya untuk sekarang Mas, tapi untuk selamanya. Kamu berjanji?" Tanyanya balik.


"Tentu saja. Tanpa kamu minta, aku pasti akan selalu membahagiakan istriku." Jawabnya. Mereka saling melempar senyum dari bayangan cermin.


*****


Kini keduanya bersiap untuk kembali ke Indonesia. Tapi sebelumnya akan singgah ke rumah William untuk sarapan pagi dan berpamitan. Meski terlambat datang kerumah William dari hari yang sudah ditentukan oleh William. Tapi William sangat mengerti bagaimana layaknya keadaan pengantin baru.


"Bryan ..." Panggilnya dengan suara manja.


Wanita itu berdiri, mempersilahkan Bryan untuk duduk di kursi yang ia sudah persiapkan. Tapi Bryan memilih untuk duduk di kursi yang lain. "Kok cepat banget sih kamu baliknya?" Tanya Vanesha.


"Hem ..." Jawab Bryan malas.


Irena yang berjalan ke arah dapur untuk membantu Rita, tersenyum senang mendengar jawaban itu. Rita menatap menantunya itu dengan senyuman bahagia, terkesima melihat sikap Irena yang membantunya.


"Nggak usah, sayang. Biar Mama aja yang siapin semuanya. Kamu tunggu di meja makan aja sambil ngobrol-ngobrol dengan mereka. Mama udah biasa nyiapin masakan sendirian." Ucap Rita nggak enak hati.


Irena tersenyum dan menggeleng, "Nggak papa Ma, Irena juga udah terbiasa bantuin Ibu kalau lagi masak di dapur."


Rita menghela nafas lega, "Baiklah, kalau begitu kamu aduk sayur sop ini dulu ya."


Vanesha melirik syirik Irena yang tengah mengaduk makanan. Saat tatapan mereka bertemu, Irena memilih acuh saja.


"Jaga Bryan ya buat aku ..." Bisik Vanesha saat berjalan mendekati Irena.


.


.


.


Wah, musuh baru Irena nih 😂

__ADS_1


__ADS_2