
Keesokan harinya mereka bergegas untuk pulang, tapi sebelum berangkat ke bandara, mereka sarapan terlebih dahulu untuk yang terakhir kalinya. Honeymoon kali ini benar-benar menyenangkan pada awalnya, walaupun pada akhirnya juga terjadi peperangan.
Selepas pulang dari honeymoon, Irena akan mulai menjalani harinya sebagai seorang istri yang sesungguhnya begitu juga dengan Dika sebagai seorang suami yang layaknya harus banyak bersabar menghadapi kewarasan istrinya.
Pasangan suami istri itu duduk di salah satu meja resto untuk breakfast. Walaupun mereka duduk di satu meja yang sama, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka padahal saat menuju resto keduanya berjalan beriringan.
Irena memilih beberapa makanannya sendiri untuk mengenyangkan perutnya. Dika sempat bertanya kepada istrinya itu mau diambilkan menu makanan apa tapi Irena hanya berjalan seolah tak mendengar ucapannya.
Dika tau apa yang harus ia lakukan, untuk sementara biarlah mereka tak saling berbicara membahas apa yang terjadi dulu. Biarkan Irena menenangkan dirinya hingga tiba di rumah nanti.
"Selamat pagi mas. Yakin mau pulang hari ini? Bukannya waktu kita masih panjang untuk disini ya? Apa ada masalah?" Ucap Ibrahim datang menemui mereka.
"Oh tidak mas. Everything's oke. Hanya ada beberapa hal yang sangat penting harus saya selesaikan di kantor" jawab Dika.
"Iya sepenting kamu ingin menemui wanita itu" gerutu Irena dalam hati.
"Oke saya sudah menyiapkan semuanya kok, mobil sudah ready di depan. Kalau sudah mau berangkat mas bisa telepon saya ya, biar saya bantu angkat barang-barangnya ke mobil." kata Ibrahim.
"Oke siap mas, terima kasih." Dika melemparkan senyumnya kepada Ibrahim.
__ADS_1
30 menit berlalu, Irena berjalan sendiri keluar dari resto. Dika dengan sigap mengikuti kemana arah istrinya berjalan. Ia mengira arahnya berjalan akan menuju kamar, ternyata Irena berjalan menuju pantai. Ia buka sendalnya, dan mulai berjalan berdampingan dengan deburan ombak kecil yang menyapa baik setiap langkah kecilnya.
Irena tau ada sosok Dika mengikutinya dibelakang, tapi ia tak memperdulikannya. Ia pandangi lautan pantai indah di hadapannya, ia coba merenungkan kenapa di awal perjalanan rumah tangga nya begitu rumit. "Apa aku mampu menjadi istri seorang Andika Mahesa? Ternyata masih banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya. Apa aku yang terlalu berharap lebih untuk bisa mendapatkan kehidupan seperti layaknya seorang ratu di cerita dongeng?"
"Aku kira setelah kepergian orang-orang yang aku sayang, suamiku mampu mengobati luka itu? Ternyata luka lagi yang aku dapatkan." gumamnya dalam hati.
"Aku begitu sangat merindukan mereka. Merindukan pelukan hangat mereka. Ingin rasanya waktu berputar kembali"
Saat Irena merenungkan segala isi hatinya, tiba-tiba saja Dika menarik tangannya dari belakang. Irena yang terkejut hilang keseimbangan dan akhirnya terjatuh kedalam air. Pakaian yang ia pakai basah, hanya hijabnya saja yang sedikit kecipratan air laut.
Saat hendak mencoba berdiri dan bermaksud ingin membalas apa yang dilakukan suaminya. Dari arah belakang Dika, Irena seperti melihat seorang pria berbadan kekar berkaca mata berdiri yang tak asing baginya. Ia perhatikan baik-baik pria itu, ia hapal betul siapa pria itu. Ia melihat Rudi disitu.
Dika yang mendengar teriakan Irena bingung dengan istrinya dan menoleh kebelakang. "Rudi?"
Irena berlari kearah pria itu. Saat berlari menuju kesana, pria itu malah pergi. Irena sudah kelelahan mengejar pria itu. Tapi iya yakin pria itu benar-benar Rudi. Ia sangat mengenali wajah itu.
Di setengah perjalanan pengejaran, Irena tersungkur di atas pasir. Langkahnya terhenti karna tersandung bebatuan kecil di atas pasir.
Irena mulai meneteskan air matanya yang tak sengaja keluar dari pelupuk matanya. Ia berharap itu benar-benar Rudi, pria masa lalu nya yang meninggal tepat di hadapannya, yang sangat ia cintai sampai saat ini bahkan ketika dirinya sudah menjadi istri seorang Andika Mahesa.
__ADS_1
"Hikss .. Hikss ..Hikss ..."
"Aku yakin itu kamu Rud. Kamu melirik ke arahku saat aku meneriaki namamu, tapi kenapa kamu pergi begitu saja seolah tak mengenalku. Aku yakin itu kamu Rudi. Hikss .. Hikss .. Hikss" ucap Irena lemas.
"Kamu pernah bilang kalau Allah mentakdirkan kita bertemu untuk menjadi cerita yang berakhir dengan cara yang tidak kita duga. Kamu salah Rud! Tapi Allah mungkin mentakdirkan kita bertemu untuk menjadi cerita awal kita kembali menjadi partner hidup dengan cara yang memang benar-benar tidak kita duga"
.
.
.
**Hikss .. Hikss .. Hikss...
Othor jadi ikutan sedih Ren, sini sini Othor peluk kamu 😔😔😔
Kepada Readers yang terhormat, dimohonkan untuk meninggalkan Like Komen dan Vote kalian ya, Othor selalu kasih peringatan nih ya kalau mau ceritanya Othor lanjutin HEHEHEHEE (justkidding)
😂😂😂**
__ADS_1