
"Memang aku yang memintanya untuk berpisah. Rasa sakit itu tumbuh menjadi rasa benci, aku selalu berdoa agar kami tidak dipertemukan lagi. Tapi sepertinya, takdir terlalu kejam padaku, Tuhan membawanya lagi ke hadapanku dengan cara yang nggak pernah diduga." Kata Irena.
"Sudahlah, sayang. Semua yang terjadi adalah takdir. Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri kalau harus kembali mengingat semuanya. Kalau kamu sedih, aku juga ikut sedih."
"Heii, kita disini untuk liburan. Kita sudah jauh-jauh kesini hanya untuk memikirkan itu, aku rasa itu tidak penting, bukan?" Jawab Bryan.
"Hem, aku juga nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku rasa yang terjadi ini memang sudah takdirnya. Aku kini bersamamu, jadi apa lagi yang harus aku khawatirkan. Pria yang sudah bersusah payah untuk menungguku dan pastinya sangat mencintaiku juga."
Kebahagiaan jelas terpancar dari raut wajah suami istri itu, mereka sangat antusias. "Ya, kamu memang benar. Aku adalah pria paling terbucin di seluruh dunia, karna kamu." Ia mengecup bibir merah muda yang ada dihadapannya.
"Baiklah, kalau begitu ... apa kita harus memulainya sekarang?" Bisik Bryan menggoda, lalu mengangkat wanita itu dan menjatuhkannya ke atas kasur. Tentu saja tanpa perlawanan sedikitpun.
*****
"Kamu sudah bangun?" Tidur Dika sepertinya terganggu saat mendengar isak tangis wanita yang sedang berbaring di sofa tepat diatas paha kanannya.
"Kenapa menangis? Kamu bermimpi buruk?" Tanya Dika, lalu Vanesha menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa kamu menangis?" Tanyanya lagi dengan begitu lembut, sembari mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Maafkan aku, Dik." Ucapnya tanpa berani menoleh ke arah Dika.
"Maaf kenapa? Aku sungguh nggak mengerti." Rasa khawatir dan penasaran semakin kuat.
"Semua ini salahku, seharusnya aku mencari tau tentangmu lebih dalam lagi. Aku mencintaimu tanpa berpikir panjang. Karna aku, kini kamu harus bertemu lagi dengan wanita yang sangat kamu cintai itu. Aku nggak mau kamu lebih sakit lagi, karna bagaimanapun kita pasti akan sering bertemu dengan mereka. Pasti itu akan jauh lebih menyakitkan untuk kita, Dik."
"Kamu nggak salah sayang, tidak ada yang salah untuk segala sesuatu yang sudah terjadi. Kamu sudah menjadi pasanganku yang terbaik, makanya aku memilih kamu untuk menjadi istriku."
"Aku nggak mau kamu terbebani. Aku menghancurkan hubungan kita yang sudah sempurna. Jika pilihan terbaik untuk kita adalah ber ..." Vanesha nggak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.
Dika melepas pelukan hangatnya, "Nesh, seburuk itu kah aku dimata kamu? Pria yang memilih pergi karena sudah bertemu kembali dengan mantan istrinya yang pernah dicintai? Maksud kamu gitu?" Ia begitu keras menahan emosinya, dan Vanesha hanya bisa menunduk dan menangis.
"Dik, aku hanya berfikir realistis." Lirihnya menangis tak terkendali.
__ADS_1
"Orang bilang, hidup itu tidak bisa selalu berjalan dengan sesuai yang kita impikan. Tapi kita bisa menentukan apa yang akan dilakukan setelah satu mimpi kita hancur. Aku percaya itu, dan kamu adalah bagian dari hidupku yang aku pilih setelahnya." Ucapnya menenangkan.
Dika kembali menariknya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Nesh. Karna membuat kamu berpikir seperti itu. Jujur, aku sangat takut. Aku hanya ingin semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Dan kamu adalah masa depanku." Keyakinannya begitu teguh menatap Vanesha.
"Sudah, kamu jangan nangis. Mulai sekarang jangan berpikiran ke belakang. Aku akan mengurus semuanya, aku yakin kita bisa melewatinya. Kamu dan aku harus bahagia."
"Kamu yakin?" Tanya Vanesha.
Tanpa ragu, Dika mengangguk. "Udah nggak sedih lagi kan? Ternyata kamu kalau nangis, semakin cantik ya. Kalau begitu ... sering-sering aja. Aku suka ..." Candanya.
"Ihh!!! Kamuuu!!!" Vanesha berteriak.
*****
Setelah beberapa hari di Jerman dan kini mereka semua sudah tiba di Indonesia. Menikmati liburan yang sangat menyenangkan di Swiss. Liburan yang awalnya dipenuhi kegelisahan dan kekhawatiran, akhirnya bisa teratasi dengan lancar sebagaimana mestinya.
Dika duduk di salah satu restoran mewah menunggu seseorang yang sangat berarti baginya. Separuh jiwa nya yang baru pulang dari tour terakhirnya. Setelah kepulangan mereka dari Jerman mereka belum ada bertemu, sudah satu minggu lamanya.
Karna kesibukan kekasihnya yang seorang model dan juga seorang designer dengan segudang jadwal pertunjukkannya yang harus keluar masuk negeri orang. Membuat mereka jarang bertemu, walau hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.
Seorang wanita masuk kedalam ruangan membuat dirinya tersenyum lebar. Wanita yang sangat cantik dalam balutan gaun berwarna biru gelap, sangat cocok dengan tubuh proporsionalnya.
Dika merentangkan kedua tangannya, tentu saja wanita itu dengan senang hati mendekatkan diri ke dalam pelukannya. Kerinduan dua insan yang padahal hanya satu minggu tidak bertemu. Melepas kerinduan lewat sebuah pelukan.
Setelah itu melepaskan kembali pelukan rindu dan menatap wajah cantik wanita yang ada dihadapannya dengan penuh cinta, "Kamu sangat cantik, sayang." Pujinya sembari mengecup kening wanita itu.
"Bukankan aku memang harus selalu terlihat cantik dihadapan mu?" Ucap Vanesha saat Dika menarik kursi untuknya, lalu duduk didepannya.
Seorang pelayan laki-laki datang dan menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Dika. Lalu pelayan itu melangkah pergi.
"Hem, kamu sangat teliti dengan apa yang aku suka ya sayang."
Dika melebarkan senyumnya. "Ya, dan kau tau ... Aku sudah mempersiapkan sesuatu yang lain juga untukmu."
__ADS_1
"O-iya, aku dengar acara kamu berjalan dengan sukses." Sambung Dika mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kamu juga harus tau. Mereka sangat antusias dengan project kerja ku." Jawab Vanesha dengan wajah antusias.
"Alhamdulillah. Aku juga turut senang mendengarnya, tapi maaf kalau aku gak bisa hadir di acara kamu yang luar biasa itu." Ucap Dika penuh penyesalan.
"Nggak papa sayang, aku sangat mengerti dengan posisi mu saat ini. Kamu pasti sangat sibuk mengurus butik yang mulai berkembang sangat maju. Congratulation for you, too."
Mendengar hal itu, Dika sangat senang sembari memandang penuh cinta wanita yang ada dihadapannya.
"Sayang ..." Teriak wanita itu sembari menutup mulutnya dengan jemarinya saat Dika mengeluarkan dan membuka sebuah kotak kecil berisikan cincin emas berlian yang sangat cantik dari saku jasnya.
Dika masih setia dengan senyumannya, memasang raut wajah cerah. Dia ambil cincin yang bertengger didalam kotak, lalu meletakkan kotak itu diatas meja. Ia raih jemari lentik Vanesha, kemudian memakaikannya ke jari lentik calon istrinya itu.
"Aku nggak ingin menunggu waktu yang lama untuk bisa menjalani hidup denganmu, Nesh." Ucapnya.
"Didepan semua orang dan dihadapan orang tuamu ..." Ucapan Dika terhenti karna Vanesha langsung memekik kaget.
"What? My parents?" Ia sangat kaget saat orang tuanya berjalan menghampiri dan berdiri tepat disampingnya.
"Aku nggak ingin kita terus menundanya. Aku juga ingin segera memilikimu seutuhnya. Izinkan aku untuk menjadi imam di hidupmu. Menjadi satu-satunya pria yang beruntung karna dicintai oleh wanita sempurna seperti mu."
"Vanesha ... Menikahlah denganku."
Vanesha masih menatap tidak percaya. Saat dirinya hendak menjawab, suara telepon berdering tertera nama Pak Axel, Direktur di tempat dirinya bekerja. Ia langsung menggeser tombol hijau saat menatap layar ponselnya.
"Hallo, Pak." Sapanya.
Mata Vanesha berbinar, bahkan semakin terlihat lebih berbinar setelah menjawab panggilan telepon itu dengan sangat antusias. Sementara Dika berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, membuka telinga lebar-lebar, sembari menatapnya diam.
.
.
__ADS_1
.
Hayoo, siapa lagi itu? 🤪