
Nasehat dan keinginan yang sering disampaikan oleh Ibunya, membuat dirinya memikirkan itu semua. Apalagi tawa dan harapan besar mereka yang begitu antusias terhadap dirinya yang menginginkan cucu setelah mereka pulang dari honeymoon membuat hati Irena sedikit melemah membuatnya tidak bisa menolak permintaan itu, dikarenakan juga ia sangat menyukai anak-anak.
Saat duduk termenung memikirkan itu semua sembari menyeruput kopi yang diberikan Kania, tiba-tiba Dika melihat kearah wajahnya.
"Are you okay?" tanya Dika yang juga menikmati kopi yang diberikan adik iparnya itu.
"Ha? Ya aku baik-baik aja. Cuma sedikit berpikir sebenarnya kita mau kemana? Kalau aku bertanya pasti kamu bilang surprise surprise, buat malas untuk bertanya lagi" kata Irena.
"HAHAHAHA jadi kamu termenung mikirin itu? Aku kira kamu lagi berpikir tentang ucapan orang tua kita tentang punya anak"
"Hemm baiklah, ini tiketnya kamu bisa lihat kemana kita akan pergi"
"What? Maldives, Oh God. Seriously?" tanya Irena sembari memberikan senyuman lebar diwajahnya.
"Thankyou, it's beautiful place. I'm so happy. It's my dream" ucap Irena sembari membuka kaca matanya, memeluk suaminya tiba-tiba.
"Aku senang melihat kamu bahagia seperti ini istriku, bagaimana? Aku gak salah pilih tempat kan? Mungkin kita akan lama disana? Bisa sebulan dua bulan bahkan lebih kalau kamu mau, sampai aku bisa mencetak gol dan membawa piala kemenangan sebelum kita balik ke rumah" jawab Dika.
Irena yang mendengar itu, sontak langsung melepaskan pelukannya. Pipinya mulai merah merona, ia langsung menundukkan kepalanya ke bawah memakai kaca matanya kembali.
"Ehemm .. gak usah dibahas masalah itu. Buat mood ku jadi berantakan" ucap Irena lagi.
"Jangan malu-malu gitu dong, sama suami sendiri juga. Pokoknya kita harus rileks dan menikmati perjalanan kita ini. No perdebatan no pertengkaran, yang ada hanya keromantisan kita berdua layaknya pasangan baru menikah. Setuju? Janji?" tanya Dika mengacungkan jari kelingkingnya.
"E-mm ya kita lihat aja nanti. Aku gak bisa janji kalau masalah itu, tergantung kamu aja jangan sampai melewati batas"
"Ayolah! Disaat baru memulai honeymoon kita, kamu masih bilang batasan? Tapi katanya gak mau jadi istri durhaka. Tapi katanya takut dosa. Mana mana, cepat banget berubah pikirannya, kayak anak SMA aja labil"
Irena hanya melirik kesal tidak menjawab sepatah katapun, ia kembali menyeruput kopi yang ada ditangannya.
.
.
.
__ADS_1
Irena dan Dika sudah berangkat dan sekarang berada di atas awan. Selama perjalanan, Irena tidak berbicara dengan suaminya, ia memilih mendengarkan musik dengan earphone dan melihat awan dari balik jendela pesawat.
"Kamu sariawan? Mau minum?" tanya Dika yang sedari tadi memperhatikan istirnya tidak berbicara sama sekali dengannya.
Irena menoleh dan menggeleng kesal, ia coba menahan diri. Menahan diri dari ketakutan tapi bersikap seperti biasa saja, padahal jantungnya berdetak begitu kencang. Entah kenapa tidak seperti biasanya ia tiba-tiba saja merasa takut, takut pesawat yg mereka naikin akan jatuh.
"Bagaimana ya kalau pesawat ini tiba-tiba jatuh, disaat kebahagiaan mulai aku rasakan? Karna selama hidupku, setiap kali aku merasakan kebahagiaan selalu saja ada sesuatu yang terjadi. Entah itu kesedihan atau kematian"
Ia kembali menahan diri menepis segala pemikiran buruk, mengingat kejadian yang pernah terjadi selama ini.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka selama perjalanan yang sangat panjang, sampai pesawat landing di Bandara Ibrahim Nasir dan Male. Tentu saja disana sudah ada yang menunggu mereka, seorang laki-laki berusia dua puluh tahunan lebih memakai baju putih dan peci diatas kepalanya sembari memegangi papan bertuliskan Mr and Mrs Andika Mahesa langsung dihampiri oleh mereka.
"Mr. Andika Mahesa and Mrs. Shirena Indira?" tanya lelaki itu.
"E-iya saya Irena, panggil saja Irena dan ini suami saya Dika" jawab Irena dengan sopan.
"Suami? Wah mulai diakui nih kayaknya aku HIHIHII" gumam Dika dalam hatinya.
"Perkenalkan, saya Ibrahim" ucapnya menyodorkan tangan dan mereka dengan senang hati menanggapinya.
"Mas Ibrahim asli orang Maldives? Kok bisa bahasa Indonesia?" tanya Irena heran.
"Oh enggak, saya asli orang Indonesia. Cuma sudah lama sekali menetap disini bersama istri. Dan istri saya yang juga seorang tour guide disini" jelasnya.
"Em pantesan, saya heran aja" kata Irena.
"Biasalah mas, istri saya ini orangnya memang suka penasaran. Suka berpikir keras gitu, buat kepala sakit. Dimaklumi ya mas" ucap Dika tiba-tiba.
Ibrahim tersenyum, "Mau jalan sekarang?"
"Ah, iya" jawab Dika.
Irena yang masih kesal dengan ucapan Dika, memilih berjalan sendirian meninggalkan koper dan semua barang-barang bawaan mereka.
"Sini saya bantuin mas" kata Ibrahim sembari mengambil koper dan berjalan menuju mobil.
__ADS_1
Mereka menaruh barang-barang di bagasi mobil dan memastikan tidak ada barang satu pun yang tertinggal.
Irena memilih duduk didepan bersama Ibrahim, dan Dika duduk di bagian belakang.
"Ren, kamu kok ..." ucap Dika yang belum sempat melanjutkan ucapannya tapi Irena langsung saja masuk kedalam mobil bagian depan.
"Hem rasain biarin aja situ, biar tau rasa. Ngeselin sih!" gumam Irena.
Ibrahim menoleh dan tersenyum tipis melihat tingkah suami istri yang masih saja terlihat malu-malu.
"Mas sama mbak baru menikah ya?" tanya Ibrahim.
Irena tersenyum, "Kok bisa tau mas?"
"Kelihatan banget masih malu-malu"
"Istri saya kalau didepan orang pura-pura aja tuh mas, padahal kalau lagi dirumah agresif banget, tapi entar lama-lama juga gak malu lagi kok mas HEHEHEE" jawab Dika.
Mendengar jawaban Dika, sontak membuat Irena mengepal tangannya, meradang semakin kesal. Rasa lapar yang ia tahan saat sampai di bandara, membuat dirinya ingin segera memakan suaminya hidup-hidup.
"Wah cari ribut nih, tunggu pembalasanku. Dijamin akan minta ampun" gumam Irena.
.
.
.
Pembalasan?
Kira-kira apa nih yang akan dilakukan Irena dengan suaminya?
Wah, kira-kira pembalasan apa nih yang cocok Readers? HAHAHHAAA
See you in next story 😘😘
__ADS_1