
"Shirena Indira, dari mana saja kamu? Mas telepon kenapa gak diangkat?"
Irena baru saja pulang, Dika ternyata menunggunya. Pria itu tampak gelisah karna ini pertama kalinya sang istri pulang tengah malam dan susah dihubungi.
"Maaf, Mas. Aku lupa kasih kabar ke kamu kalau ada lembur di kantorku. Semua staff diminta untuk menyelesaikan deadline." Irena meletakkan tasnya ke atas meja makan dan mengambil minum.
"Lembur sampai tengah malam, Ren? Nggak masuk akal." Dika tidak begitu percaya.
"Bukankah di perusahaanmu juga sering melemburkan karyawan? Kamu sendiri bahkan sering pulang pagi."
Dika benar-benar dibuat skakmat oleh Irena. Ia nggak bisa melanjutkan perdebatannya lagi karna harus menelan kebohongannya sendiri bulat-bulat. "Oh ... Aku khawatir, sayang. Kamu pulang selarut ini pasti sangat melelahkan." Dika mendekati Irena.
Tapi Irena menghindar, "Iya, aku sangat lelah. Rasanya ingin langsung tidur. Kamu juga harus tidur, ini sudah malam." Irena pergi meninggalkan Dika.
Tak lama setelah Irena masuk ke kamar, Dika pun mengikutinya. Terlihat Irena sudah masuk kedalam selimut dan tidur membelakangi. "Kenapa kamu berubah, Ren. Aku merasa kamu semakin jauh sekarang." Lirihnya pelan.
Irena tidak benar-benar tidur, ia masih bisa sedikit mendengarnya.
Terdengar suara langkah kaki berjalan semakin menjauh, seiring dengan pintu yang ditutup dari luar. Irena diam-diam turun dari ranjang, membuka sedikit pintu untuk melihat sedang apa Dika diluar. Suaminya masuk ke ruang kerjanya, membuat Irena merasa penasaran untuk apa ia masuk kedalam sana tengah malam begini. "Jangan jangan ...." Pikirnya.
Irena mendekati pintu ruangan itu dan menempelkan telinganya disana. Samar-samar ia mendengar suara wanita disana, "Jadi selama ini apa dia sering menyimpan selingkuhannya didalam sana?"
"Irena sudah tidur?" Tanya wanita itu.
"Dia kelelahan." Jawabnya.
"Baguslah. Kamu yakin Mas, kalau tidak terjadi apa-apa hingga ia bisa pulang selarut ini?" Tanyanya lagi.
"Itu nggak begitu penting. Semakin sering ia diluar rumah, semakin banyak waktu kita berdua disini."
Tawa Rebecca terdengar.
Irena mengepal kedua tangannya, "Kalian pikir bisa terus seperti ini?" Irena kembali ke kamarnya dengan senyum yang sangat sinis.
*****
Dua bulan pun berlalu. Irena dengan sengaja membiarkan Dika dan Rebecca bersenang-senang, sementara dirinya mendekam dikamar seolah-olah tidak tau segalanya.
__ADS_1
Meski begitu ada luka yang menganga dihatinya, dia nggak bisa begitu saja merelakan apa yang menimpanya saat ini. Hari sudah malam, Irena masih duduk di balkon kamarnya, sedang melamun.
Ting!
Dari Bryan, "Jangan sedih, mereka tidak layak diatas air matamu. Kuatlah, sebentar lagi aku akan membantumu untuk menghancurkan mereka."
Irena tersenyum membaca itu, dan mengucapkan thank you lewat gerakan bibirnya.
Telepon berbunyi, ada panggilan masuk dari Bryan.
"Hai, mereka ada dibawah." Beritahu Irena lirih.
"I know. Mereka benar-benar bajingan, bukan? Disaat istrinya ada dirumah, dia bersama wanita lain di ruangan kerjanya. Dirumah kalian."
"Apa yang harus aku lakukan, Bryan? Rasanya aku udah nggak tahan ingin memaki mereka."
"Tahan, Ren. Kamu nggak perlu melakukan apapun, cukup menjadi penonton."
"Sampai kapan?" Tanya Irena lirih.
"Kenapa kamu sangat baik, Bryan?"
"Karna aku masih sangat mencintaimu." Jawab Bryan.
Irena tidak terlalu kaget, Bryan sering mengatakan itu padanya.
"Saat ini juga aku sangat ingin datang dan membawamu pergi jauh-jauh dari laki-laki sialan itu."
Irena hanya bisa tertegun mendengar setiap ucapan yang Bryan lontarkan untuknya.
****
Bangun pagi, Irena memilih untuk tidak bekerja hari ini. Dia bersantai diatas balkon, menyesap kopi dan men-scroll dari atas kebawah di laman instagram yang penuh dengan berita para artis yang berselingkuh dan melakukan tindakan KDRT.
"Kamu disini rupanya, aku mencarimu kemana-mana." Dika mendaratkan ciuman ke puncak kepala istrinya.
"Kamu udah bangun? Aku libur hari ini, apa kamu ada waktu untukku?" Tanya Irena tanpa menunjukkan ketertarikan.
__ADS_1
"Maafkan Mas, sayang. Semalam Mas tidur di ruang kerja, banyak sekali yang harus dikerjakan. Sampai-sampai kepala ini mau pecah rasanya."
Irena tersenyum sinis, tapi Dika tidak melihatnya. "Nggak apa-apa, Mas. Aku bisa mengerti, itu sebabnya aku gak mau berharap lebih padamu." Ketus Irena, sembari menyesap kopinya lagi.
Dika tampak heran dengan sikap Irena yang tidak seperti biasanya, tapi ia masih terlalu bodoh untuk menebaknya. "Baiklah, Mas akan ke kantor."
"Kamu akan lembur lagi?"
"Sepertinya iya."
"Yasudah, kamu harus makan dengan teratur, Mas. Pekerjaanmu sangat menguras tenaga, jangan sampai sakit."
"Pekerjaan memberikan kepuasan kepada wanita selingkuhan mu yang hypersex, kurang kasih sayang dari suami aslinya. Makanya sampai merebut suami orang untuk melampiaskannya." Ucap Irena dalam hati.
"Terima kasih, sayang. Mas pergi dulu ya." Dika kembali mencium puncak kepala Irena, dan pergi keluar.
Irena mengangkat cangkir kopinya, menyesapnya lagi kemudian tersenyum sinis. Dika yang bodoh akan segera mendapatkan ganjarannya, gumamnya.
*****
"Tidak mungkin, tidak mungkin. Tidak."
"Bastian tidak mungkin melakukan hal itu, dia tangan kananku." Dika mengambil ponselnya dan mengubungi nomor Bastian. Sialnya, sudah tidak aktif.
"BASTIAN!!!" Teriak Dika dengan sangat keras.
"Cari bajingan itu sampai ketemu!!!" Titahnya.
.
.
.
Nahloh, kenapa lagi ini dengan Bapak Andika Mahesa. Pagi-pagi udah buat Readers terkejut aja ya kan, hahahaa. Apa yang terjadi? Jangan-jangan bendera perang sudah mulai dikibarkan nih 😂😂
See you next, Readers 💙
__ADS_1