
Irena sedikit kaget saat tiba-tiba Dika memeluknya dari belakang. Dia pikir suaminya itu akan pulang larut malam lagi seperti biasanya.
"Dasar pria brengsek! Aku tau Rebecca sedang ikut bersama Jhonatan keluar kota, makanya kau membutuhkan tempat pelampiasan ditempat lain."
"E-tumben kamu sudah pulang, mas." Sindirnya.
"Aku ingin bersama istriku malam ini." Bisik Dika sembari memeluk Irena semakin erat.
"Hemm, kamu sudah makan?" Irena melepaskan belitan tangan Dika dan menghadap ke arahnya.
"Belum, aku sengaja mengosongkan perutku agar bisa makan malam bersama kamu."
"Oh, ya. Kenapa gak mati kelaparan aja sih." Gumamnya dalam hati.
"Kalau begitu, ayo kita makan." Ajaknya.
Baru saja Irena akan melangkah, pergelangan tangannya tertahan oleh Dika. Pria itu memeluk pinggangnya dan tanpa aba-aba langsung mendaratkan ciuman. Tidak ada balasan dari Irena, tapi ia malah mendorong dada Dika agar berhenti dan menjauh. "Kita makan dulu, Mas. Aku sudah lapar nih." Ajaknya sebagai alibi.
Dika menatap Irena lekat, berusaha mencari sesuatu yang masih menjadi misteri dalam benaknya. "Sayang, kenapa aku merasa kamu berubah setelah pulang dari rumah Ibu? Apa kamu sedang menghindariku?"
Irena terkekeh, "Memangnya apa yang berubah? Bukannya selama ini kamu yang sering menghindar, Mas." Ucap Irena penuh sindiran.
"Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja." Dika tak ingin membahasnya lebih jauh lagi karna takut akan menjadi boomerang baginya, bisa-bisa Irena mengorek habis tentang semua perbuatannya selama ini.
"Ayo kita makan." Dika merangkul pundak Irena.
Irena mengikuti langkah Dika.
Diruang makan, Dika sok romantis pada Irena. Mulai dari memasangkan celemek, menuangkan minum, serta menghapus jejak sisa makan yang menempel disudut bibir. "Sudah lama sekali rasanya kita nggak makan berdua seperti ini."
"Karna kamu selalu sibuk." Ketus Irena.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Mas memang salah. Tapi mas janji, mulai sekarang Mas akan menghabiskan waktu lebih banyak sama kamu, dan akan mengurangi waktu lembur." Dika menggenggam tangan Irena.
Jika Irena belum mengetahui tentang semua perselingkuhan yang dilakukan suaminya, pasti saat ini dirinya sudah meleleh dengan sikap suaminya itu. "Mas, sepertinya aku sudah mengantuk. Lelah banget hari ini dikantor. Aku naik keatas duluan ya."
"Kamu sakit? Baiklah nanti Mas akan menyusul." Ucap Dika.
*****
Irena baru saja menarik selimut ke batas dada dan berniat untuk tidur, tapi tiba-tiba Dika tetap saja menginginkannya. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu, sungguh-sungguh sangat menyebalkan malam ini.
"Mas ..." Irena memalingkan wajah saat Dika hendak menciuminya. Dia benar-benar merasa jijik.
"Kenapa sayang?" Dika yang belum mengerti tetap berusaha mendapatkan Irena.
Demi apapun, Irena benci deru nafas Dika yang menandakan pria itu sedang bersemangat. Dia teringat disaat bagaimana Dika menyentuh Rebecca dengan tubuhnya itu, dan sekarang pria itu berniat menyentuhnya. "Tidak akan aku biarkan, Dik!"
"Mas, please ... Aku lagi gak mood." Irena mendorong tubuh Dika untuk menjauh.
"Nggak akan berhasil, Mas. Karna aku lagi tidak dalam mas subur, jadi kurang mood aja untuk melakukan itu." Irena menunjukkan ketegasan atas penolakannya dengan tidur membelakangi pria itu dan pura-pura tidur.
Terlihat wajah penuh kecewa di wajah Dika dan ia pun nggak ingin memaksa. Ia pun masuk ke kamar mandi, untuk bersih-bersih sebelum tidur.
"Sekarang kamu akhirnya tau bagaimana rasanya di tolak kan, Mas?" Irena tersenyum begitu puas. Tak ada rasa bersalah sedikitpun dalam dirinya, karna Dika juga sering menyiksanya seperti ini.
Setelah Dika tertidur pulas, Irena justru nggak bisa tidur. Dia turun dari ranjang dan berpindah ke kamar lain yang ada dilantai bawah. Disaat bersamaan, Bryan menelepon.
"Kamu nekat banget ya menelepon aku." Tegas Irena.
"Karna aku tau kamu pasti lagi sendirian dan aku juga mengkhawatirkan mu." Terdengar kekehan Bryan disana.
"Darimana kamu tau?" Tanyanya.
__ADS_1
"Hemm, feeling aja."
Tanpa sadar bibir Irena menampilkan sebuah senyuman.
"Besok, kita akan meeting pagi. Jadi aku akan menjemput mu." Ucap Bryan.
"Kamu serius?"
"Yes, if you want."
Irena menggigit bibir bawahnya.
"Kalau kamu setuju, besok aku akan menjemputmu, dan kita akan bicarakan semuanya lebih lanjut nanti."
"I will consider."
"Aku yakin kamu nggak akan menyesal, karna sebentar lagi perusahaan suamimu akan aku ambil alih, jadi sebaiknya kamu bersiap dari sekarang."
"Kamu sangat jahat, Bryan."
Bryan hanya tertawa, begitu juga dengan Irena.
.
.
.
*Haha akhirnya Bryan ikut andil dalam pembalasan dendam Irena ya, hahaha. I support you, Bang Bryan 🤗*
See you next, Readers 💙
__ADS_1