
"Pagi Mas Dika", sapa Ibrahim saat bertemu Dika yang sibuk mencari bubur untuk dimakan Irena.
Dika tersenyum, "E-pagi Mas Ibra, bisa minta tolong?"
Ibrahim mengerutkan dahi, "Buat siapa mas?" tanya Ibrahim.
"Buat istriku, sepertinya ia kelelahan. Sepertinya sakit juga. Saya mencari bubur kemana-mana tapi tidak melihatnya, kira-kira ada disini gak ya?"
Dika sedari tadi berkeliling mencari bubur tapi tidak melihatnya.
Ibrahim terkekeh, "Mas mungkin terlalu khawatir sampai-sampai tidak melihat kalau didepan mas itu bubur loh mas"
"Astaga, kenapa saya tidak melihatnya ya? Mungkin mas benar, saya memang sangat mengkhawatirkannya mas" ucap Dika sembari menepuk jidatnya.
Bubur itu terlihat menggugah selera, ia yakin Irena pasti akan dengan sangat lahap memakannya. Dika langsung membawakan bubur itu pada Irena.
"Kamu pasti kelelahan, makan dulu." Dika mendekat pada Irena sembari membawa semangkuk bubur untuk disuapi kepada Irena.
Irena bangkit dari tidurnya dan duduk ditepi ranjang. Satu suap dua supa ia nikmati, suapan berikutnya ia menggeleng mengisyaratkan untuk berhenti memakannya.
"Cukup, aku sudah tidak berselera. Kamu saja yang makan." ucap Irena yang tak mau lagi memakan bubur yang diberikan Dika.
"Jadi kamu mau makan apa sayang?" tanya Dika.
"Terserah."
"Roti? Susu? Atau salad? Atau apa saja tapi ku mohon katakanlah"
__ADS_1
Irena terus menggeleng setiap apa saja yang ditawarkan suaminya. Berkali kali mengucapkan kata terserah, membuat Dika bingung. Hingga akhirnya Dika memesan banyak menu makanan kepada pelayan yang ada di penginapan mereka tinggal. Kini kamarnya benar-benar penuh dengan makanan. Irena bermaksud untuk mengerjai Dika setelah apa yang terjadi kemarin, tapi tak dipungkiri ia juga merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan suaminya itu begitu memperhatikan dirinya.
Mereka sibuk memakan setiap makanan yang ada dihadapan mereka. Saat tengah sibuk makan, tiba-tiba ketukan pintu kamar berbunyi.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Dika berjalan kearah pintu dan membukanya. Terlihat Ibrahim sedang berdiri dan Dika pun mempersilahkannya untuk masuk.
"Wah ada acara apa nih? Sepertinya bukan waktu yang pas untuk saya datang kesini HIHIHII" kata Ibrahim dengan respon heran melihat begitu banyak makanan tertumpuk diatas meja.
"Mba Irena masih sakit?" tanya Ibrahim lagi.
Ibrahim tersenyum, "Hari ini mau keliling atau libur lagi Mba? Karna kan kemarin kita juga belum ada keliling pulau. Sedari tadi saya juga coba hubungi ponsel mas dan mbak Irena pada gak aktif."
"Libur aja dulu mas. Sekarang gantian Irena yang sakit" jawab Dika dengan sigap.
"Yaudah mas, oke deh. Kalau ada perlu apa-apa tolong hubungi saya ya. Jangan sungkan sungkan. Kalau hari ini libur, saya mau ketemu istri sama anak mau bawa jalan-jalan"
"Hemm iya gak papa mas, kita nggak papa kok. Semua aman terkendali", jawab Irena sembari tersenyum dan berkata kembali, "Titip salam kenal kami buat mereka ya mas"
"Siap mbak, kalau begitu saya permisi pergi dulu ya"
Saat hendak melangkahkan kaki beberapa langkah, Ibrahim berbalik, "O-iya mas, tadi dari pihak hotel bilang kalau ada telepon dari Rebecca. Dari tadi malam nelponin terus"
__ADS_1
Dika melirik ke arah Irena, terlihat jelas raut wajah tak suka yang di pancarkan kedua bola mata istrinya.
"Oke, iya mas. Terima kasih infonya ya" jawab Irena menahan kesal sembari memberikan senyum terpaksa.
"Kenapa jadi istriku yang menjawab, bisa perang dunia nih. Bakalan terjadi pertumpahan air mata lagi. Ya Tuhan, tolong diriku" ucap Dika dalam hati sembari menggaruk kepalanya.
Ibrahim keluar dari kamar didampingi Dika, saat Dika kembali mendekati Irena. Irena sudah dalam keadaan tertutup selimut. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut istrinya. Makanan yang Irena makan pun terhenti saat dengar nama itu karna merasa kesal.
Ia menyadari saat ini istrinya pasti benar-benar kesal lagi padanya. Ada sesuatu hal yang tak bisa ia jelaskan sebelum semuanya selesai, walaupun hatinya sangat ingin sesegera mungkin menjelaskan pada istrinya agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara mereka. Dika berharap Irena sabar dan tetap mengerti dengan semua yang terjadi. Apalagi setiap hal yang berkaitan dengan nama Rebecca.
.
.
.
Haloo Readers!
Othor mau tanya nih? Kalau kalian lagi asyik-asyiknya honeymoon, trus ada wanita lain yang gak dikenal sibuk menelpon pasangan kalian, kira-kira apa yang akan kalian lakukan saat itu juga?
Wah, lapor polisi aja kali ya? Atau kita santet aja cocok tuh, HEHEHEE 😂
Minta like nya dong, yang view banyak tapi yang like sedikit, apalagi yg komen dan vote.
Jangan dilupakan dong!
Ingat semua itu loh yang buat Othor semakin semangat lanjutin cerita ini. Kalau kalian gak mau, nanti Othor lapor polisi juga ya?
__ADS_1
Hayoo gimana? 😂😂😂