
"Astaghfirullah Kia! Kaget!" ucap Irena.
"Fokus Ren fokus, kenapa sih? Bengong terus. Kenapa sih? Si Bos marah-marah lagi? Bukannya itu udah biasa, maklum aja deh faktor usia. Makanya kamu pacaran biar gak marah-marah terus dianya HAHAHAHAA" goda Azkia
"Aduh Kia! Aku penasaran deh sama pria yang dikenalin Ibu tadi malam. Masih bingung aja gitu. Sial terus hidup aku semenjak ketemu dia" ucap Irena.
Azkia sudah tidak heran dengan pria-pria yang sering dikenalin Ibu Irena. Hampir setiap pria yang ditemui Irena, Azkia pasti tau. Sebagai seorang sahabat, itu hal yang wajar diketahui.
"HAAA? Dijodohin lagi? Hebat Ibu kamu Ren, digas terus anaknya biar cepat ketemu jodohnya. udah pengen banget kayaknya punya mantu, gak heran juga sih lagian dengan umur kamu yang udah mulai bisa dikatakan agak-agak tua"
"Yaelah Kia, bukannya ngebantu kasih solusi malah ngeledek, gimana sih. Nyesel aku cerita sama kamu ihh!" gerutu Irena.
"Yah dianya malah merajuk, yowes cerita dulu dong. Gimana mau kasih solusi kalau asal muasal ceritanya aja aku nggak tau" tanya Azkia.
Irena mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Dika. Dan Azkia pun hanya duduk terdiam mendengarkan cerita Irena.
Tampak dari samping kaca jendela ruangan Irena, seseorang berdiri. Jelas itu membuat mereka bingung, siapa yang berani sekali menguping pembicaraan mereka.
Saat mereka mencoba melihat siapa seseorang yang berdiri disitu, tiba-tiba saja pintu ruangan Irena ada yang mengetuk.
Sontak membuat mereka terkejut dan terdiam.
"Sedang apa kalian? Ini waktunya bekerja, bukan waktu untuk ngegosip bercerita, ada-ada saja" kata Pak Chan dari depan pintu.
Azkia pergi meninggalkan ruang kerja Irena.
"Eh ada Bapak, kenapa ya Pak?" tanya Irena.
"Sore ini kamu pulang bareng saya saja, motor kamu tinggal saja dikantor. Titip saja kunci sama supir saya, nanti biar dia yang antar motor kamu kerumah" ucap Pak Chan sambil meninggalkan Irena.
Belum sempat bertanya mau kemana dan kenapa harus tidak bawa motor, Pak Chan sudah pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Irena.
Apa yang terjadi? Mau kemana sore ini? Membuat hati dan pikiran Irena bertanya-tanya.
__ADS_1
*****
"Pak ini kunci motor saya, helmnya ada dibawak jok motor kok, ada jas hujan juga manatau Bapak nanti kehujanan pas antar motor saya" ucap Irena.
"Siap Bu Ren! Laksanakan!" ucap Pak Supir.
"Sore ini katanya Pak Chan mau pergi sama Ibu, saya tanya mau kemana malah saya dimarahin. Emangnya mau kemana sih Bu? Gak biasa-biasanya loh si Bapak nyetir sendiri, bawa Ibu lagi" tanya Pak Supir.
"Hemmm ..." Irena hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Yaudah Pak, saya kedalam dulu ya. Nanti dikira si Bos kerja saya nggak beres, cerita-cerita mulu"
"Oke Bu, silahkan" kata Pak Supir.
Saat hendak masuk kedalam kantor, tiba-tiba saja Irena merasakan sakit di kepala dan perutnya. Ia nggak mampu menahan rasa sakitnya, apa mungkin karena belum sarapan pagi dan makan siang pikirnya. Seketika ia pingsan. Karyawan disekitarnya membawanya ke ruangannya.
Pak Chan yang berada didalam ruang kerjanya langsung melihat Irena dan membawanya langsung kerumah sakit terdekat.
"Ren, bangun Ren. Sadar Ren. Kamu kenapa? Bangun Ren"
Pak Chan tampak gelisah. Ia terus memanggil Irena, tapi Irena tak sadarkan diri juga. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu selalu membuat aku cemas, rasa khawatirku terlalu berlebihan sama kamu Ren, tolong jangan buat aku takut"
Sesampainya tiba di rumah sakit, Irena langsung dibawa keruang UGD untuk diperiksa.
Pak Chan semakin tampak gelisah menunggu hasil pemeriksaan dokter. Setelah beberapa menit menunggu, Dokter keluar dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Irena.
Saat dokter mulai menjelaskan, tiba-tiba saja seorang pria datang dan berkata "Bagaimana dengan Irena, Dok? Dia baik-baik saja kan?"
Ya pria itu adalah Dika.
"Dia baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya kelelahan saja, sepertinya dia belum ada makan dari pagi sampai sekarang, makanya dia merasakan pusing dan perutnya sakit. Sekarang dia sudah sadar dan sudah bisa untuk dilihat" kata Dokter.
"Oke terima kasih, Dok" ucap Dika.
__ADS_1
Dika masuk kedalam ruangan untuk melihat kondisi Irena yang masih terlihat lemas dan dengan tangan di infus.
Pak Chan ingin melihat Irena juga, tapi sudah ada Dika yang masuk terlebih dahulu. Pak Chan pun pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantor. Dia berpikir, sudah ada yang menemani Irena itu jauh lebih baik.
Irena hanya terdiam, ingin sekali rasanya berbicara kenapa Dika yang ada disini, sepertinya bukan Dika yang membawanya kerumah sakit ini. Dia sekilas melihat seorang pria membawanya masuk kedalam mobil dan berteriak memanggil namanya. Wajah pria yang tampak tak jelas ia lihat.
"Are you okay?" ucap Dika.
"Hemm ..." jawab Irena dengan pelan.
"Istirahat saja, nggak usah berbicara. Kata Dokter, kamu hanya perlu istirahat dan makan. Ini nih akibat tadi pagi gak mau terima makanan dari aku, jadi begini kan? Kualat sih" ucap Dika.
Irena hanya terdiam. Tubuhnya masih benar-benar lemas. Dan akhirnya ia tertidur.
Saat Irena tidur, Dika terus berada disamping Irena, memperhatikannya berharap Irena baik-baik saja.
Gadis secantik ini yang tampak kuat, siapa sangka bisa tumbang juga hanya karena tidak makan dari pagi hingga siang pikirnya.
"Semakin kita dekat, entah kenapa aku semakin ingin kenal lebih jauh sama kamu Ren. Aku tau bukan hanya aku saja yang menginginkan kamu, pasti ada banyak pria lain "ucap Dika dalam hati.
Irena terbangun. Ia seperti kebingungan dan lupa dengan semua yang terjadi padanya.
"Kamu? Ngapain kamu disini? Dimana aku?" tanya Irena.
"Tenang dong, kayak baru habis kemalingan aja. Kamu dirumah sakit. Tadi pingsan didepan kantor. Untung aja rumah sakit yang dekat dengan kantor kami, bukan rumah sakit jiwa" ucap Dika.
"Ihh, apa sih. Aku mau balik kekantor"
"Pak Chan pasti mencari aku, bisa kenak semprot lagi aku kalau di jam kerja begini aku gak ada di ruangan" gumam Irena.
Irena masih terlihat lemas dan sempoyongan.
"Eitss, mau kemana? Kamu masih lemas loh. Jalan aja kayak ayam sakit begitu" canda Dika.
__ADS_1
"Semua orang dikantor kamu udah pada tau semua kamu disini, tadi juga yang nganterin kamu kesini karyawan kantor kamu loh. Tenang aja deh. Bos kamu juga pasti udah tau juga dong"
Irena melirik kearah ponselnya. Kenapa tidak ada panggilan dari Pak Chan sama sekali. Apa ia tidak tau? Terus bagaimana dengan janji sore ini? Apa ia lupa? Apa ia tidak mengkhawatirkan kondisi aku? "Ahh, kenapa juga aku harus memikirkannya, seharusnya aku mengkhawatirkan keadaanku diriku sendiri. ADUHHH Stop Irena!! gumam Irena.