
"Ahhh ... Ahhh ... Ahhh ..." Jantung Irena rasanya berdebar keras mendengar suara d****an yang saling bersahutan. Dia yakin, sedang terjadi sesuatu didalam sana. Dan jujur, ia tidak siap untuk melihatnya.
Lenguhan wanita itu terdengar sangat keras, seperti pasti nikmat sekali dihentak oleh kejantanan sang pria. Irena memberanikan diri mengintip dari celah pintu, dilihatnya seorang pria sedang memompa tubuh seorang wanita dibawahnya.
Sampai ketika sang wanita mengganti posisinya diatas, barulah Irena mengetahui bahwa ternyata yang sedang asyik bermain itu adalah Rebecca dan suaminya.
"Mas Dika?" Irena menggeleng, masih tidak percaya. Air matanya menetes. Baru saja dirinya yang begitu pemaaf itu berbaikan dan berdamai dengan Rebecca, tapi ternyata kembali berkhianat.
Terlihat dengan jelas saat ini ditubuh jenjang polos wanita tanpa sehelai benang itu memiliki tato bunga mawar di pinggul kanannya. Dilihatnya juga Dika duduk dan menyantap dua gundukan Rebecca dengan rakus. Mereka melakukannya tanpa rasa malu, seakan hubungan itu sudah sering mereka lakukan.
Alih-alih masuk kedalam kamar dan memaki mereka, Irena lebih memilih merekam dan memfoto apa yang sedang mereka lakukan untuk dijadikan sebagai bukti kuat, kemudian memilih pergi dari rumah itu.
Hatinya sangat hancur, dikhianati oleh mereka memang sudah pernah dirasakan. Tapi untuk kali ini, tak pernah terbayangkan bisa terulang kembali.
Tapi lebih dulu Irena pergi mendatangi apartemen Rebecca. Membukanya sendiri pintu apartemen itu karena tahu sandinya. Terlalu banyak alasan dan kecurigaan hingga ia harus melakukan ini.
Terpajang banyak foto-foto dikamar itu. Irena membuka laci-laci yang ada dikamar itu, lalu menemukan beberapa benda yang sangat ia kenal. Jam tangan, perhiasan dan banyak lagi benda mahal lainnya yang pernah Dika beli dengan alasan untuk diberikan kepada klien sebagai hadiah agar kerjasama berjalan dengan lancar. Tapi ternyata, semua itu untuk Rebecca.
__ADS_1
"Kenapa kalian lakukan ini lagi? Apa salah aku sama kalian?" Irena terduduk di samping ranjang, menangis sekuat-kuatnya.
Tapi, sungguh Irena benar-benar gak menyangka bahwa Rebecca pun masih saja terobsesi ingin berbagi suami dengannya.
Rebecca memang beberapa kali sempat mengutarakan isi hatinya bahwa ia dirumah selalu kesepian karna suaminya Jhonatan terlalu sibuk dengan kerjaannya. Bahkan suami yang tampan, baik, pengertian dan kaya raya seperti Jhonatan tidak cukup untuk bisa memberikan rasa kebahagiaan dirinya.
Mungkin juga perkataan gila yang dulu pernah ia sampaikan kepada Irena bahwa ia akan merebut semua yang Irena punya dan hanya dirinya lah yang pantas mendapatkan Dika masih berlaku sampai saat ini.
"Inikah yang kamu lakuin disaat aku membuang ego ku untuk memaafkan kamu, Becc? Ternyata selama ini kamu sedang asyik bersandiwara memainkan permainanmu untuk menghancurkan ku?" Irena masih berbicara dengan foto Rebecca yang sekarang rasanya ingin sekali ia ludahi.
Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian menghubungi suaminya.
"Mas, kamu dimana ya? Kok gak ngabarin aku sih. Kamu pulang kan?" Tanya Irena dengan tegar.
"Maaf sayang, Mas gak pulang malam ini. Nginap di hotel sama klien Mas itu, masih ada urusan sih. Kamu gak papa kan tidur sendiri malam ini?" Tanya Dika balik.
"Hemm, oke gak papa. Titip salam sama klien kamu ya. Bye ..." Irena dengan segera menutup telepon dengan tangan yang masih gemetaran. Kakinya sudah tak sanggup untuk berjalan. Suami yang ia cintai dan ia percaya kembali berbohong bahkan berkhianat. Rasa benci dan kecewa sudah benar-benar merasuki pikirannya.
__ADS_1
"Kesabaran ku sudah habis, Mas. Kebaikanku selama ini gak pernah kau hargai. Mungkin memang aku yang terlalu bodoh, hingga akhirnya kembali terkhianati entah yang sudah berapa kali."
"Aku harus pulang ...." Irena menguatkan dirinya untuk bisa berdiri dan berjalan pelan menuju taxi yang sedari tadi sudah menunggunya. Langkahnya benar-benar pelan dengan tubuh yang masih gemetar.
"Saat ini kita hidup di planet yang dijejali kemunafikan. Dimana orang baik haus akan pengakuan, dan orang jahat penuh dengan pencitraan."
"Kejujuran adalah kesederhanaan yang paling mewah. Setiap perbuatan dan ucapan ada pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Dia yang menyakitimu mungkin tidak pernah merasa bahwa tindakannya adalah melukai. Namun suatu saat nanti dia akan mengerti tatkala Allah telah mendatangkan hal yang sama kepadanya."
.
.
.
*Fix!!! Kita apakan nih cocoknya dua anak manusia itu ya? Kok Othor jadinya ikutan esmosi nih ya. Duhhh ... 😤*
Yaudalah ya, mending kasih dukungan aja ke Othor deh ya. Biar kita lanjutin, nextnya bakalan kita apakan tuh si Dika sama Rebecca, hehehee
__ADS_1