Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 132


__ADS_3

Kesamaan nasib karna sama-sama ditinggalkan oleh orang yang dicintai walau dengan masalah yang berbeda, membuat mereka saling mengerti dan memahami serta memberi dukungan satu sama lain.


Setidaknya, kegelapan yang dulu pernah menyelimuti hidupnya sekarang malah mendapatkan wanita asing yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus.


"Kamu sudah bangun, sini kita ngopi dulu." Panggil Vanesha.


"Oke, baiklah ..." Ucap Dika sembari tersenyum dan berterima kasih. "Terimakasih sayang."


Vanesha menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


*****


Menikah dengan Bryan membuat Irena mendapatkan banyak kejutan. Dirinya yang sudah menikah tentu saja berpengalaman mengetahui sebagian besar sikap seorang suami kepada istrinya. Irena sempat berpikir kebanyakan seorang suami biasnya suka memerintah walaupun masih bisa melakukannya sendiri.


Namun, semua itu tak terlihat pada diri Bryan yang bukan sosok suami yang suka memerintah istrinya. Ia melakukan apapun sendirian jika dirinya masih sanggup melakukannya. Terutama dalam hal membuat kopi.


Sekarang sudah satu tahun lebih mereka menikah, mereka tinggal dirumah Bryan. Hanya tinggal berdua. Tidak ada pembantu ataupun tukang kebun. Hanya ada satu satpam yang standby didepan.

__ADS_1


Lima bulan yang lalu, Irena terkena flu karna kehujanan saat berbelanja ke supermarket sendirian. Setelah selesai, ia menunggu Bryan untuk menjemputnya. Namun saat menunggu, hujan deras turun sehingga ia harus berlari cepat untuk berteduh. Tapi baju yang ia kenakan sudah basah kuyup hingga akhirnya ia pun terkena flu.


Ia hanya bisa terbaring diatas ranjang. Kepala terasa sangat pusing saat mencoba bangkit dari tidur walau hanya untuk duduk. Irena menyuruh Bryan untuk menyewa pembantu disaat dirinya sakit. Tapi Bryan tidak menyetujuinya. Irena terus saja mengeluh karna disaat dirinya sembuh nanti pasti kerjaan dirumah banyak yang menumpuk.


Tentu saja itu tidak seperti yang Irena bayangkan. Saat hendak ke kamar mandi mengambil kain kotor yang mau dicuci, tak satu pun terlihat baju kotor disana. Hal itu membuat Irena bingung.


Dipikirannya saat itu mungkin Bryan sudah membawanya ke laundry. Kemudian ia turun ke dapur, semuanya tampak bersih. Dan yang membuat dirinya lebih takjub saat melihat ke halaman belakang, semua pakaian kotor sudah terjemur dengan tertata rapi dan bersih. Ia pun semakin dibuat penasaran siapa yang melakukan semua itu.


Setelah dua hari kemudian, dirinya baru tau kalau yang melakukan semua itu adalah Bryan. Ternyata, sebelum berangkat ke kantor Bryan beberes terlebih dahulu. Ia mencuci pakaian kotor, mencuci piring, menyapu bahkan mengepel seluruh ruangan dirumah. Bahkan dirinya menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan susu dan juga roti untuk istrinya. Benar-benar membuat Irena terharu. Bryan memang suami idaman semua wanita. "I'm so lucky to have you." Batinnya.


Karna itu juga Irena berusaha untuk cepat sehat, hingga harus pergi kerumah sakit sendirian tanpa sepengetahuan Bryan untuk mendapatkan suntik vitamin dan obat agar cepat memulihkan kembali dirinya. Ia merasa gak enak hati jikalau melihat Bryan terus-menerus melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi tanggung jawab dirinya.


"Mas, lebih baik Mas cari wanita lain saja." Kata-kata yang sudah berulang kali Irena ucapkan. Rasa tidak percaya diri karna sudah dua kali mengalami keguguran dan pesimis kalau dirinya tidak akan bisa hamil lagi. Hal itu yang membuat dirinya selalu berkata seperti itu pada Bryan.


Bryan pun juga berkali-kali menolak permintaan Irena itu. Ia tidak mau melakukan itu, karna ia menerima dengan ikhlas kondisi Irena. Walaupun Irena memang tidak akan bisa hamil lagi, tak apa. Karna untuk bisa hidup bersama dengan Irena saja sudah sangat membuat dirinya bahagia.


"Sayang, ayo kita makan." Bryan yang baru keluar dari kamar mandi berjalan menuju ranjang tempat Irena duduk.

__ADS_1


"Baik Mas." Jawab Irena langsung berjalan keluar kamar tanpa menghampiri Bryan.


Bryan yang melihat sikap Irena semakin hari semakin berubah, menghembuskan nafas pelan, memejamkan mata dan berdoa dalam hati meminta kepada Allah agar Irena lebih sabar menghadapi cobaan dalam rumah tangga mereka. Dan berharap sebuah keajaiban untuk Irena bisa hamil lagi, agar istrinya itu tidak bersikap seperti ini.


Tak ada sedikitpun pembicaraan saat mereka makan malam. Bryan semakin bingung bagaimana membuat Irena kembali seperti dulu lagi.


Setelah makan malam selesai, Irena langsung beranjak untuk kembali ke kamar. Tapi Bryan mengentikan langkahnya, menggenggam tangganya dengan lembut. "Kita ke halaman belakang dulu." Ucap Bryan membuat Irena heran.


"Mas, sudahlah. Aku mohon jangan membuat diriku semakin bersalah padamu." Ucap Irena, meneteskan air mata yang membasahi wajahnya.


Bryan yang melihat kondisi Irena, langsung menatap Irena dan menggenggam kedua tangannya dengan erat karna mengerti kalau Irena pasti masih berada dalam situasi sedih dan kecewa. Karna semua yang terjadi saat ini adalah takdir dalam perjalanan rumah tangga mereka.


.


.


.

__ADS_1


Dear Readers, maaf banget beberapa hari ini sering banget lateupdate. Biasalah Othor lagi sibuk dengan aktifitas dirumah. Tapi Othor tetap ucapkan terimakasih banget yang masih setia nungguin cerita ini di setiap episodenya.


See you next 🤗


__ADS_2