
Irena melirik jam di atas meja nakasnya. Waktu menunjukkan pukul 00:30 pagi. Bertepatan dengan pintu kamar yang dibuka dari luar.
Ia tak mau melihat pintu kamar, karna tanpa dilihat pun ia sudah tau siapa yang membuka pintu. Irena memejamkan mata berpura-pura tidur. Ia enggan menatap suaminya saat ini. Hatinya belum siap dengan kenyataan bahwa suaminya sedang berselingkuh dengan wanita lain. Saling bergelut manja dengan tangan wanita yang menggantung di lengan suaminya, seperti seekor koala sedang bergelantung.
Dirinya butuh waktu untuk menguatkan diri.
Dika yang merasa istrinya sudah tertidur, melangkah masuk ke kamar, menutup dan menguncinya. Menuju ranjang dan berdiri di sisi kanan ranjang tempat Irena berbaring. Ia mendaratkan kecupan kecil di kening istrinya kemudian mengelus lembut puncak kepala Irena. Irena pun masih saja berpura-pura tertidur.
"Semoga mimpi indah istriku." suara Dika terdengar lirih saat mengucapkan kalimat itu, ia pikir istrinya sudah tidur. Irena kaget saat mendengarnya, tapi masih memejamkan matanya.
Dika melangkah pelan ke kamar mandi, ia tak ingin istrinya terbangun karna kebisingannya. Ia ingin membersihkan diri sebelum menyusul istrinya di ranjang. Dika membuka pintu kamar mandi dan masuk, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Mas, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Irena yang setelah melawan kegelisahan hatinya akhirnya ia memantapkan diri untuk bertanya dan meluruskan apa yang dilihatnya hari ini dengan bola mata hitam yang menatap lekat ke arah suaminya.
"Loh, kamu belum tidur sayang?" tanya Dika balik.
Ia urungkan langkahnya untuk ke kamar mandi kemudian berbalik ke arah ranjang dan duduk disamping Irena.
__ADS_1
Duduk tepat berada dihadapan istrinya, membuatnya tersentak kaget melihat wajah sendu istrinya yang tak menampakkan raut wajah senyum ceria seperti biasanya. "Kenapa sayang?"
"Kemarin siang aku .. emm .. aku" Irena gugup untuk menjelaskannya.
Dika menggenggam tangan istrinya, dengan suara lembut dan tegas ia berkata, "Kenapa sayang? Bicara yang jelas dong."
"Tadi siang aku melihat Mas dengan wanita di Coffee Shop!!" pekik Irena berkata dengan satu tarikan nafas.
Ia melepaskan genggaman tangan suaminya. Ia tundukkan pandangannya gak sanggup melihat raut wajah suaminya.
Dika terkejut sedikit mundur dari duduknya, ia terkejut mendengar ucapan istrinya. Jantungnya berdebar kencang. Suasana kamar pun seketika hening, keduanya saling terdiam mengontrol detak jantung mereka yang sedang membara.
Irena dengan sinis berkata, "Kamu tau apa yang aku pikirkan Mas? Hebat!! Bahkan aku sendiri saja tidak yakin dengan apa yang sedang aku pikirkan, mas!!"
Irena memberanikan diri mengangkat wajahnya begitu mendengar ucapan suaminya. Ia tatap lekat wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Bukan begitu sayang" Dika mencoba memeluk tubuh istrinya tapi justru penolakan lah yang terjadi. Irena bergerak mundur sembari menahan isak tangis yang akan keluar dari bibirnya. Namun malah air mata yang jatuh.
__ADS_1
"Kamu jahat, mas." lirih Irena.
Dika melangkah maju untuk memeluk tubuh istrinya, hingga ia berhasil mendekap tubuh Irena yang memberontak di pelukannya.
"Kamu salah paham sayang, dia hanya rekan kerjaku tidak lebih."
Dika merenggangkan pelukan mereka karna Irena terus saja memberontak. Kini kedua tangannya menggenggam kuat bahu Irena dengan isak tangis Irena yang terdengar memilukan di telinga Dika. Bukan air mata istrinya yang Dika inginkan, tapi kini mata indah istrinya itu mengeluarkan air mata karna dirinya.
"Sejak kapan Mas? Sejak kapan kamu menghianati aku? Sejak kapan Mas?" tanya Irena semakin lirih, ia gak kuat untuk melanjutkan apa yang ingin ditanyakannya lagi untuk beberapa saat.
.
.
.
*Irenaa ... Othor jadi ikutan nangis nih ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Othor jadi gak sanggup untuk lanjutin next partnya nih, jiwa raga Othor jadi ikut melemah ngerasain sakit yang begitu dalam yang kamu rasakan.
Hikss .. hikss .. hikss .. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜