
Sudah dua bulan semenjak kepergian Bryan ke Jerman, Irena belum mendapatkan kabar apa yang sedang terjadi dengan pria itu.
Kini Irena mulai membiasakan diri dengan kondisi yang harus memaksanya untuk tetap kuat dan sabar menerima kenyataan bahwa suaminya kembali mengkhianati dirinya. Walaupun semua kesalahpahaman itu telah dijelaskan oleh Dika dan juga Rebecca, namun tetap saja masih ada rasa ragu dan kecewa yang teramat dalam gak akan pernah terlupakan.
Hari ini dikantor Irena benar-benar lesu, mendapat menstruasi bulanan adalah pukulan keras yang paling menyakitkan untuk seorang wanita yang pernah gagal memiliki anak dan berharap bisa hamil lagi seperti dulu.
Meski hubungan se*sualnya dengan suaminya tidak terlalu sering karna Dika yang sering lembur dan terlalu lelah, tapi ia tetap berharap benih itu tumbuh.
Sore nanti sepulang kerja, Irena diam-diam akan menemui Dokter spesialis untuk memeriksa keadaannya. Dia ingin tau apa penyebab dirinya belum hamil juga. Walaupun dulu ia juga pernah mengalami hal serupa, susah hamil.
****
"Dengan riwayat yang pernah Ibu bicarakan sebelumnya, kalau Ibu pernah lama mempunyai keturunan bahkan anak Ibu juga meninggal akibat penyakit preeklamsia yang Ibu alami saat melahirkan, saya rasa tidak ada masalah dengan itu semua. Kondisi Ibu sangat sehat saat ini, dan kemungkinan untuk bisa hamil lagi itu ada." Ucap Dokter
"Tapi sp*rma suami Anda sepertinya yang mengalami penurunan kualitas. Sehingga, kemungkinan Anda untuk bisa hamil sangat kecil. Dari riwayat kesehatan suami yang Ibu tunjukkan, saya rasa itu sudah tidak ada masalah lagi. Karna Ibu akhirnya bisa memiliki anak juga pada akhirnya kan."
"Apa mungkin kalian terlalu sering melakukan hubungan int*m, sehingga sp*rma suami Anda lebih encer dari yang seharusnya."
Irena mendengus, "Kami bahkan sangat jarang berhubungan int*m, Dok. Kalau dihitung bisa saja cuma dua atau tiga kali dalam sebulan."
Dokter Steffi sepertinya bingung, "Apa mungkin Pak Dika sering m*st*rbasi, Bu?"
Irena menatap Dokter Steffi heran, "Buat apa dia m*st*rbasi, Dok? Saya gak pernah menolak tiap kali dia mau. Malahan, dia yang sering menolak saya. Saya juga sudah beberapa kali memintanya untuk berhubungan, tapi sepertinya dia begitu lelah sepulang dari kantor.
Dari ekspresi wajah Dokter Steffi, Irena mencurigai sesuatu.
"Ibu coba ajak Pak Dika kesini untuk konsultasi dan pengecekan lanjutan untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi ada dimana."
"Dia pasti gak mau, Dok. Dulu juga pernah seperti ini, dia merasa dirinya sehat."
Dokter Steffi menghela nafas panjang, lalu tersenyum datar. Ia meresepkan sesuatu diatas kertas, "Ini ada obat untuk memperbaiki kualitas sp*rma. Dan usahakan suami Ibu mengkonsumsi makanan yang sehat."
__ADS_1
Irena bergumam, "Makanan sehat? Sudah lama sekali aku tidak pernah memasak lagi untuk mas Dika dirumah, bahkan makan berdua dimeja pun sangat jarang kami lakukan, bahkan bisa dikatakan tidak pernah."
"Apa ini membantu, Dok?" Tanya Irena.
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun selama suami Ibu tidak ikut diperiksa." Jawab Dokter Steffi.
Irena tersenyum pasrah. Ia mengambil resep obat itu dan berdiri, "Terima kasih, Dok." Bersalaman, lalu ia pergi.
"Bu Irena," panggil Dokter Steffi.
Irena yang baru saja hendak keluar ruangan berbalik, "Ya, Dok?"
"Kalau boleh saran, coba untuk cari tau apa aktivitas suami Anda sehari-hari." Ucap Dokter Steffi tanpa menjelaskan apa maksud perkataannya itu.
Irena hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu. "Apa maksudnya dengan perkataan dokter itu? Apa mungkin maksudnya Mas Dika ada main dengan wanita lain?"
Rasanya tidak mungkin. Irena tidak akan percaya semudah itu. Selama ini tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, bahkan ribut kecil pun jarang. Dika sangat perhatian, sampai-sampai dulu Rebecca ingin menggantikan posisinya karna iri.
*****
Irena tidak sanggup menyiksa otaknya sendirian. Ia butuh pelampiasan untuk mengeluarkan segala keresahan yang ada di kepala.
"Aku rasa Dokter itu berlebihan deh." Pikirnya yang masih merasa gelisah.
Saat menunggu pesanan datang seseorang datang dan duduk dihadapannya. "Aku boleh duduk?"
Jelas saja itu adalah Bryan. Irena tampak kaget dengan keberadaan pria yang saat ini ada dihadapannya.
"E-iya, silahkan. Kamu disini?" Tanya Irena.
"Iya kebetulan baru selesai ketemu teman disini. Eh rupanya ada kamu pas mau keluar. Ya udah aku singgah aja. Udah lama juga kita gak ketemu kan." kata Bryan.
__ADS_1
"Hemm ... ya ya okeee." Irena tersenyum.
"Hemm, aku mau cerita." Ucap Irena ragu.
"Oke, mau cerita apa. Cerita aja. Silahkan." Jawab Bryan meyakinkan.
Irena membeberkan semua cerita saat dirinya pergi menemui Dokter tadi. Dengan percaya diri dan penuh semangat.
"Menurut kamu, Dokter itu berlebihan gak sih?" Tanya Irena.
"Ya, menurut aku juga begitu sih. Kamu gak mungkin percaya gitu aja kan, kalau Dika ada main sama wanita lain?" Tanya Bryan balik.
Irena menggeleng, "Aku percaya suamiku sepenuhnya, Bryan. Dia hanya bekerja keras untuk rumah tangga kami."
"Nah, terus apa yang buat kamu ragu? Dia cuma lagi capek, makanya tidak semaksimal itu sama kamu."
"Tapi masa sih dia tahan hemmm ..." Irena tak melanjutkan ucapannya.
"Apa jangan-jangan aku udah gak menarik? Menurutmu apa penampilanku mulai membosankan?" Irena sekali lagi membutuhkan pendapat.
Bryan terbahak-bahak, "Hahahahaa ...." Tawanya kian meledak.
.
.
.
Gimana?
Makin seru kan antara Bryan sama Irena wkwkk
__ADS_1
See you next, Readers 🤪