
Irena tidak menjawabnya, ia menghela napasnya, sedikit meringis kesakitan saat Dika mencabut pedang miliknya.
Kini mereka berdua terkapar diatas ranjang setelah permainan panas tadi. Mereka saling berdiam diri. Untuk sesaat suasana kamar yang tadinya terasa begitu panas kini berubah terasa sangat dingin.
Dika menarik tubuh polos istrinya itu kedalam pelukannya, sembari menyelimuti tubuh mereka dengan selimut, memeluk erat tubuh Irena seakan ia tak ingin kehilangan istrinya untuk selamanya sembari mencium kening istrinya.
Mereka terus berpelukan satu sama lain, hingga terdengar suara azan subuh berkumandang, Irena membuka matanya yang sedari habis pelepasan tadi mengerjapkan mata.
Ia pandangi terus wajah suaminya itu yang masih memejamkan mata. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Saat asyik memandangi wajah pria tampan itu, Dika terbangun dan memberikan senyuman manis.
"Sepertinya ini adalah pengalaman pertama ku dan pengalaman pertama mu. Kamu bahagia? Aku harap hubungan kita akan terus bahagia seperti ini"
"Seperti ini? Maksud kamu kita akan mengulanginya setiap hari gitu?" ucap Irena mengernyitkan dahinya.
"Bukan seperti itu maksud ku, sepertinya otak kamu sudah mulai traveling kemana-mana ya" jawab Dika kembali memeluk tubuh Irena dengan sangat erat seperti memeluk sebuah guling.
__ADS_1
"Udah mandi yuk, biar kita jamaah subuh"
"Mandi? Kamu ikut aku mandi?" tanya Irena polos.
"HAHAHAAA!! Ya enggak dong, kalau kita mandi bareng, yang ada malah gak siap-siap mandinya, bisa lanjut ronde kedua. Kalau aku sih yes yes aja, kamu nya sekarang sanggup gak?" ucap Dika goda Irena.
"Eh! Jangan macam-macam ya. Sakit yang sekarang aja belum sembuh, mau nambah sakitnya lagi kamu. Awas aja kalau sampai berani"
"Wah mau jadi istri durhaka nih kayaknya, baru aja tadi waras nya kembali normal, ini malah jadi kambuh lagi" ucap Dika sembari mengecup bibir istrinya agak tidak kembali mengoceh.
"Kamu pakai handuk atau apa aja deh yang ada didalam lemari untuk dipakai" teriak Irena didalam kamar mandi sembari menghidupkan shower.
Dika menggelengkan kepala tersenyum lebar melihat tingkah istrinya itu, membuat ia gemes dan ingin segera melahapnya lagi. Tapi itu tidak mungkin, ia takut menyakiti istrinya. Untuk bisa seperti ini saja, ia amat teramat bahagia. Sangat bahagia.
*****
__ADS_1
Irena keluar dari kamar mandi, sekarang ia sudah memakai baju menutupi seluruh tubuhnya. Bergegas untuk langsung sholat subuh berjamaah dengan suaminya.
Saat hendak keluar kamar mandi, Dika masih asyik sibuk dengan ponselnya. Masih bertelanjang dada, hanya memakai handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya.
"Ya Allah, makhluk ciptaan-Mu. Kalau begini terus pemandangan tiap pagi, betah dikamar teruslah nih buat mager, HIHIHIHIII" pekik Irena.
Dika yang mendengar kekehan Irena, menoleh kearah Irena. Ia berjalan menuju sang istri. Berjalan berjalan dan terus berjalan hingga tak ada jarak sedikitpun diantara mereka. Sementara Irena terpojok dibelakang dinding seperti cicik terhimpit di dada kokoh benteng Cina milik suaminya.
"Kenapa masih saja malu-malu? Lihat tuh pipi kamu merah merona, belum juga diapa-apain" goda Dika.
Irena langsung mendorong Dika untuk menutupi rasa malunya.
"Apaan sih, pergi mandi sana! Keburu habis waktu sholat kita nih karna nungguin kamu. Jangan banyak halu gak jelas deh, entar bisa jadi gila beneran"
Dika yang mendengar perkataan istrinya itu hanya memberikan senyum tipis diwajahnya sembari masuk kedalam kamar mandi dengan santai.
__ADS_1
"Duhh, bisa copot nih jantung ku kalau dekat dia terus. Malah ini pikiran udah mulai Travelling kemana mana lagi. Stop Irena, jangan mikirin yang enggak-enggak" gumam Irena yang masih terlihat malu dan terasa gemetar disekujur tubuhnya.