Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 125


__ADS_3

"Jadi, Mama mendukung Papa?" Bryan menatap Mamanya dengan penuh kekecewaan.


"Mama tidak berpihak pada siapa pun, Bryan. Mama hanya ingin kamu itu bahagia dengan pilihanmu."


"Kamu masih punya kesempatan untuk membuktikan kepada Papa dan Mama bahwa Irena layak untuk pasangan hidup kamu." Rita meyakinkan.


Bryan yang mendapat dukungan dari Mamanya semakin yakin dengan pilihannya.


*****


Hari demi hari terus berjalan, kini sudah satu minggu Bryan di Jerman. Setiap hari juga Vanesha selalu datang untuk berkunjung ke rumah. Entah itu membawakan makanan atau hanya sekedar ingin mengobrol dan mengajak Bryan berjalan-jalan keluar.


Walaupun Bryan sudah berulang kali melakukan penolakan dengan cara yang halus, tapi Vanesha tetap saja datang.


"Vanesh, sepertinya aku hari ini nggak bisa menemani kamu untuk pergi keluar. Lagi kurang enak badan soalnya, maaf banget ya." Ucap Bryan.


William yang mendengar ucapan Bryan langsung berdehem, "Ehm ..." Dia marah dan langsung masuk ke kamar.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Aku gak papa kok. Kamu istirahat aja dirumah. Maaf mengganggu waktu kamu." Lirih Vanesha.


"Vanesh, tunggu ... Ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Bryan mengambil kesempatan ini untuk bisa berterus terang dengan Vanesha disaat William tidak ada di samping mereka.


"Kamu itu sedari dulu dan sampai kapan pun aku anggap sudah seperti adikku sendiri, Nesh. Aku juga kaget dengan perjodohan kita ini. Aku nggak bermaksud ingin melukai hati kamu ataupun menghancurkan kedekatan hubungan keluarga kita."


Vanesha tersenyum, "It's okay, Bryan. Aku mengerti dengan keputusan kamu. Dan aku yakin suatu saat kamu pasti akan bisa mencintaiku, karna terkadang waktu bisa membalikkan semua keadaan."


"Tapi, aku mohon kamu jangan berharap lebih sama aku, Nesh. Karna itu akan membuat kamu jauh lebih terluka." Balas Bryan.


"Apa maksud kamu, kalau kamu sudah ada ..."


"Ya, aku sudah punya pilihan. Dan aku sangat mencintai dia." Jawab Bryan meyakinkan.


Hanya senyuman tipis yang diberikan Vanesha, "Congratulation, Bryan. Dia pasti wanita yang sangat beruntung."


"Bukan dia yang beruntung mendapatkan ku, Nesh. Tapi aku yang beruntung bisa mendapatkannya." Jelas Bryan.


"Baiklah, kita serahkan saja semuanya pada takdir. Kalau memang kamu milikku dan kita berjodoh, pasti kita akan menikah. Bukankah begitu, Bryan?" Vanesha mencoba menanggapinya dengan santai.


Keyakinan yang dimiliki Vanesha patut untuk dihargai. Biar bagaimana pun, dirinya mencoba berbesar hati untuk menerima keputusan Bryan.

__ADS_1


****


"Aku takut, Bryan." Kata Irena.


"Kenapa takut? Orang tuaku tidak akan memakanmu, mereka orang baik. Kamu juga sudah pernah bertemu dengan Mama, bukan? Pasti itu akan membuat dirimu bisa sedikit lebih tenang." Balas Bryan.


"Ini terlalu cepat untukku, kamu tau sendiri keadaanku saat ini. Lagian kenapa tidak memberitahuku kalau orang tuamu juga ikut ke Indonesia." Kesal Irena.


"Kalau aku bilang, pasti kamu akan menolak ajakan ku untuk kerumah kan? Ayolah, Ren! Mereka hanya ingin berkenalan denganmu." Bujuk Bryan dengan serius.


Jantung Irena benar-benar tak karuan kali ini, hatinya mulai tak tenang. Ia hembuskan nafas dengan kasar, agar dirinya lebih tenang melawan ketakutan itu.


Bryan turun dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil, "Ayo masuk! Jika yang kamu takutkan adalah tentang statusmu saat ini, jangan dipikirkan. Mereka pasti bisa menerima mu." Bryan menenangkan.


Irena terlihat gugup saat mulai melangkahkan kaki kedalam rumah itu, padahal ia dulunya sangat nyaman saat berada disana.


Saat sudah berhadapan dengan kedua orang tua Bryan, rasa gugup itu tak kunjung hilang. Walaupun mereka tampak menyukainya, tapi tetap saja rasa takut akan penolakan keluarga Bryan karna statusnya menghantuinya.


"Ayo silahkan duduk, Ren. Kita makan siang dulu. Ibu sudah siapin makanan favorit kamu juga loh. Ngobrolnya entar aja dilanjutin." Ucap Rita lembut.


Mereka mulai duduk. Banyak menu makanan tersedia dimeja makan. Tentunya ada menu favorite Irena juga. Irena duduk tepat disebelah Bryan.


"Iya, Ma." Irena mengangguk.


"Mamanya yang paling semangat saat dibilang Bryan kalau calon istrinya Bryan akan datang kerumah." Sindir William.


"Uhukk ... Uhukk ..." Irena kaget dan terbatuk karna ucapan William. Entah itu sindiran atau hanya candaan ia pun tidak bisa membedakannya.


Bryan dengan sigap memberikan Irena air putih dan menepuk pundaknya pelan. "Terimakasih," Ucap Irena, lalu meminumnya.


Melihat kebahagiaan di raut wajah Bryan dan juga Mamanya, membuat Irena sedikit lebih tenang. Ia tak sanggup kalau harus mengecewakan Bryan hanya karna ketakutannya.


Makan siang telah selesai, semua hidangan diatas meja sudah dibersihkan.


"Bryan sudah menceritakan semuanya tentang kamu, saat ia menolak perjodohannya di Jerman dan memilih kamu untuk dinikahi." William berbicara.


Perkataan itu membuat rasa gugup Irena hadir kembali, hingga ia meremas kuat bajunya.


"Awalnya saya berpikir, kenapa harus kamu yang dipilih Bryan. Tapi kamu tau sendiri bagaimana Bryan, bukan. Sekeras apapun saya menghentikannya, ia tidak akan pernah berhenti." Jelas William.

__ADS_1


"Tapi saya sadar, yang akan menikah bukan saya tapi Bryan, anak saya satu-satunya." William mulai bercanda.


"Ya, apapun status kamu itu tidak jadi masalah. Asalkan... Bukan istri orang lain." Lirik William ke arah Irena dan Bryan.


"Maaf sebelumnya, Om. Sepertinya lebih baik saya memperkenalkan diri saya sendiri saja. Saya bukan dari keluarga kaya, latar belakang keluarga saya juga tidak baik dengan masalah Papa saya dulu yang ada di berita media. Dan saya juga seorang janda, apakah Om dan Tante masih mau menerima saya?" Jelas Irena dengan sejujurnya.


Kedua orang tua Bryan saling memandang, kemudian mereka tersenyum.


"Tidak ada manusia yang sempurna, Irena. Apalagi menantu yang sempurna. Tapi yang jelas, selama ia menerima anak kami dengan tulus, maka kami pun akan menerimanya dengan baik."


"Begitu pun dengan keluarga kami, Ren. Jika kalian memang bisa menerima segala kekurangan kalian masing-masing, kami sebagai orang tua mendukung apapun keputusan Bryan."


Irena menundukkan wajah untuk menutupi tangisan haru atas penerimaan keluarga Bryan terhadapnya.


"Kalau begitu ... Terimakasih Om, Tante. Irena jadi nggak perlu merasa takut lagi untuk melanjutkan pernikahan ini dengan Bryan."


Tak bisa terbayangkan betapa bahagianya Bryan saat mendengar ucapan Irena, hingga sontak membuat dirinya langsung memeluk Irena walaupun melakukkanya didepan kedua orang tuanya.


"Mulai sekarang manggilnya jangan Om dan Tante ya, panggil Mama dan Papa. Karna kamu kan sudah jadi bagian keluar ini." Ucap Rita.


Irena mengangguk sebagai jawaban.


"Nah, sekarang kita tinggal nentuin kapan tanggalnya aja dong." William menatap Bryan semangat.


"Belum dong, Pa. Kami belum memberitahukan keluarga Irena tentang hubungan kami ini apalagi rencana pernikahan."


"What?" William terkejut.


"Butuh berapa lama lagi Papa di sini untuk menunggu kalian memberitahukan semuanya pada keluarga Irena? Papa sengaja loh meninggalkan semua kerjaan Papa untuk bisa ikut andil mempersiapkan pernikahan kalian."


"Papa mau ikut andil atau mau mereka ikut bersama kita ke Jerman setelah pesta pernikahan di Indonesia selesai?" Lanjut Rita membocorkan rahasia suaminya.


"WHAT??" Ucap Irena dan Bryan serentak.


.


.


.

__ADS_1


Episode kali ini dibuat terkaget-kaget 😂😂


__ADS_2