Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 127


__ADS_3

Tidak seharusnya Irena terus menerus berlari dari kenyataan. Tapi dia bukan berlari, dirinya hanya butuh suasana baru untuk mempersiapkan hati yang pernah rapuh untuk kembali.


"Hari ini, lebih cepat lebih baik kan?" Tanya Bryan.


"Enggak dong, aku hanya becanda. Kalau kamu setuju juga gak papa sih." Bryan mencubit pipi calon istrinya itu.


"Minggu depan kita akan menikah, karna nggak perlu waktu lama untuk mengurus semua berkas-berkas nikah."


Tanpa sadar, Irena mengangguk. "Apa?" Dan akhirnya tersadar. "Apa itu nggak kecepatan?" Bryan tersenyum lebar mendapati respons lucu dari wajah Irena.


*****


Semua sudah dipikirkan dengan mantap, mereka berdua memutuskan untuk memulai hidup baru. Meninggalkan semua kenangan masa lalu atas kejadian pilu yang pernah terjadi.


Hari pernikahan semakin dekat, semua persiapan sudah di urus WO, jadi saat ini Irena hanya duduk manis dan terima beres. Begitu juga dengan Bryan, yang masih saja bisa pergi meeting untuk urusan kantornya.


"Ya ampun kakak ... Mentang-mentang nikah sama Big Boss. Hem, tenang-tenang aja nih kayaknya." Goda Kania.


"Apaan sih! Nyindir ya ..." Jawab Irena.


"Doain aja semoga nggak ada masalah, semua berjalan dengan sukses dan lancar." Doa tulus Irena untuk acaranya nanti.


"Amiin ..." Jawab Kania dan Irena bersamaan.


"Yaudah yuk makan kak, Ibu udah manggil tuh." Ajak Kania.


Makan siang ini diiringi dengan obrolan ringan tentang persiapan Irena dan juga Bryan. Irena lebih banyak memuji tentang Bryan yang terlalu baik untuk mempersiapkan semua acara pernikahan ini, membuat mereka semakin menyukai calon suaminya itu. Mereka semua dibuat nyaman dan menyukai kepribadian Bryan. Meskipun dari keluarga kaya raya, ia sangat santun dan tidak angkuh.


******


Satu Minggu telah berlalu, hari ini adalah hari paling berkesan bagi Irena dan juga Bryan. Keduanya mengikat janji suci, setelah satu minggu kemarin keduanya melakukan persiapan yang umumnya dilakukan oleh semua pasangan yang hendak menikah.

__ADS_1


"Irena ..." Panggil seseorang yang tak lain adalah Ibunya sendiri.


Irena yang duduk dengan anggun diruang make-up pun menoleh sembari tersenyum pada Ibunya. Akhirnya ia harus kembali melepaskan putrinya, demi kebaikan dan kebahagiaannya.


"Boleh saya peluk dulu anak saya?" Tanya Ibu Irena pada perias, dan mereka memperbolehkan.


Kedua wanita itu saling berpelukan. Buliran air mata keluar dari pelupuk matanya, namun ia langsung mendongakkan mata keatas menahan agar air mata itu tidak merusak riasannya.


"Kamu jangan sedih sayang, Bryan terlihat sangat mencintaimu." Ucap Ibu Irena.


"Ayo sayang, kita turun. Semua orang sudah menunggu kamu." Lamunan Irena buyar saat mendengar suara Ibunya berbisik.


Irena mengangguk, lalu berterima kasih kepada para perias. Tangan kanan kirinya langsung diapit oleh Kania dan Ibunya. Ketiganya perlahan turun dari tangga. Rumah keluarga Bryan benar-benar sangat mewah. Irena mengira kalau ini bukanlah rumah, melainkan sebuah istana yang sangat besar dan megah.


Pernikahan Irena dan Bryan diadakan secara tertutup, hanya keluarga dan kerabat terdekat saja yang hadir. Semua atas permintaan Irena, mengingat takut ada hal yang tak diinginkan nantinya.


Saat tiba di pijakan anak tangga terakhir, Irena langsung menjadi pusat perhatian. Semua tamu menatap penuh dengan tatapan mempesona. Irena hanya menunduk menyembunyikan rasa groginya, padahal ini bukanlah pertama kali baginya menjadi seorang pengantin. Namun, jujur dalam hatinya saat ini ia sangat bahagia.


Walaupun tampilan Irena simpel dengan balutan kebaya putih dengan batik Sunda, tapi tetap terkesan elegan. Tentu saja Bryan tak ingin calon istrinya memakai pakaian murahan. Bahkan satu set kebaya untuk akad aja mencapai harga ratusan juta.


Irena dituntun menuju kursi tepat disebelah Bryan. Ia duduk perlahan, tapi tatapannya masih saja menunduk sembari mengepal kedua tangan yang terasa dingin. Rasa gugup, gelisah dan khawatir bercampur jadi satu. Apalagi disaat Bryan berjabat tangan dengan dengan wali nikah Irena, yaitu Om Ridwan.


Bryan tersenyum, inilah saat yang ia nanti-nantikan setelah sekian lama menunggu. Finally, sebentar lagi wanita yang sangat ia cintai akan menjadi istri sahnya.


Irena memejamkan mata dan menghela nafas perlahan. Ia tak mengerti dengan perasaannya saat ini, yang jelas saat syahadat mulai diucapkan, dadanya semakin terasa sesak. Berharap semua segera cepat selesai.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Bryan McKenzie bin William McKenzie dengan Shirena Indira binti Almarhum Bayu Dermawan dengan maskawin berupa logam mulia seratus dua puluh tujuh gram dengan uang tunai dua ratus juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Shirena Indira binti Almarhum Bayu Dermawan dengan maskawin tersebut tunai." Suara lantang penuh dengan ketegasan itu membuat air mata bahagia Irena terurai, lalu ia usap air mata itu perlahan. Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.


"Bagaimana para saksi?"

__ADS_1


"Sah?"


"Sah!!!" Jawab semua tamu undangan.


Irena menghembuskan nafas penuh lega begitu juga dengan Bryan. Semua mulai berdoa, kemudian dilanjutkan dengan memakaikan cincin.


Irena meraih tangan Bryan, lalu mencium punggung tangan suaminya sembari berdoa dalam hati, "Ini adalah takdir-Mu, aku serahkan semuanya pada-Mu, ya Allah."


Setelah itu Bryan mendekatkan tubuhnya pada Irena, mencium lembut kening istrinya sembari menutup mata disertai doa yang tulus didalam hati.


Disudut ruangan, terlihat seorang pria berkaca mata tengah berdiri mengenakan setelan kemeja silver mengepalkan tangan seperti tak suka. Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seperti itu dihadapannya. Wanita yang pernah hidup bersamanya menikah dengan pria lain dan yang lebih menyakitkannya pria itu adalah seseorang yang sangat ia kenal.


Hatinya sangat panas, rasanya ingin menghancurkan acara bahagia ini. Namun, ia teringat kembali kalau dirinya masih dalam proses penangguhan penahanan. Jangan sampai karna emosinya yang nggak karuan, malah membuat dirinya kembali masuk ke sel penjara.


Ia pun berusaha lebih bersabar. Tak ingin melihat pemandangan menyakitkan itu lebih lama, dengan cepat ia keluar dari rumah itu dan pergi dengan mobil hitam mewah.


Disisi lain, tampak Irena dan Bryan sedang berfoto. Bryan menarik pinggang istrinya agar lebih mendekat padanya, karna rasa gugup yang Irena rasakan tak kunjung hilang. "Wajah cantik kamu tertutupi dengan wajah gugup itu, sayang." Bisiknya ke telinga Irena menggoda.


Usai akad yang mewah dan elegan, sekarang saatnya untuk menggelar acara resepsi yang juga tak kalah mewah. Dengan konsep pakaian berwarna emas dan putih yang tampak elegan. Irena tampak menawan, hingga tak sadar membuat semua tamu undangan pria menatap ke arahnya.


"Hei, Ren. Selamat ya. Gak nyangka loh setelah berakhir sama Dika, akhirnya bisa dapatin yang lebih dari dia. Beruntung banget sih, say. Pakai dukun ya? Hahaha." Ucap Radit teman pria Irena yang paling cerewet dan julid, bahkan lebih heboh dari para wanita biasanya.


"Eh say, kok bisa dapatin lakik setampan itu sih?" Bisik Radit membuat Irena menggaruk tengkuknya, tapi masih bisa terdengar oleh Bryan.


Yang ada dipikiran Irena saat ini adalah pasti Bryan sangat kege-eran dengan perkataan teman julidnya itu. "Dit, ceritanya nanti aja deh. Lihat tuh dibelakang orang udah pada ngantri loh!" Ucap Irena sembari menarik Radit agar cepat berjalan. Melambaikan tangan serta tersenyum saat Radit berjalan dan berbalik menolehnya.


.


.


.

__ADS_1


Happy wedding Irena dan Bryan 🌹


__ADS_2