Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 134


__ADS_3

"Please, aku mohon jangan ganggu aku. Aku mohon!!" Teriak Vanesha ketakutan.


"Vanesh, kamu kenapa?" Tanya Dika bingung.


Ternyata yang menarik tangan Vanesha adalah Dika. Ketakutan membuat pikirannya jadi tak terkendali.


"Itu, tadi ... A-aku dikejar sama pria gila." Jawab Vanesha dengan raut wajah pucat.


Dika memeriksa sekeliling tapi tak terlihat seorang pun yang tampak mencurigakan. "Lagian kamu kenapa pergi sendirian di tempat yang belum pernah kamu datangi seperti ini. Aku mencari kamu dari tadi."


"Sudahlah, kamu sekarang aman. Aku sudah disini. Jangan pergi sendiri lagi. Aku jadi khawatir." Dika mengangkat tubuh Vanesha seperti mengangkut karung.


"Turunkan aku, Dik. Gak enak dilihatin orang." Vanesha menepuk punggung Dika.


"Kenapa? Kamu malu? Lagian kamu itu calon istriku. Emang ada yang salah dengan sikap ku? Lihat tuh kaki kamu jadi terkilir, bengkak begitu." Dika mengomel tiada henti-hentinya.


"Hem, kenapa jadi mengomel sih. Jantungku hampir aja copot tau gak. Lagian kamu juga pergi entah kemana, pakek acara tidur segala lagi disini. Ya aku pergi sendiri ajalah." Kesalnya.


Vanesha menutup wajahnya malu ketika orang lewat memperhatikan mereka heran, karna sepanjang jalan mereka terus saja saling membalas kekesalannya.


"Awas aja kalau kamu jalan-jalan sendiri lagi, aku pasung aja kali ya biar gak bisa kemana-mana kamu." Ucap Dika.


Vanesha tertawa, Dika terlalu mengkhawatirkannya. "Sayang, aku ini bukan anak kecil lagi loh, yang harus dikawal kemana-mana."


"Hem, aku tidak suka dibantah Vanesha Mahendra." Vanesha mendengar ucapan itu merasa geli dan tertawa lepas karna Dika menggabungkan nama belakangnya ke nama dirinya.


Resepsionis hotel yang mereka lewati pun terlihat heran dengan tingkah mereka, dan sekarang tiba didalam lift dengan keheningan lalu masuk kedalam kamar Vanesha yang begitu luas dan mewah, sehingga siapapun yang melihatnya akan terpaku terkagum-kagum akan keindahan interiornya.


Dika langsung meletakkan wanita itu diatas ranjang. "Kamu istirahat saja disini, aku akan meminta dokter untuk memeriksa kaki mu."


"Dan pasti kamu juga belum makan, aku juga akan memesan sarapan didalam kamar."

__ADS_1


"Tapi ... Aku harus mengganti baju dulu sebelum dokter datang. Nggak mungkin dia memeriksaku dengan keadaan baju ku yang basah penuh keringat karna lari dari pria tadi itu."


Dika sengaja menatap Vanesha dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Vanesha merah padam.


"Aku akan meminta petugas hotel untuk membantumu. Atau kalau kamu mau aku saja yang akan membantumu. Kamu bisa pilih."


"Toh, kalau kamu memilih aku yang menggantikannya kamu gak perlu repot-repot juga untuk mengganti baju, karna pasti kamu nggak akan sempat untuk mengenakannya."


Wajah Vanesha lebih merah padam lagi saat mendengar kata-kata vulgar Dika dan itu membuatnya terlihat gugup.


"Hem, kamu seperti singa yang menemukan domba lemah ya, Dik. Awalnya kamu bermain denganku lalu setelah itu kamu akan memakan aku." Canda Vanesha.


"Hahahaha. Aku tidak serendah itu, sayang." Balasnya dengan tawa.


*****


"Kriukkk!!"


"Ah? Ya ..." Jawab Irena gugup. Ia membalikkan tubuhnya dengan pikiran tidak fokus.


Bryan tersenyum padanya lalu mendaratkan bibirnya ke kening Irena. "Ayo!" Perintahnya.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, membuat mereka berdua begitu lapar. Tapi karna suasana kamar hotel yang tampak mengagumkan, membuat dua insan itu tak mampu menahannya.


Mereka melangkah menelusuri pasir pantai yang masih basah. "Kita mau kemana, Mas?" Tanya Irena bingung.


Bryan tersenyum menoleh ke arahnya, "Makan malam ..."


Irena masih saja bingung, "Makan malam? Tapi kenapa di pantai yang gelap dan sunyi begini sih. Lumayan dingin disini, aku nggak kuat deh."


"Sebentar lagi kita sampai." Sambung Bryan.

__ADS_1


Mereka terus berjalan dengan tangan yang bergandengan erat, sesekali saling menatap dan melemparkan senyuman.


Irena menghentika langkahnya dengan mulut tercengang, terkejut luar biasa. Ditatapnya kembali suaminya yang berdiri disampingnya yang juga sedang menatapnya lembut.


"Mas, ini ..." Irena menghentikan ucapannya sembari menunjuk sebuah meja yang dikelilingi dengan lilin dengan kelambu putih yang menjuntai.


"Bagaiman? Kamu suka?" Tanya Bryan, namun air mata Irena tanpa sadar jatuh dari pelupuk mata.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Bryan mengusap air mata itu dengan lembut lalu menarik tangan Irena untuk mengikutinya.


"Ayo ..." Ajaknya, dan Irena menurut mengikuti langkahnya.


Mereka duduk berhadapan dengan udara dingin yang membawa aroma khas lautnya. "Kamu yang menyiapkan semua ini, Mas?" Tanyanya yang masih penasaran.


"Aku hanya terlalu bahagia dengan semua ini, Mas." Ucapnya lagi sembari menahan tangis bahagia.


Bryan mengangguk dengan senyuman menawannya dengan tangan yang masih menggenggam lembut tangan Irena yang ada diatas meja.


Irena menoleh pandangannya ke sekeliling. Kelambu yang melambai diterpa angin dan deburan ombak seperti musik yang sedang mengalun. Ini begitu romantis, batinnya.


Ia kembali menatap Bryan yang juga masih setia menatapnya. "Ini hal yang mustahil, Mas. Bahkan didalam mimpi sekalipun. Tapi ini benar-benar nyata."


"Kita itu seperti pasangan sejoli yang lagi di mabuk asmara bukan sih? Ini seperti mimpi, bahkan aku pun nggak pernah bermimpi ini akan terjadi."


Bryan tersenyum, "Pantai adalah tempat dimana kita dipertemukan kembali, Ren. Kamu masih ingat disaat kamu pergi berbulan madu dengan Dika? Aku tau pantai adalah tempat favorit mu. Makanya aku selalu mengunjungi semua pantai yang pastinya akan kamu kunjungi." Ditatapnya wanita didepannya itu dengan lembut.


.


.


.

__ADS_1


Romantis banget 💙


__ADS_2