Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 110


__ADS_3

"Kau sudah benar-benar tidak waras, Shirena Indira!" Gumamnya.


"Awww!!!" Irena meringis kesakitan karna lamunan membuat dirinya tak sengaja mengiris jarinya sendiri hingga sedikit berdarah.


Bryan cemas dan langsung mendekat. Diambilnya pisau dari tangan Irena, diletakkan ke meja dapur. Lalu dipegangnya tangan Irena dengan darah segar yang mengalir keluar dari jari yang terluka itu. Tanpa menunda waktu, langsung ia memasukkan jari Irena kedalam mulutnya untuk mengisap darah yang keluar.


Rasa perih di jari membuatnya meringis. Hingga akhirnya ada hal lain yang dirasakan saat Bryan melakukan hal itu padanya. Ada gelenyar aneh muncul menjalari tubuhnya, menyebabkan denyut dibeberapa titik tubuh.


Bryan tadinya tidak berniat macam-macam, tapi melihat ekspresi Irena yang sangat jelas terlihat gugup, diapun berubah pikiran. Bryan yang awalnya mengisap jari yang ada didalam mulutnya sekarang beralih mengulumnya dengan lembut.


Tanpa disadari Irena semakin gelisah, matanya tertuju melihat bibir sexy Bryan yang sedang mengulum jarinya. Hingga tatapan keduanya pun saling melekat.


****


Irene bersembunyi didalam kegelapan, menyaksikan suaminya bermesraan dengan wanita psycho. Rasa sakit hatinya semakin tumbuh subur setelah diberi pupuk oleh para pengkhianat yang ada didepan matanya saat ini. Dalam sekejap rasa cinta dan kasih sayang luntur seperti lelehan ice cream.


Terlihat Dika menempelkan ponsel ditelinga, dan tak lama ponsel di tangan Irena bergetar. Dari Mas Dika. Irena langsung bergegas keluar rumah, berjalan dan masuk kedalam mobil. Pria itu menelponnya bersama Rebecca berada di pelukannya. "Pria brengsek!"


"Halo," Jawab Irena dengan nada datar.


"Halo sayang, bagaimana keadaanmu disana? Aku sangat merindukanmu." Saat mengatakan itu, Rebecca tersenyum. Mereka beranggapan Irena wanita bodoh yang sangat mudah tertipu.


"Menjijikkan!" Gumam Irena.


"Aku sangat baik disini, Mas. Begitu banyak hal-hal baru yang aku dapatkan, dan kamu pasti akan sangat terkejut kalau tau apa yang aku temukan."


"Apa itu, sayang?"


"Sesuatu yang sangat menakjubkan."


"Hemm ... Sepertinya kamu sangat bahagia.


"Ya, aku sangat bahagia Mas. Setelah diberi kejutan ini."

__ADS_1


Dika tidak menjawab, ia malah sedang asyik berciuman dengan Rebecca.


"Sayang, kapan kamu pulang? Biar Mas jemput."


Irena mendengus, "Dasar pria brengsek, Rindu atau ingin bersiap-siap untuk menyembunyikan wanita psycho itu dariku."


"Besok aku pulang, Mas. Kamu jemput ya."


"Kamu mau dimasakin atau dibawakan sesuatu dari sini?" Tanya Irena. "Racun misalnya."


"Oh, sayang. Kamu yakin sudah ingin pulang? Kalau kamu masih ingin lama disana, nggak papa. Mas mengerti. Atau jangan-jangana kamu rindu ya sama Mas makanya ingin cepat-cepat pulang?"


"Emangnya kamu gak kesepian aku gak ada disana?" Irena melontarkan pertanyaan yang lebih mirip sindiran untuk Dika.


"Kita akan punya banyak waktu untuk bersama nanti, sayang. Jadi kamu jangan khawatir."


Irena tersenyum sinis. Saat ini juga ingin rasanya merobek-robek wajah kedua orang itu. "Baiklah kalau kamu mengizinkan. Aku akan lebih lama disini."


"Tapi ingat loh, kabari Mas kalau kamu akan pulang. Jangan pulang sendiri, Mas yang akan menjemput kamu dirumah Ibu."


"Tentu!" Ketus Irena.


"I love you."


Irena tidak menjawabnya, ia mematikan telepon itu. Akan tetapi, Dika dan Rebecca malah kembali bermesraan didalam sana.


"Dasar, manusia brengsek!" Kesalnya.


"Wow, kamu sangat hebat, Ren." Bryan yang sedari tadi hanya jadi penonton, kagum pada sikap Irena di situasi seperti ini.


Irena berbalik, "Aku gak akan biarkan mereka terlalu bahagia." Ujarnya penuh kebencian.


"I support you." Bryan memberikan sebotol minuman untuk menenangkan suasana hati wanita itu.

__ADS_1


Irena menerimanya. Mereka minum bersama. Mendapatkan dukungan dari Bryan membuatnya lebih semakin percaya diri. Pria itu berjanji akan selalu membantu dan menjaganya sampai kapanpun.


****


Pemandangan indah di pagi hari menyapa mata Irena yang baru saja bangun. Bagaimana tidak, Bryan sedang olahraga dengan memamerkan otot-otot diperutnya itu. Apalagi disaat Bryan pull-up di ruang gym miliknya.


"Hei, kamu sudah bangun?" Bryan yang baru sadar akan kedatangan Irena pun menghentikan segala kegiatannya.


Irena tersenyum tipis.


Bryan mendekati Irena, dengan jarak yang pastinya siapapun akan sangat terkejut. Sementara tangan Bryan yang satu berpegangan pada pintu bagian atas didekat kepala Irena. "Bagaimana tidurmu, Ren? Kamu tidak menangis semalaman, kan?" Godanya.


Yang terlihat saat ini dihadapan Irena adalah Bryan begitu sexy dengan peluh yang membasahi tubuhnya. "Ke-kenapa aku harus menangis?" Irena tampak gugup.


Bryan terkekeh dan itu membuat Irena merinding. "Ka-kamu mau makan apa untuk sarapan? Biar aku buatkan." Irena berusaha tetap tenang meskipun saat ini lututnya terasa lemas.


"Aku makan apa saja." Bryan menurunkan kepalanya untuk bisa menatap Irena sejajar.


"Atau kamu ingin aku makan?" Tanya Bryan yang seolah bisa menebak isi di kepala Irena saat ini pasti sedang berpikir nakal tentang apa maksud dari perkataannya. Karna pasti dikhianati suami dan juga sahabat barunya membuat otaknya jadi tidak waras.


"Memangnya kamu zombie?" Irena yang merasa malu pun langsung berbalik dan pergi meniggalkan Bryan.


Bryan terkekeh. "Aku senang kamu disini, Ren."


.


.


.


*Duhh, kok Othor jadi baper ya lihat kedekatan mereka. Uhhh, so sweet 🤗🤗


See you next, Readers 💙

__ADS_1


__ADS_2