
PLAK!!
Belum siap untuk berbicara, tiba-tiba tangan Irena terangkat dan menampar pipi Bryan dengan keras.
"Oh, maaf maaf. Astaga!" Irena ingin mengusap pipi Bryan, tetapi ragu.
Bryan hanya tertawa. Pipinya terasa panas. "Baru saja kamu mendengar namanya, kamu sudah langsung menampar ku, Ren. Bagaiman kalau mereka benar-benar ada di hadapanmu."
"Ternyata memang tidak mudah ya." Irena meringis.
"Pelan-pelan saja, kamu pasti bisa kok."
Ketenangan Bryan yang terlihat berkharisma membuat Irena takjub saat membantunya.
"Tenang, Ren. Konsentrasi." Gumam Irena dalam lamunannya.
Tiba-tiba Bryan mencondongkan tubuhnya ke arah Irena dengan jarak yang lebih dekat.
"Hei ... Bagaimana kalau setelah ini, aku ingin memiliki kamu?" Tanyanya.
Irene langsung mengedipkan matanya.
"Kalau kamu gak mau itu terjadi, jangan tatap aku seperti itu Irena. Itu sangat berbahaya untukmu."
Seketika Irena tersadar, memalingkan wajahnya. Terdengar pula kekehan Bryan yang sangat sexy dan menggemaskan. Tapi bagi Irena kekehan itu menyebalkan.
*****
Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia menginap di rumah Bryan. Sebelumnya ia pernah mengunjungi rumah itu saat dulu masih bersama dengan Bryan, tapi tidak untuk menginap. Hanya sampai diruang tamu saja.
__ADS_1
Kalau saja dirumah itu tidak ada Mama Bryan, pasti tawaran Bryan untuk tinggal disana tidak akan dia turuti. Mengingat tujuannya sekarang sudah berbeda, sedikit menguntungkan baginya untuk tetap berada disana sekarang.
"Ren, kamu mau makan malam apa? Biar dipesankan sekalian."
"Aku akan memasak. Kamu punya apa dikulkas?"
"Lagian aku disini bukan hanya untuk menumpang tidur secara gratis, Bryan. Ada Mama Rita juga disini, gak mungkin juga aku bersikap tidak baik selama berada disini." Ucap Irena.
Irena turun dari ranjang dan mengikat rambutnya.
"Jangan, Ren. Kamu kan tamu disini." Bryan mengikuti langkah Irena.
"Aku bukan tamu, Bryan. Disini aku menumpang, jadi aku juga harus tau diri dong."
"Oh, tida tidak. Aku tidak berpikir seperti itu."
"Tapi aku berpikir, ya ... Aku seperti itu disini." Irena kembali menegaskan.
"Eh, Mama. Kenapa keluar? Istirahat aja dikamar." Kata Bryan.
"Mama bosan dikamar terus, Nak." Jawabnya
"Butuh bantuan?" Tanya Mama Rita kepada Irena.
Betapa terkejutnya Irena mendengar ucapan Mama Rita. Tapi Bryan langsung mengatakan "Tidak tidak, Ma. Biar Bryan dan Irena saja yang memasak untuk makan malam kita. Mama istirahat saja dikamar ya."
"Ayo... Ayo dong ..."
"Tapi, Bryan. Kalian pasti membutuhkan bantuan tangan mama." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Bryan langsung menggiring Mama Rita ke kamar. Ia tak ingin Mama Rita kelelahan karena terlalu sering melakukan aktifitas yang seharusnya tidak dilakukannya. Kesehatan Mama Rita masih lemah dan sangat menurun beberapa hari ini.
__ADS_1
Sementara Irena membongkar isi kulkas, Bryan hanya duduk mengawasi. Gerak gerik wanita itu sangatlah menggoda, mulai dari menyiapkan bahan-bahan masakan hingga bingung mencari dimana letak peralatan memasak.
"Yakin gak butuh bantuan?" Kekeh Bryan
"Hemm ... Kamu ada celemek?" Tanyanya.
Bryan turun dari kursi tinggi dan mendekati Irena. Irena menahan nafas saat dirinya sudah benar-benar dekat dan nyaris saling menempel.
"Ka-kamu mau ngapain? Aku lagi pegang pisau nih!" Irena was-was diri.
Bryan tersenyum, tangannya terulur ke pinggang Irena dan menariknya lebih dekat. Sangat jelas dirasakan tubuh Irena membeku. Tangan satunya lagi ia pakai untuk membuka lemari yang berada tepat dibelakang Irena, menunjukkan celemek yang ia inginkan ada didalam sana.
Malunya luar biasa karena berpikir kalau Bryan akan melakukan hal yang macam-macam pada dirinya. Irena mengambil celemek itu dari tangan Bryan dan membalikkan badan. Aroma parfum Bryan masih tercium sangat jelas sehingga ia bisa tau kalau Bryan pasti masih berada didekatnya.
Saat Irena memasangkan celemek, Bryan membantu Irena mengikatkan tali kebelakang. Memindahkan rambutnya kedepan dengan tangan yang entah disengaja atau tidak, tangan itu menyentuh leher Irena. Jantung yang berdetak keras, cukup membuktikan Bryan terlalu berbahaya.
"Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan ku, karna terkadang aku takut salah mengerti kalau kamu hanya diam." Bisik Bryan setelah selesai, kemudian terkekeh saat hendak kembali ke kursinya.
Konsentrasi Irena terpecah karna tatapan Bryan saat ini mengguncangkan ketenangan jantungnya.
"Kau sudah benar-benar tidak waras, Shirena Indira!" Gumamnya.
.
.
.
*Hahaha, semakin seru pastinya kan? Ayuk komen sebanyak-banyaknya biar Othor semakin semangat lanjutin ceritanya nih.*
__ADS_1
See you next 🤗