
"Berakhir ... pernikahan ini selesai, Bu. Irena memberinya kesempatan tapi ia memilih melepaskan Irena." ucap Irena terisak.
Irena menangis di dalam kamar di pelukan Ibunya. Meluapkan rasa sesak yang sedari tadi ia tahan.
Ibu Irena memeluk anaknya dengan erat, ia belai punggungnya dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya tenang. Memberikan Irena kepuasan untuk meluapkan semua isi hatinya.
"Baiklah Ibu mengerti apa keputusanmu. Menangislah sayang sepuasmu, tapi janji besok jangan menangis lagi ya." kata Ibu Irena.
Irena hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab perkataan Ibunya.
"Apa salah Irena, Bu? Kenapa Mas Dika berbuat setega itu sama Irena? Ia lebih memilih wanita itu Bu, sakit banget Bu." tanya Irena sembari melepaskan pelukan mereka.
"Kamu tidak salah. Mungkin saat ini Dika dibutakan dengan kenikmatan sesaat, ia gak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya pura-pura."
"Lihat tuh mata kamu bengkak, hidung kamu juga jadi seperti badut, astaga jelek sekali anak Ibu penampilannya seperti ini." kata Ibunya yang sesungguhnya berusaha untuk menghibur anaknya.
Irena tersenyum tipis masih dengan sesenggukan isak tangis.
"Ingat, Nak. Jangan pernah menanggung beban mu sendiri. Ibu akan ada selalu untuk kamu. Coba tanyakan lagi pada hatimu, apakah semua keputusanmu untuk mengakhiri pernikahan kalian adalah langkah yang tepat. Ibu gak membela siapapun. Mungkin saat ini kamu sedang dikuasai amarah. Pikirkan semuanya dengan kepala dan hati yang jernih. Tapi kalau memang keputusan kamu memang sudah fix, lupakanlah semua kesakitanmu dan mulailah membuka hidup yang baru. Oke darling." jelas Ibunya sembari memeluk kembali Irena.
"Sekarang istirahatlah, tidurlah. Ibu akan selalu menjagamu."
Irena enggan beranjak keluar dari kamar Ibunya. Ia rebahkan tubuhnya dengan kepala dipangkuan Ibunya, terlentang menghadap langit-langit kamar. Ia tarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan.
__ADS_1
"Kebersamaan kita selama ini ternyata membuatmu tak bisa memilihku. Aku terlalu percaya padamu, hingga akhirnya kamu menyakitiku." batin Irena.
*****
Raut wajah yang lesu dan tak semangat tampak terlihat saat ini di wajah Dika. Ia sedang menyantap sarapan paginya, namun sedari tadi ia hanya mengaduk tanpa menyentuhnya. Ia terhanyut dalam lamunan dan pikiran akan istrinya.
"Andika Mahesa ..." teriak pekik Ibunya yang datang tiba-tiba kerumah.
"Kenapa wajahmu terlihat lesu? Ada masalah ditempat kerja? Atau ada masalah dengan Irena?" tanya Rina dengan tegas dan lugas tepat sasaran.
"Dimana Irena? Ibu sudah kangen sekali dengan menantu kesayangan Ibu itu." ucap Ibunya yang pura-pura tidak tau akan masalah yang terjadi antara Dika dan Irena.
Dika hanya menundukkan kepalanya, bagaimana kalau Ibunya tau tentang apa yang terjadi dengan pernikahan mereka. Apa yang harus ia katakan. Bisa-bisa ia dihabisi saat ini juga oleh Ibunya karna sudah menyakiti menantu kesayangannya.
Drrrttt .. Drrrttt ... Drrrttt ...
Handphone Dika bergetar menandakan ada panggilan masuk. Sekilas ia melihat ke layar handphonenya yang diatas meja siapa yang menelpon, ternyata nama Rebecca yang tertera di layar.
"Dika terima telepon dulu, Bu." pamit Dika.
Ia bawa handphone dan menjauh dari Ibunya. Saat penggilan pertama terabaikan, datang panggilan kedua. Dengan sigap Dika langsung menjawabnya.
"Hallo, Rebecca." ucap Dika singkat.
__ADS_1
"Hallo, Dika ... Kenapa kamu lama sekali mengangkatnya. Kenapa suara kamu terdengar lesu. Kamu sakit?" tanya Rebecca diseberang sana.
"Aku dan kamu sudah berkahir, Rebecca. Aku mohon menjauh lah dariku. Aku melepasmu." jelas Dika.
Rebecca gak percaya dengan apa yang ia dengar. Ada sedikit rasa amarah yang mulai membakar otaknya. "Kenapa kamu sekarang memilih mengakhiri hubungan kita, Mas? Bukannya kamu kemarin telah memilihku dan melepaskan istrimu itu."
"Maafkan aku, Rebecca. Aku ingin memperbaiki pernikahanku dengan Irena. Aku menyesal telah melepaskannya. Aku dan kamu gak seharusnya melakukan semuanya sampai sejauh ini. Hubungan kita adalah kesalahan." ucap Dika.
"Kesalahan? Kamu bilang kesalahan! Setelah apa yang sudah aku berikan semuanya untukmu, mas. Bahkan kenikmatan yang sama sekali gak pernah kamu dapatkan dari istrimu itu. Semuanya bisa kamu dapatkan dariku." jawab Rebecca.
"Aku gak ingin menyakitimu lebih jauh lagi, Rebecca. Jadi kita akhiri saja hubungan kita. Ini yang terbaik untuk kita, aku harap kamu mengerti." ucap Dika pelan.
"Kamu jahat, Mas. Aku menyesal pernah mencintaimu, sampai-sampai rela memberikan semuanya padamu, bahkan kehormatan dan harga diriku. Dengan seenaknya kamu membuang aku begitu saja. Semoga ... istrimu gak akan pernah menerimamu lagi." ucap Rebecca sesenggukan dalam tangisnya kemudian mematikan telepon sepihak.
.
.
.
*Duh Mas Dika. Jadi kasihan tuh kan selingkuhannya. Enak banget bicaranya tinggal diakhiri doang. Habis manis sepah dibuang deh. Hikss .. Hikss .. Hikss ...
Dear, Readers!
__ADS_1
Jangan lupa Like Vote dan Komennya 💙💙💙