
Bryan mengundang Dika untuk makan malam dirumahnya. Tentu saja Dika membawa Irena, dan tentu saja memang itu tujuannya. Begitu juga dengan Jhonatan yang membawa Rebecca.
Jamuan mewah yang dipersiapkan, membuat siapapun tersanjung. Terutama untuk Dika, dia merasa di atas angin, berpikir kalau Bryan sangat men-support perusahaannya.
"Sepi sekali di rumah ini, Pak Bryan. Apakah Anda tidak memperkerjakan asisten rumah tangga?" Tanya Dika sambil mengedarkan pandangan disekitarnya.
"Seharusnya Mama saya ada disini, tapi ia harus kembali ke Jerman. Karna Papa saya sudah begitu lama ditinggal sendiri. Anda pasti mengerti, bukankah suami istri yang saling mencinta itu sangat sulit untuk berpisah walau hanya sebentar." Canda Bryan.
"Tapi ya saya lebih suka tinggal sendirian, Pak Dika. Banyak privasi yang terkadang tidak perlu dibagi kepada orang lain." Lanjut Bryan.
"Ya begitulah, Dik. Bryan memang seperti itu sedari dulu. Makanya sampai saat ini dia belum juga menikah." Sambung Jhonatan yang terkekeh. Ia baru saja datang bersama istrinya, Rebecca.
"Wow, kalian juga disini. Apa kalian saling mengenal?" Tanya Dika sembari melirikkan mata ke arah Rebecca yang tampak sexy memakai gaun dengan punggung belakang terbuka, jelas berbeda dengan Irena yang memakai hijab.
Jhonatan dan Bryan hanya tersenyum mengangguk.
"Jadi, apa Anda sudah berencana menikah?" Tanyanya lebih pribadi.
"Maksud saya, mungkin ada seseorang yang akan mengisi kekosongan dirumah ini, untuk berbagi privasi." Canda Dika.
Mereka semua tertawa.
"Saya memang sedang menunggu seseorang, tapi dia selalu mengulur-ngulur waktu. Entahlah, terkadang wanita itu sulit dimengerti. Tapi dari caranya dia menatap, saya yakin dia juga menyukai saya. Entah kenapa saat didekati, dia selalu saja menghindar." Tatapan lekat mata Bryan tertuju kepada Irena saat berbicara. Untungnya Dika malah sibuk mengalihkan pandangan matanya ke arah wanita selingkuhannya, Rebecca.
"Pastinya, wanita itu sangat cantik." Ucap Bryan, membuat Dika celingukan saat mendengar ucapan Bryan.
"Ya, sangat cantik pastinya." Puji Dika tertuju pada Rebecca.
Irena terlihat gugup. Dia meremas tangannya dibawah meja, menutupi gemetar yang melanda. Semua orang berkumpul, bahkan para pengkhianat juga ikut. Irena tau tatapan Dika sedari tadi tertuju pada siapa, matanya sangat sensitif untuk hal itu.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana detak jantungnya saat ini, andai ruangan ini sunyi pasti semua orang bisa mendengarnya.
Sementara Dika masih belum sadar kalau wanita yang dimaksud Bryan adalah istrinya sendiri, "Bukankan tidak seharusnya ia membuat pria seperti anda menunggu, Pak Bryan. Pasti dia terlalu angkuh."
"Tidak, tidak. Karna dia sangat spesial, makanya saya tidak menyerah dan saya yakin dia pasti akan luluh suatu saat nanti."
"Hem, sama seperti Irena. Dia juga sangat spesial untuk saya." Ucap Dika dengan senyum bagaikan malaikat.
"Cihhh!" Irena tampak tidak senang, tapi demi berpura-pura ia harus tetap tersenyum.
"Anda memang sangat beruntung memiliki istri seperti Ibu Irena, Pak Dika." Puji Bryan dengan berani.
"E-iya, semua juga bilang begitu. Hahaha."
Irena berdehem, membuat Dika menoleh. Tenggorokannya terasa gatal, bahkan segelas air minum pun nggak mampu untuk melegakan. Kenapa Bryan harus memainkan ucapan-ucapan seperti itu, bagaimana kalau suaminya nanti akan curiga.
"Sudah berjalan tiga puluh persen, Pak Bryan. Semua bisa berjalan dengan lancar, berkat bantuan dari Anda. Saya sangat berterima kasih." Ucap Dika.
"Loh, kalian jadi bekerja sama. Hem, kayaknya bakalan sering-sering bertemu nih kita semua. Baguslah untuk mempererat hubungan kita semua juga kan."
"Benar kan, sayang?" Tanya Jhonatan pada Rebecca. Rebecca hanya mengangguk kesal.
"Aku juga sudah nggak sabar, ingin melihat hasil dari project kerja sama kalian. Aku yakin ini pasti akan menjadi luar biasa."
Dika dan Bryan tertawa dan mengangguk.
Irena tersentak saat merasakan ada yang menyentuh betisnya. Dia menoleh pada Dika, suaminya. Tapi sepertinya bukan Dika pelakunya. Saat menoleh Bryan, senyum jahilnya menjawab perbuatan siapa itu. Bryan membelalakkan matanya dan melirik ke arah Rebecca yang pergi meninggalkan meja makan. Irena pun sangat sensitif dengan sikap dan gerak-gerik dari dua pasangan berselingkuh itu, ia pun juga menyadari akan kepergian wanita itu.
"Pak, Bryan. Apa saya bisa meminjam toilet?" Tanya Dika sesaat Rebecca meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Silahkan, Pak Dika. Toilet terdekat ada di dapur."
"Sayang, sebentar ya." Dika menuju toilet yang Bryan maksud.
Irena tersenyum dan mengangguk. Tentu saja Bryan sudah mempersiapkan semuanya, bahkan CCTV tersembunyi di setiap sudut area rumah yang bisa sangat jelas memperlihatkan setiap gerak-gerik orang yang ada didalamnya.
Waktu yang hanya sebentar itu, dimanfaatkan Dika sebaik mungkin. "Kamu sangat cantik malam ini, sayang. Boleh aku berpikir kalau kamu sengaja berdandan secantik ini khusus untukku?" Bisik Dika sembari mengendus nafas yang menggoda di tengkuk leher Rebecca yang saat ini sedang berada didepan kaca, didalam toilet.
"Kamu terlalu percaya diri, Dika. Aku berdandan tentu karna undangan makan malam Bryan, menyesuaikan pada acaranya saja." Rebecca nggak ingin terlalu lama bersama dengan Dika didalam sana, setiap sihir sentuhan Dika begitu kuat untuk meruntuhkan nafsu birahinya. Bagaimana kalau orang lain melihat kebersamaan mereka.
"Sungguh? Kalau begitu aku sangat kecewa padamu." Dika meraba lembut punggung terbuka milik Rebecca.
"Ahhh ... " Rebecca mend**ah, ingin menikmati sentuhan itu tapi tidak mungkin disaat seperti ini.
"Tidak Dik, jangan disini. Kamu sudah sangat membuat diriku kesal dengan segala pujianmu untuk istrimu itu." Rebecca meluapkan kekesalannya, mengambil tas dan pergi keluar dari toilet meninggalkan Dika didalam sana.
.
.
.
*Wahh, makin seru gak sih. Hehehe.*
Bantu Othor dengan dukungan kalian sebanyak-banyaknya ya Readers,
Thankyuuu ... 🤗
Love you, all 💙
__ADS_1