Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 112


__ADS_3

Pasangan berselingkuh yang Irena tunggu akhirnya datang. Betapa bahagianya wajah mereka saat menyapa, serta pintar sekali menyembunyikan segala kebusukan. Kalau keduanya sangat ahli beradu akting, maka Irena pun tidak boleh kalah.


Irena tersenyum, mendaratkan pelukan terlebih dahulu kepada Rebecca. "Aku merindukan mu, Becc!" Tapi saat wajahnya membelakangi semua orang, senyuman itu berubah menjadi datar. Lalu tersenyum kembali saat melepaskan pelukan.


"Hei, aku bawakan kamu kue di toko favorite langganan kamu. Dika bilang kamu pasti suka." Ucap Rebecca.


"Sial! Beraninya kau merayuku. Seharusnya aku yang membawakan kue ini padamu di saat ritual malam kalian waktu itu." Gumamnya.


"Wow, thankyou. Kenapa harus repot-repot sih, Becc." Ucap Irena.


"Dan kamu Mas, masih ingat aja kue kesukaan aku." Ucapnya pura-pura antusias.


"Kapan aku pernah merasa direpotkan, Becc. Kamu itu sahabatku." Jawab Rebecca.


"Iya dong, sesama sahabat memang saling memberi ya kan. Kalau aku jadi kamu, jangankan kue ini, Mas Dika aja kalau kamu minta pasti aku beri."


Seketika suasana hening. Rebecca dan Dika saling pandang dengan ekspresi aneh. Tapi kemudian tawa garing terdengar dari keduanya.


"Kamu ini suka banget becanda sih." Kekeh Rebecca.


Irena ikut tertawa. Kemudian dia beralih ke Dika. "Kamu sepertinya makan dengan enak saat aku nggak ada ya." Sindir Irena sembari memukul perut buncit Dika.


"Aku mana mungkin bisa makan enak tanpa kamu, sayang." Dika memeluk Irena dengan erat.


Irena hanya tersenyum.


"Hemm, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku udah nggak sabar pulang kerumah bersama kamu, sayang." Dika mengambil alih tas dan barang-barang yang dipegang Irena, bertingkah seakan-akan manusia baik.


"Baiklah, ayo!" Irena merangkul lengan Dika dan tak memperdulikan Rebecca yang ada dibelakangnya.


Setelah pamit kepada Ibu Irena, mereka berjalan menuju arah mobil. Rebecca yang tau diri duduk di bagian belakang dan membiarkan sepasang suami istri itu duduk didepan.

__ADS_1


"Bagaimana selama disana, sayang? Apa kamu sudah merasa puas kangen-kangenan nya sama Ibu? Karna aku nggak mau ditinggal seperti ini lagi oleh istriku. Kamu tau aku kesepian dirumah, sayang."


"Hemm, ya begitulah. Kamu juga pasti tau aku juga sama sepertimu, pasti rindu sekali sama kamu." Bohong Irena.


Dika mengangguk.


Irena menjadi lebih sensitif setelah mengetahui perselingkuhan itu, ia bisa melihat kode lewat lirikan yang Dika dan Rebecca lempar dari kaca spion.


"Ehemm." Irena berdehem. Keduanya pun memutuskan lirikan itu dan pura-pura melihat kearah lain.


"Ngomong-ngomong selama aku nggak ada, kamu ngapain aja , Becc?"


"A-aku?" Rebecca melirik ke arah spion lagi. "Aku nggak ke mana-mana, Ren. Di rumah aja. Lagian Jhonatan juga udah pulang, dan sekarang lebih sering stay dirumah. Katanya sih mau ngabisin waktu bersama, sebagai pengganti kesibukan dia dulu sering ke luar kota." Jawabnya.


"PEMBOHONG!!"


"Oh bagus dong. Kalau kalian semakin sering bersama jadi semakin ada jalan buat kalian cepat punya anak, bukan?"


"Kalau kamu, sayang?" Tanya Irena dengan sengaja.


"Brengsek! Kamu kira aku gak tau kebusukan kalian!"


"Kamu harus jaga kesehatan, sayang. Jangan terlalu keras bekerja, lagian kita juga belum punya anak untuk dihidupi."


Dika menggaruk kepalanya, "Hehehehe. Iya kamu ada benarnya juga. Baiklah, aku akan mengurangi kesibukanku nanti." Ucapnya.


Irena tersenyum dalam hati, pasti Dika dan Rebecca sedang kebingungan sekarang dan nggak akan menyangka kalau Irena sudah mengetahui segalanya.


****


Sesampainya dirumah, Rebecca sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam yang sudah mereka beli saat perjalanan pulang. Wanita itu tanpa rasa malu masih saja berada dirumah orang yang telah ia khianati.

__ADS_1


"Mas, kita sudah satu minggu berpisah. Kamu nggak kangen sama aku?" Irena dengan sengaja duduk dipangkuan Dika, padahal ada Rebecca dibelakang.


Dika terlihat kaku, matanya menatap Rebecca dengan gelisah. Begitupun sebaliknya, diam-diam Rebecca melirik lewat pantulan cermin.


"Sayang, gak enak sama Rebecca." Dika terkekeh dan berupaya menjauh.


"Rebecca nggak akan merasa terganggu. Kamu tau sendirilah, dia sekarang juga lagi bucin-bucinnya sama suaminya, Jhonatan. Jadi sekarang bisa melampiaskannya setelah pulang nanti. Ya kan, Becc?" Kekeh Irena, sembari tetap saja menempel.


"E-iya, kenapa harus malu? Kalian kan suami istri." Rebecca menjawab dengan terpaksa.


"Kamu dengar kan? Kita ini pasangan suami istri, nggak selingkuh dari siapapun."


Dika dan Rebecca kembali saling melirik.


Irena tersenyum tipis, senang sekali rasanya membuat keduanya canggung seperti itu.


"By the way, Mas. Setelah aku pikir-pikir kembali, kamu ada benarnya juga. Kita nggak perlu terburu-buru punya anak. Lebih baik menikmati saat-saat berdua."


"Karna punya anak darimu, aku nggak sudi!" Gumamnya.


"Kenapa kamu berubah pikiran?" Tanya Dika cukup terkejut.


"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa akan lebih baik kalau kita berdua dulu. Bermesraan setiap hari, tanpa adanya pihak ketiga." Irena membelai wajah Dika, tapi matanya mengarah pada Rebecca.


"Pihak ketiga?" Wajah Dika mulai cemas.


.


.


.

__ADS_1


*Hahaha kenak mental gak tuh pasangan selingkuh itu disindir terus sama Irena ðŸĪŠðŸ˜‚*


See you, next 💙


__ADS_2