Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 46


__ADS_3

Setelah beberapa lama berumah tangga, ini adalah tahun pertama pernikahan mereka. Karena sampai sekarang Irena juga belum dikaruniai malaikat kecil di rahimnya.


Setiap bulannya ia selalu merasa takut dan was-was, tapi ini sudah tepat setahun menikah ia tak juga hamil. Dan lebih takut lagi kalau ternyata ia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang lengkap di keluarga kecilnya.


Irena dan Dika kini sedang duduk menikmati sarapan pagi mereka. Irena memulai pembicaraan, "Mas bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan anak untukmu?"


"Kita baru menikah satu tahun, mungkin belum saatnya kita di beri kepercayaan untuk menjaga malaikat kecil ditengah-tengah keluarga kecil kita."


"Bagaimanapun nanti kedepannya, aku akan tetap berada di sampingmu mencintaimu. Aku yakin ada masanya kesabaran kita ini akan membuahkan hasil. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak", ucap Dika.


Irena menatap bola mata suaminya, mencari kebohongan di setiap ucapannya. Ada rasa gelisah yang masih di pendamnya yang sampai sekarang masih membekas di hatinya, membuat dirinya tak melihat tatapan kesungguhan yang terpancar dari mata suaminya.


"Yasudah Mas berangkat kerja dulu, kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan langsung hubungi Mas ya", Dika mencium puncak kepala Irena.


Irena mengambil telapak tangan Dika kemudian menciumnya. Begitu ritual yang dilakukan suami istri ini sebelum Dika berangkat kerja.


"Assalamu'alaikum", pamit Dika.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Mas", kata Irena.


Dika melangkah menuju mobil, tapi saat hendak membuka pintu mobil. Ada seseorang yang menelepon Dika. Sudah terlalu sering rasanya selalu ada yang menelpon di pagi hari, dan saat menerima telepon itu Dika selalu menjauh dari Irena.


Irena yang awalnya berpikir mungkin hanya rekan kerja, tapi lama-kelamaan ada yang aneh dengan suaminya. Rasa gelisah ini yang mulai menghantui pikiran Irena, membuat dirinya selalu meragukan cinta suaminya. Tepat di bulan kelima pernikahan mereka.

__ADS_1


Setelah selesai menelpon Dika masuk ke dalam mobil dan berangkat kerja.


Irena tetap berdiri menunggu di depan pintu hingga suaminya keluar pintu gerbang rumah.


Irena kembali kedalam rumah, menutup pintu dan menguncinya. Dia bergegas ke dapur untuk membereskan meja makan sisa sarapan mereka. Saat sudah sampai di dapur ia tak melihat apapun di atas meja.


"Mungkin sudah di beresin si Mbok," gumam Irena.


Setelah tau dapur sudah rapi dan tampak bersih, Irena bergegas ke kamarnya untuk menelepon Ibunya.


Tapi sebelum sampai di kamar. Handphone di tangganya berbunyi, ada panggilan dari mertuanya. "Ibu mertua?"


"Assalamu'alaikum, Bu", kata Irena.


"Ada apa, Bu?", tanya Irena heran.


Irena duduk di atas sofa kamar tidurnya.


"Ibu harap kamu tidak marah kepada Ibu, sayang", ucap Rina.


"Kenapa Ibu berbicara seperti itu, sebenarnya ada apa Bu?", tanya Irena gelisah.


"Ibu ingin mengajak kamu ke dokter kandungan kenalan Ibu, kita periksakan kandunganmu", ucap Rina lirih dan hati-hati takut melukai perasaan menantunya.

__ADS_1


Irena menunduk, dan wajahnya berubah sendu.


"Maafkan Ibu, sayang. Ibu gak bermaksud melukaimu. Ibu hanya ingin memastikan kandunganmu baik-baik saja."


"Kalian gak menunda untuk memiliki anak kan?", tanya Rina memastikan.


"Tidak, Bu", jawab Irena.


"Kalau begitu sebentar lagi Ibu jemput kamu ya, kita periksakan di sana apakah kandungan kamu ada masalah atau tidak biar lebih jelas", bujuk Rina.


Irena masih tetap menunduk, tapi kini ada setitik air mata yang jatuh. Ini pembicaraan yang sensitif menurutnya. Ia perempuan, ia juga ingin segera punya anak. Tapi apa yang bisa ia perbuat saat belum diberi kepercayaan, sedangkan ia dan suaminya selalu terus berusaha.


Baru saja pagi ini ia membicarakannya kepada suaminya karena khawatir dan takut suaminya akan kecewa, tapi justru kini mertuanya lah yang harus lebih ia khawatirkan.


.


.


.


*Othor mohon banget untuk dukungan Like, Vote dan Komennya ya*


Happy Reading 💙

__ADS_1


__ADS_2