Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 106


__ADS_3

Saat ditengah perjalanan pulang, ia meminta driver untuk menurunkannya di taman dekat rumah. Selama tiga puluh menit merenung dan memikirkan semuanya disana.


Selanjutnya ia berjalan sempoyongan sembari membawa tas dan menenteng plastik berisikan kue yang telah ia beli ditengah kepungan hujan deras. Ia seperti sudah mati rasa hingga dingin yang menyerang tak mampu membuat pertahanannya runtuh. Matanya pun terlihat kosong, kakinya terus berjalan tanpa memikirkan kemana tujuannya. Seperti seorang yang sedang mabuk, untuk berjalan lurus saja susah.


Air mata Irena menetes kembali. Kalau saja Dika berselingkuh dengan wanita lain, mungkin tidak akan sesakit ini. Apa selama ini Rebecca dan Dika bersekongkol untuk mengkhianatinya dengan permainan yang sangat pintar, sampai-sampai tidak sedikitpun kecurigaan terlintas dipikirannya.


Pantas saja ...


Setiap kali ia mencurigai mereka, selalu saja ada alasan untuk mempercayai mereka kembali.


Satu persatu semua yang tadinya tidak terasa janggal pun mulai terasa masuk akal kalau keduanya memang sudah lama berselingkuh. Rebecca dan Dika memang sedari dulu terlalu akrab, bahkan bahasa tubuh mereka cenderung saling melempar ketertarikan satu sama lain.


"Oh my God." Irena sesenggukan.


TIN!! TIN!! TIN!!!!


Jantung Irena rasanya ingin berhenti berdetak mendengar suara klakson yang sangat keras. Beberapa kendaraan melintas cepat disekitarnya, seperti hendak akan menabraknya.


Lalu tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya menjauh. Kepala Irena terasa sakit, belum sempat ia melihat siapa yang menyelamatkan hidupnya, pandangannya menjadi buram dan akhirnya pingsan.


*****


"Awww ..." Irena merintih memegangi kepalanya.


Mata Irena pelan-pelan mulai terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah uap difusser diatas nakas, aromanya sangat menenangkan. Saat mencoba bangun, barulah ia sadar kalau sekujur tubuhnya terasa ngilu. Kepalanya pun seperti dihantam batu.


"Kamu sudah bangun?" Tanya seorang pria.


Irena refleks membesarkan bola matanya dan menoleh ke sumber suara. Dia terkejut ada Bryan disampingnya, tepatnya didalam kamar entah kamar milik siapa. Bahkan pria itu tidak mengenakan atasan, menonjolkan perut kotak-kotak yang pastinya sangat terawat.

__ADS_1


"Tunggu," Irena mencegah dengan telapak tangan mengacung pada Bryan sebelum pria itu mulai bicara lagi.


Irena mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Konsep gelap dan hangat yang tergambar dari wallpaper dinding disana menunjukkan kalau dirinya saat ini tidak sedang berada di kamarnya. Ini kamar Bryan?


"Oh my God!" Irena begitu histeris. Ia berniat turun dari ranjang, tapi rasa sakit di kepalanya membuatnya nyaris saja jatuh menghantam lantai, untung tangan kokoh Bryan memeganginya.


"Tenanglah, Ren." Ucap Bryan. Ia menuntun Irena kembali menuju ranjang.


"Beristirahatlah dulu disini." Suruhnya.


"Bagaimana bisa aku disini, Bryan?" Irena ingin marah, tapi gak mampu. Ia terlalu lemah sekarang.


"Kamu pingsan dijalan, Ren."


Barulah ingatan terakhir Irena tentang kejadian tadi malam kembali. "Ka-mu yang udah selamatin aku?" Tanya Irena terbata-bata.


Lalu Bryan mengambilnya dan memberikannya kepada Irena. "Minumlah, kamu akan lebih baik." Ucap Bryan.


"Maaf, Ibu siapa ya?" Tanya Irena penasaran.


"Nanti Ibu jelasin, kamu minum saja dulu." Jawabnya.


Tanpa rasa ragu ataupun curiga, Irena meminum susu itu sampai habis. Karna selain haus, ia juga merasa lapar sebenarnya.


"Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu mau turun ke bawah atau diantar kesini?" Tanya wanita itu.


Irena sampai tertegun. Ia berpikir apa yang salah dengan kepalanya, kenapa wanita itu begitu baik padanya. Bukankan wanita itu tidak mengenalnya.


"Irena." Panggil Bryan dengan jarak wajah yang terlalu dekat.

__ADS_1


Irena sontak memundurkan wajahnya dari Bryan. "A-aku akan makan dibawah saja." Jawabnya.


"Baiklah."


Wanita itu hanya tersenyum tipis menatap dengan serius wajah keduanya. Menyimpulkan sesuatu tentang apa yang terjadi didepan matanya saat ini.


Dibantu Bryan, Irena turun dari ranjang dan mulai melangkah. Rasa pusing membuat penglihatannya sedikit bermasalah, lantai yang dipijak terasa seperti bergelombang.


"I'm sorry." Kata Bryan tiba-tiba.


"Hah?" Belum sempat Irena mengerti apa maksud dari permintaan maaf itu, Bryan sudah lebih dulu menggendongnya. Irena begitu terkejut pastinya, ingin berontak tapi kekuatannya tidak sehebat itu. Malah anehnya dia merasa sangat nyaman.


"Kamu bisa jatuh dari tangga kalau berjalan dengan seperti itu." Ucap Bryan tanpa diminta penjelasan.


Irena berdehem. Ia berpaling untuk menyadarkan dirinya dari hipnotis pria sexy ini. Bisa-bisanya kau terpesona disaat seperti ini Ren, gumamnya. Apa ada maksud tersembunyi dibalik semua kebaikan Bryan ini?


.


.


.


*Ehemm .. Ehemm ..


Othor datang lagi nih dengan lanjutan cerita yang pastinya semakin seru, hehehe.


Btw, jangan lupa dukungan buat Othor ya.*


Love you, all 🤗

__ADS_1


__ADS_2