
"Iya kerjaan kamu memang tidak ada yang beres satu harian ini. Kalau kerja ya kerja, kesehatan juga perlu dijaga. Kalau kamu tidak masuk bagaimana dengan kerjaan dikantor. Gak beres banget sih kamu" ucap Rudi ditelepon.
"Iya maaf Pak, besok saya sudah bisa masuk kok. Sekali lagi maaf Pak" jawab Irena.
Rudi merasa menyesal mengatakan hal itu kepada Irena. Bukan seperti itu yang ia mau. Ia hanya ingin tau keadaan Irena sekarang. Tapi pikirnya sepertinya Irena sudah membaik.
"Oke, saya tunggu" ucap Rudi mematikan telepon.
Irena merasa aneh dengan sikap Rudi, bukannya tadi dia datang membawakan buah tangan untuknya, tapi kenapa sekarang malah marah-marah. Baru aja hati Irena merasa simpatik kepadanya tapi seketika buyar.
Ingin rasanya Rudi memperlihatkan bahwa "Ini aku loh peduli sama kamu Ren, kenapa sih susah banget memperlihatkannya. Apa aku yang terlalu malu untuk mengakuinya selama ini. Kalau aku baik padanya, yang ada entar kerjaan dikantor malah jadi tidak beres. Hilang dong kewibawaan ku selama ini"
"Ya sepertinya aku tidak boleh terus kucing-kucingan dengan perasaanku sendiri. Gak bisa kalau begini terus nih, lama-lama keburu diambil orang deh Irena. Apalagi pria itu, pria itu siapa ya? Sepertinya sudah kenal dekat dengan Irena. Apalagi saat dirumah sakit tadi. Arrgghh, Rudi rudiii kenak Lo kan, mulai memikirkan hal yang gak penting kan? Suka sama karyawan kamu sendiri, Shirena Indira"
Jam mulai menunjukkan pukul 12 malam, tepat tengah malam. Rudi malah tidak bisa tidur, memikirkan keadaan Irena. Hatinya masih terasa gelisah untuk memikirkan gadis itu. "Bagaimana kalau dia benar-benar masuk kerja besok ya, bisa kenak pelanggaran Undang-undang ketenagakerjaan dong aku nanti memperkerjakan karyawan yang sedang sakit. Mulutmu harimaumu Rud!"
Saat sedang sibuk memikirkan keadaan Irena, akhirnya Rudi bisa tertidur di jam 4 pagi. Sementara jam 5 subuh ia sudah harus bangun lagi untuk sholat subuh.
Alarm berbunyi waktu sholat subuh tiba. Dengan mata yang masih setengah terbuka, Rudi harus memaksakan untuk tetap bangun, karena sudah kewajiban umat Islam untuk menunaikan sholat subuh.
Sehabis sholat subuh, sudah menjadi kebiasaan Rudi tidak tidur lagi, ia selalu mengecek email ataupun pekerjaan yang masih belum selesai dikantor. Tipe yang pekerja keras memang, bukan juga hanya tampan dan kaya. Rudi juga orang yang selalu mengedepankan kedisiplinan dalam dirinya selama ini.
"It's time to work, Oke i'm okay. Bimillah for today" gumam Rudi.
Ia mengecek ponsel miliknya, maksud hati ingin mengubungi Irena tapi ia meletakkan kembali ponselnya.
"Hemm buat apa aku hubungi dia, aduuh Rudi masih aja mikirin gadis itu. Mending singgah ke Coffee Shop aja, ya itu lebih baik. Ngopi buat lebih tenang kayaknya nih"
__ADS_1
Saat tiba di Coffee Shop, Rudi dikejutkan dengan keberadaan Irena didalam. Bukan hanya sendiri, Irena ditemani oleh Dika. Pikiran Rudi menolak untuk masuk, tapi hatinya ingin tetap masuk dan mengetahui sedang apa mereka berdua disana.
Rudi nekat masuk kedalam, biarpun hatinya sedikit tidak tenang melihat Irena bersama Dika.
Rudi pura-pura tidak melihat Irena, tapi Irena melihat kedatangan Rudi. Irena pun memanggilnya "Selamat pagi Pak, mau ngopi juga Pak? Mau saya pesankan?"
"Ehh selamat pagi, nggak usah saya take a way saja, sepertinya kurang enak suasana untuk minum disini hari ini" ucap Rudi.
Irena tampak bingung. Kenapa lah Bapak satu ini. Aneh banget, masih pagi juga.
"Kamu lanjutin deh ngobrolnya, tapi jangan keasikan ngobrol. Entar telat bisa saya potong gaji kamu" ucap Rudi lagi.
Irena hanya mengangguk menjawab perkataan Rudi.
"Boss kamu itu? Killer banget kayaknya" tanya Dika.
"Ya kamu kan lagi sakit, belum totalitas banget. Siapa tau butuh tumpangan, kan kita juga searah" ucap Dika sambil membereskan gelas kopi mereka.
"Emangnya kamu kerja disini? Kok aku baru lihat ya" tanya Irena.
"Iya kerja disini, tapi mungkin pas kamu kesini aku entah lagi didalam atau lagi keluar ngantar pesanan juga" jawab Dika.
Apa sih Dika, kok malah jawab pekerja disini. Garing banget jawabannya. Sudahlah nggak penting-penting banget kayaknya siapa aku. Untuk bisa lebih dekat dengan dia aja udah Alhamdulillah banget.
"Oke deh, aku mau masuk ke kantor dulu. Bisa ribet urusannya kalau telat. Nanti aku pulang naik taxi aja, gak usah repot-repot cari perhatian aku dan juga Ibu. Aku harap ini juga perjumpaan terakhir kita ya. Jangan ngarep yang lebih deh ya, nanti kalau gak kesampaian bisa sakittttt bangettt" Irena berbisik ke telinga Dika sambil membawa Laptop dan tas kerjanya.
Irena masih bisa-bisanya berbicara seperti itu. Kata-kata itu selalu ia lontarkan saat menolak pria-pria yang Ibunya kenalkan. Dan setelah itu, pria-pria itu jelas menjauh dan tidak mendatanginya lagi. Cara yang ampuh pikir Irena.
__ADS_1
Dika tampak semakin merasa tidak ada harapan baginya. Apa ia harus mundur atau terus melanjutkan perjuangannya.
Selama ini, ia sudah sering melihat Irena datang Coffee Shop miliknya, dan selalu memperhatikannya. Diawal perjodohan mereka, ia tidak tau kalau Irena lah yang akan dijodohkan dengannya. Setelah perjumpaan dinner saat itu barulah ia tau bahwa gadis yang dikenalkan Ibu mereka adalah Irena.
Dika terus memperlihatkan senyuman tipisnya, senyuman manis dari seorang pria cool, tampan dan kaya. Siapa coba yang tidak meleleh dengan pria seperti itu. Hanya Irena saja lah gadis yang menolaknya.
Sesampai didalam ruangan kantor, ada sesuatu yang menarik perhatian Irena. Irena melihat jantungan berisi kopi dan roti diatas meja kerjanya. Dari siapa ini pikirnya, tidak mungkin dari Dika. Lagian aku juga baru saja dari sana.
Irena terus berpikir, tapi karena ia sudah merasa kenyang. Ia memberikannya kepada Rudi yang baru saja datang keruangan kantornya juga.
"Bagaimana kamu sudah siap untuk ketemu customer kita?" tanya Rudi
Irena terdiam dan berkata "Ehh sudah Pak. Pak ini buat bapak saja, saya sudah kenyang"
Rudi tercengang heran, padahal itu dari dirinya tapi Irena malah memberikan kembali kepadanya. Perhatian yang sia-sia pikirnya.
"Buat saya? Kamu kira saya tidak mampu membelinya ya? Ini kan punya kamu, kenapa malah kamu balikin ke saya lagi"
Perkataan Rudi mengisyaratkan bahwa itu adalah pemberian darinya. Irena mulai menaikkan alisnya dan mulai berpikir.
"Oh jadi ini dari Bapak ya?" tanya Irena.
"Apa dari saya? Emangnya saya sebaik itu kamu lihat? Eee.. jangan mikir yang aneh2. Sudah sini buat saya saja. Cepat siap-siap. Saya tunggu dibawah" ucap Rudi.
Keluar dari ruangan Irena, ia merasa perhatiannya sia-sia. Ia sangat kesal dan membuangnya ketempat sampah.
"Shhittt ... Sia-sia banget aku belikan ini untuk dia" gerutu Rudi.
__ADS_1