
Setiap manusia pernah berbuat salah dalam hidupnya. Dan semua orang pasti pernah mengukir sebuah kenangan indah sampai tidak akan pernah bisa melupakan.
Dika mengawasi rumah Irena hampir satu jam. Irena belum juga terlihat untuk mengobati rasa rindunya meski dari kejauhan.
Ia hanya bisa menyesali segala kesalahannya, hingga tidak tau bagaimana cara menciptakan kebahagiaan itu terus ada sampai akhir nanti. Andai saja dirinya gak menuruti hasrat dan nafsu hati, mungkin kini dirinya masih hidup bahagia bersama Irena.
Dika mengepalkan kedua tangan, "Arrghhh ..." Dicengkeramnya kuat-kuat sisi kemudi, menggeram seperti singa yang sedang kelaparan.
"Sial sial sial!!!" Sesalnya dengan kepala seperti akan pecah dan bisa meledak sewaktu-waktu.
"Irena ..." Tangisnya pecah.
"Aku menyesal!" Dika meluapkan kegundahan hatinya sendiri.
Dirinya masih saja belum beranjak dari seberang rumah Irena, tapi kali ini ia disuguhkan dengan pemandangan yang semakin menohok dihatinya. Tampak Irena dan Bryan berbincang dan tertawa bersama, hingga mereka berdua pergi dan tak terlihat lagi.
Melihat mereka sedekat itu, hati Dika semakin terasa sesak. "Mereka pasti sangat bahagia melihat keadaanku sekarang." Batinnya.
*****
Irena mengajak Bryan untuk makan siang di sebuah restoran untuk merayakan kemenangan atas gugatannya. Dia benar-benar berterima kasih pada pria itu, karna telah membantunya sampai akhir. Tanpa Bryan, dirinya nggak akan bisa setangguh seperti sekarang ini.
"Sekarang apa rencana kamu?" Tanya Bryan saat tiba di restoran.
"Aku juga nggak tau, Bryan. Yang pastinya aku udah lega, karna Ibu dan Kania bisa menerima keputusan ku ini, dan ternyata mereka sedari dulu juga sudah mendukung, jadi mungkin mereka nggak begitu kaget kali ya ketika tau kalau aku sudah resmi bercerai dari Dika. Hahaha." Kekehnya.
"Walaupun selama ini kamu terlihat baik-baik saja, mereka pastinya sangat mengerti kalau kamu sudah terlalu sering dikhianati Dika. Orang tua mana yang ingin anaknya menderita, pasti nggak ada." Kata Bryan.
Irena tersenyum, ia nggak berkedip menatap Bryan. "Aku menemukan diri kamu yang dulu seiring berjalannya waktu kebersamaan kita. Apa aslinya kamu memang begini atau cuma topeng biar aku terpesona?" Candanya.
__ADS_1
Bryan terkekeh lalu berdecak, "Sebenarnya aku itu dari dulunya ya memang begini. Dengan sifat kamu yang gampang banget emosi tapi sebenarnya melow, makanya aku suka banget godain kamu. Tiap lihat kamu marah, aku benar-benar gemes."
"Ren, aku boleh jujur?" Tanya Bryan dengan serius.
Ponsel Irena berbunyi, Bryan sedikit kecewa.
"Sorry ..." Ucap Irena merasa nggak enak.
"It's okay, angkat aja. Mungkin saja penting."
Irena berdecak, dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan melihat siapa yang menelpon. Nama Dika tertera disana, membuat mood-nya seketika rusak. Pria itu terus saja mengganggu, padahal Irena sudah menegaskan kalau hubungan mereka telah berakhir.
"Nggak penting!" Ucap Irena sembari me-riject panggilan telepon itu.
"Sudahlah, lebih baik kita makan makanan yang sepertinya sudah mulai dingin." Sambung Bryan.
Irena tersenyum dan lanjut makan bersama.
****
"Kiriman?" Irena mengerutkan dahi. Dia berjalan mendekati Ibunya yang tengah membawa sebuah kotak, bersama dengan bunga diatasnya.
"Siapa yang mengirimkannya?" Tanyanya sembari menerima kotak dan bunga itu.
"Kurir sih tadi, kebetulan Ibu lagi ada didepan tadi. Kalau begitu, Ibu balik ke dapur lagi ya." Pamit Ibu.
"Makasih ya, Bu."
"Yes, you're welcome anakku." Ibu pergi setelah itu.
__ADS_1
Irena tampak senang, dihirupnya aroma bunga mawar merah sambil memejamkan mata. Dia berjalan dan duduk ke tepi ranjang. Di bukanya kotak itu dengan berbagai macam kejutan didalamnya. Dimulai dari card bertuliskan undangan makan malam, lengkap dengan denah lokasi. Lalu satu set perhiasan yang begitu indah, diakhiri sebuah gaun berwarna putih, warna favoritnya.
Tak lama setelah itu, ponsel Irena berbunyi. Bryan meneleponnya. Dengan cepat ia menerima panggilan itu. Sambil menatap dengan debar jantung yang tak karuan.
"Kamu sudah terima kejutannya?" Tanya Bryan secara langsung.
"Ka-kamu apa-apaan sih, Bryan. Aku kan jadi enak kalau kamu sering-sering kasih perhatian lebih kayak gini." Candanya dengan hati teramat senang.
"Berarti aku gak salah kirimin kamu semua itu dong. Itu bukan apa-apa, Ren. Yang terpenting sekarang, kamu mau kan makan malam sama aku?"
"Aku harus memakai gaun dan perhiasan ini?"
"Sebenarnya itu nggak wajib. Kalau kamu nggak suka dengan gaunnya atau perhiasannya terlalu norak jangan dipakai. Senyamannya kamu aja. Karna yang terpenting buat aku, kamu mau datang."
Irena tersenyum, "Yasudah, nanti aku kabari kamu lagi." Berpura-pura tenang, padahal kaki rasanya ingin lompat kegirangan seperti anak kecil.
"Oke, aku lanjut kerja dulu ya." Pamit Bryan.
Setelah Bryan mematikan telepon, Irena benar-benar melompat diatas kasur. Sangat bahagia luar biasa. Diambilnya gaun itu lalu menempelkan ke tubuhnya, lalu berputar-putar bak Cinderella.
Ting!
Pesan whatsApp masuk dari Bryan. "Aku lupa bilang kalau aku sudah tidak sabar menantikan kedatangan mu malam ini. Semua yang aku lakukan, terkhusus buat kamu."
.
.
.
__ADS_1
Wuihh, ikutan lompat-lompat juga ahh ðð
See you next ðĪŠ