Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 95


__ADS_3

Kini semua telah berubah. Sudah beberapa bulan berlalu, Irena dan Bryan sudah tak pernah saling bicara. Sekalipun bicara hanya tentang pekerjaan yang ada dikantor.


Irena dan Bryan saling mengerti posisi masing-masing. Tapi jauh dilubuk hati Bryan yang paling dalam, ia masih mencintai wanita itu sampai kapanpun.


Saat ini Irena tinggal menunggu hari kelahiran buah hatinya. Semua orang tampak senang, tanpa terkecuali untuk menanti kehadiran Baby Girl.


Ia masih saja ingin terus bekerja tanpa memperdulikan saat-saat kelahirannya nanti.


"Kamu masih kerja, Ren? Bukannya perkiraan tanggal lahiran kamu tinggal lima hari lagi ya?" Tanya Sonia.


"E-iya sih. Tapi gak tau entah kenapa aku rasanya masih ingin terus bekerja. Bawaan baby kali ya, Hihihiii ..." Jawab Irena.


"Tapi kayaknya kamu udah harus stop deh, kasihan juga kan kamu. Harus prepare jiwa dan raga yang kuat, biar ada tenaga ekstra untuk lahiran nanti."


"Prepare apaan? Tenang, semua udah beres. Aman." Jawab Irena lagi.


"Hemm, memang keras kepala sih. Kepala batu, weekk ..." Ejek Sonia becanda.


"What?? Kepala Batu? Tega amat kasih julukan seperti itu." Ucap Irena sembari berjalan mengambil minum.


"Awww!!! Awww!!! Perutku ...." Irena merintih kesakitan di bagian perutnya.


"Ren, kamu kenapa? Ren, ren ..." Teriak Sonia karna Irena tiba-tiba langsung pingsan setelah merintih kesakitan.


"Tolong .. Tolong ..." Sonia berteriak


Ruangan kerja Bryan yang dekat dengan Irena, terdengar teriakan Sonia olehnya. Bryan langsung berlari menuju arah suara teriakan itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Ucap Bryan tanpa banyak bicara langsung berlari dan menggendong Irena ke mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.


"Sonia, kamu hubungi keluarganya sekarang untuk segera menyusul kerumah sakit terdekat sini." Titah Bryan.


"Baik, Pak." Jawab Sonia.


****


"Dik, aku hubungi Irena kenapa gak diangkat ya?" Tanya Rebecca jam enam sore.


"Enggak, masih dikantor mungkin. Emang ada apa ya? Kalian sudah janjian?" Tanya Dika balik.


"Iya nih, aku mau minta tolong belikan obat dan beberapa makanan sama Irena kalau dia udah pulang kerja. Soalnya Jhonatan lagi diluar kota, belum bisa dihubungi mungkin lagi ada perjalanan bisnis."


"Kamu sakit? Kalau parah mending ke dokter aja deh Becc" Jawab Dika.


"Irena kemana ya? Apa masih sibuk meeting kali ya." Tanya Rebecca heran.


Dika yang tanpa banyak berkata lagi langsung berkata, "Entar deh, sebentar lagi aku pulang nanti sekalian aku singgahi ketempat kamu. Biar aku aja yang beli. Mungkin Irena benar-benar lagi sibuk sih, soalnya udah beberapa bulan ini dia sibuk terus. Lagi ada project besar katanya."


"Engg-enggak, gak usah Dik. Aku pesan online aja deh. Takut ngerepotin kamu." Ucap Rebecca.


"Oh, enggak. Sekalian lewat soalnya searah juga."


"Hem, baiklah. Maaf ngerepotin ya." Jawab Rebecca.


Rebecca yang beneran sakit dan tak disangka Dika akan datang kerumahnya, langsung punya rencana dan akal bulus yang tak disangka-sangka.

__ADS_1


"Baiklah, gak nyangka ya kesakitan membawa rejeki. Padahal aku memang sakit beneran. Berarti Dika udah percaya kalau aku benar-benar berubah. Gak perlu waktu lama untuk membuat mereka semua percaya." Rebecca bergumam.


"Ren ... Ren ... Sepertinya aku akan memulai permainanku lagi. Wait and see."


****


"Sonia, bagaimana? Kamu sudah menghubungi keluarganya?" Bryan menelpon Sonia.


"Sudah, Pak. Yang bisa dihubungi hanya Ibu dan adiknya. Suaminya saya hubungi gak diangkat Pak." Jawab Sonia.


"Baiklah, yang penting kamu sudah bisa kasih kabar mereka. Saya lagi nunggu Irena diruang UGD. Kamu bisa tolong membereskan semua barang-barang Irena terus kasih ke supir saya untuk membawanya kesini." Titah Bryan lagi.


"Baik, Pak." Jawab Sonia.


Telepon pun berakhir tapi Sonia tetap saja bergumam, "Wah, Pak Bryan perhatian banget sama Irena ya. Feeling ku nih ya, kayaknya mereka berjodoh deh, Hihihii ..."


Ditempat yang berbeda, Bryan begitu sangat panik dan cemas menunggu kabar Irena yang sedang diperiksa oleh dokter di ruang UGD.


"Ayo dong Ren, kamu harus kuat. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, tapi kenapa malah jadi seperti ini lagi. Ini yang kedua kalinya aku mengantar kamu ke rumah sakit." Gumam Dika menundukkan kepalanya kebawah sembari terus berdoa untuk keselamatan wanita yang dicintainya itu.


.


.


.


*See you next, Readers.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya 🙏🙏*


__ADS_2