
Matahari mulai terbit, cahaya yang menyinari tubuh mereka yang tertutup selimut membangunkan Irena. Suasana tadi malam yang sangat menggairahkan membuat mereka lupa menutup tirai jendela kamar yang langsung menghadap kearah pantai.
Kondisi tubuh yang masih saling memeluk satu sama lain dan tanpa sehelai benangpun didapati Irena. Dirinya yang masih di peluk erat suaminya. Mengingat kejadian tadi malam, ia terdiam kemudian menangis. Ia seakan tak rela setelah apa yang dilakukan suaminya padanya, tapi kenapa ia malah tak dapat menolaknya.
"Bodoh banget sih Ren, lemah banget kamu. Arrgghh!!!"
Dika terbangun saat mendengar amarah dan tangisan Irena. Ia buka matanya dan mendapati Irena mengusap air matanya.
"Kamu kenapa?", tanya Dika dengan suara berat.
Irena hanya diam dan tak menjawab sepatah katapun.
Dika melirik kearah wajah Irena, ia mengerti apa yang terjadi pada istrinya itu, ia bangun menegakkan tubuhnya dan memeluk kepala Irena.
Untuk kedua kalinya setelah apa yang terjadi tadi malam, Dika kembali memeluk Irena dalam keadaan menangis. Irena yang tak mampu menahan air mata yang akan jatuh, akhirnya menumpahkannya. Irena menangis di pelukan Dika. Kulit polos mereka tanpa sehelai benang pun bersentuhan tanpa ada pemisah apapun.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, percayalah padaku. Aku ingin kamu mengerti. Tolong percaya padaku, aku suamimu." Dika berharap kalimat itu bisa sedikit menenangkan istrinya yang tampak sedih.
Irena melepaskan tubuhnya dari pelukan Dika, ia berusaha bangun namun seluruh tubuhnya seakan lemas untuk digerakkan. Ia masih terdiam dan tak ingin mengatakan apa yang saat ini ia rasakan.
Ia tetap berusaha kuat untuk bangun mengambil pakaian yang ada di sofa, tapi saat melangkah ia merasakan sakit di area selangkangannya. Ia tidak perduli saat berjalan dalam keadaan polos begitu saja. Lagi pula suaminya juga sudah pernah melihat tubuhnya pikirnya.
Dika yang menyadari apa yang dirasakan Irena dengan melihat caranya berjalan. Dika dengan sigap langsung berjalan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya dan mengambil handuk dan kimono untuk menutupi tubuh istrinya.
Kembali ia gendong istrinya untuk kekamar mandi, ia sangat mengerti dengan kondisi Irena saat ini.
Irena menggelengkan kepalanya, "tidak usah, aku bisa sendiri. Aku tidak yakin kamu bisa menahannya, mengingat kamu seorang pria normal yang tak akan mungkin bisa"
Dika tersenyum tipis seakan mengartikan kalau apa yang dikatakan istrinya itu sangat benar sekali. Kini mereka sudah didalam kamar mandi.
"Sekarang kita sudah didalam kamar mandi. Aku yang tidak yakin kamu akan menyuruhku untuk keluar dan membiarkan mu begitu saja" goda Dika.
__ADS_1
"Hemm ..." Ucap Irena menaikkan bahunya.
"Baiklah kita akan mulai kembali pertempuran kita yang belum terselesaikan" Ucap Dika sembari membuka selimut tebal ditubuhnya seakan tak ada keraguan ingin menghabisi istrinya sampai salah satu dari mereka meminta ampun.
Mereka pun memulai kembali pergumulan tanpa menutup pintu kamar mandi. Hanya suara desiran air yang keluar dari shower kamar mandi yang terdengar.
.
.
Eitss, udah cukup ya cukup. Othor gak mau ngelanjutin adegan detailnya, takut Othor takutt!! 😂😂😂
Kita lanjutin next part nya ke cerita lain aja ya.
Othor gak yakin ini keputusan yang tepat untuk Othor lanjutin adegan 21 nya, nanti jari-jari Othor terbiasa buat cerita begituan. Bisa kenak gantung sama suami nanti 😂
__ADS_1
LOVE YOU 💙