Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 67


__ADS_3

"Rebecca?" Dika menghubungi Rebecca. Irena membulatkan matanya menatap Dika. Lalu Dika langsung menghidupkan tombol speaker agar Irena bisa mendengar percakapan mereka.


"Ya, Sayang. Tumben menghubungiku? Kenapa? Kamu pasti kangen sama aku kan?"


"Aku tau! Kamu yang melakukan semua ini kan!"


"HAHAHA ... melakukan apa maksud kamu, sayang?"


"Hentikan tertawamu Rebecca. Aku sudah memperingatkan mu. Jangan pernah ganggu keluargaku."


"Kenapa? Ada apa?"


"Jangan banyak berkilah. Aku gak akan membiarkanmu menyakiti istriku."


"Oh iya aku lupa dia istrimu sekarang ... Sebelum kamu mengenal dia, aku yang mengenalmu deluan. Dan hanya aku yang bisa mengerti dan bisa memuaskan semua hasrat mu yang gak pernah sekalipun kamu dapatkan dari istrimu itu, terutama untuk mendapatkan seorang anak.


HAHAHAA"


"Kamu sudah gila, Rebecca! Ingat kedua orang tua mu, mereka pasti sedih melihatmu seperti ini!"


"Cih! Tau apa mereka tentangku? Aku gak peduli, Mas. Siapa suruh kamu mencampakkan aku."


"Rebecca, yang semua kita lakukan dulu salah!"


"Aku gak perduli, Mas. Apa yang kamu bisa dapatkan dari wanita itu? ***? Anak? Gak ada yang lebih baik dari pada aku, Mas. Kenapa kamu menolak ku?"


"Rebecca! Jangan menguji kesabaran ku. Kamu tau bagaimana aku kan?"


"Aku mengenal dirimu dengan sangat baik, sayang. Dan ... Aku tau kamu gak akan bisa menolak saat diriku menunggumu di ranjang malam ini HAHAAHA."


Rebecca memutuskan percakapan.


"Jangan gila Rebecca! Hallo! Rebecca! Rebecca! Uh, ****!"


Dika menghubungi Rebecca kembali. Tapi terdengar nada ponsel tidak dapat dihubungi. Ia pasti mematikan ponselnya.


Dika mengacak rambutnya geram. Sementara Irena yang mendengar semua percakapan mereka bergumam, "Jadi karna aku dulu gak bisa memuaskan dirimu di ranjang Mas, makanya kamu lebih memilih Rebecca. Apa hanya *** yang ada di otakmu dulu, cihh! Aku juga bisa mas kalau kamu menginginkannya. Bukan itu tujuan kita menikah mas, melainkan untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah dan menghindarkan diri dari segala kemaksiatan. Tapi kamu malah melakukan kemaksiatan itu bersama dengan Rebecca."


Dika masih mengacak geram rambutnya. Irena menyentuh bahunya, dan mengusapnya dengan lembut mencoba menenangkannya. Irena tau, ia lebih khawatir dari pada dirinya.

__ADS_1


"Mmm ... Mas. Aku tau ini masih siang. Tapi lebih baik kita pulang aja yuk, mas." Irena berbisik manja.


Entah kenapa Irena terpaksa melakukannya. Mengalahkan rasa malu karna berlaku genit seperti sedang menggoda suami orang lain. Mungkin aja seperti inilah yang dilakukan Rebecca saat menggoda suaminya, pikirnya. Dan ini diluar kebiasannya. Mungkin ia terpancing dengan pembicaraan antara suaminya dengan Rebecca.


"Tidak, bukan style ku sama sekali. Tapi aku gak tega melihatnya seperti ini. Mencemaskan ku, berusaha menjagaku dari orang psycho seperti Rebecca " gumamnya dalam hati.


Irena memeluknya, melingkarkan lengan ke lehernya dan menatapnya. Dika tersenyum lebar, mencubit hidung Irena dengan gemas. Lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Irena dan menariknya berdiri. Irena menurut saja saat Dika menariknya berjalan keluar dari ruangan kerjanya.


*****


Saat baru saja turun dari mobil. Seorang anak perempuan dengan rambut yang dikepang datang menghampiri Irena memberikan sebuah amplop coklat lagi. Kali ini ia gak bertanya, hanya memperhatikan sekeliling sembari menerima amplop itu dan mengucapkan terimakasih pada anak itu. Anak itu berlari ke seberang jalan dan bermain kembali dengan anak-anak lainnya.


Dika mengambil amplop itu dari tangan Irena dan membukanya. Matanya tampak membelalak ngeri. Refleks Irena langsung mengambil foto itu.


Foto Dika dan dirinya saat berjalan berdua, tapi kali ini foto Irena di silang dengan spidol merah. Sepertinya dirinya lah yang akan menjadi target.


Suaminya memandang cemas wajah istrinya. Irena menghela nafas lalu tersenyum memeluknya. "Aku sengaja melakukan ini, Mas. Biar Rebecca semakin kesal dan marah melihat kemesraan kita."


"Sayang ..." Dika menatap heran.


"Gak papa mas, kalau dia melihat kita seperti ini. Aku ingin dia keluar menunjukkan dirinya sekarang."


Irena tersenyum pada Dika. "Kan katanya kamu akan menjaga aku."


Irena tak ingin masalah dengan Rebecca berlarut-larut. Ia takut semua itu akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Kalau mau meledak, biarkan ia meledak sekarang. Irena mulai mencium lembut Dika. Ia yakin Rebecca pasti melihat mereka.


Lalu terdengar suara decitan ban mobil yang gasnya sengaja di rem mendadak. Irena dan Dika menoleh, melihat mobil sport hitam melaju dengan kencang kemudian disusul dua buah mobil lain mengikuti mobil sport hitam itu.


Dika menarik tangan Irena bergegas untuk masuk kedalam rumah. "Kamu terlalu berani mengambil resiko, sayang. Bagaimana kalau tadi dia membawa pistol atau apapun yang bisa melukaimu?" Dika tampak marah sembari memegang kedua bahu Irena.


"Aku akan terima resiko apapun itu, mas. Biar masalah ini cepat selesai."


"Mas gak mau kamu celaka."


"Aku capek, Mas. Aku mau kita hidup normal. Aku kira setelah kita kembali bersama, kita bisa menjalani semua ini dengan baik. Tapi ternyata apa. Rebecca semakin menjadi brutal seperti ini."


Saat Irena meluapkan semua kekesalannya, ponsel Dika berdering. Ia menerima panggilan itu dan menjauh darinya. Irena terus mengamati wajah Dika yang tampak geram. Lalu ia matikan ponselnya dan kembali menghampiri istrinya dengan wajah cemas.


"Ada apa?" tanya Irena mengamati sorotan mata suaminya yang cemas.

__ADS_1


Dika memejamkan matanya sejenak lalu tersenyum. "Enggak ada apa-apa, sayang."


"Aku tau kamu bohong, Mas! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku! Kenapa kamu gak mau jujur! Aku lebih menyukai kejujuran meskipun itu menyakitkan daripada kebohongan yang akhirnya juga akan menyakitiku." geram Irena karna Dika pasti menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ih, kamu lucu kalau lagi marah begitu." Dika terkekeh geli mencoba mengalihkan pembicaraan.


Saat Dika meraih tubuh Irena, Irena menghindar. Ia berjalan ke luar menuju balkon kamar mereka. Ia hanya ingin Dika terbuka padanya. Hanya gak mau kejadian dulu terulang lagi, saat ia mengetahui sendiri kebohongan suaminya.


Irena mulai terlarut dalam kesedihannya, lamunannya terhenti saat Dika memanggil namanya. "Rennn ..."


Hanya lirikan yang Dika dapatkan. Irena tetap bungkam menahan kekesalannya.


"Kamu marah ya?" Dika mendekat padanya tapi Irena menjauh.


Angin dingin menyambut mereka saat berada di balkon. Kaos tipis menerawang yang biasa Irena pakai gak mampu menahan dinginnya udara malam itu.


Ingatan akan foto-foto itu kembali menghantui Irena. Kenapa Rebecca melakukan itu semua padanya? Sebegitu besarnya ia sangat menginginkan suaminya. Rebecca begitu membencinya. Dengan kejadian tadi sore, Irena yakin Rebecca gak akan tinggal diam. Entah apa yang akan terjadi besok, tapi yang pasti Irena sudah lelah.


Sepasang tangan menyentuh bahunya. Tanpa menengok, ia menepis tangan itu lalu berbalik hendak masuk kedalam kamar. Tapi Dika mencekal lengannya erat.


"Lepasin, Mas!" teriak Irena kesal.


"Apa-apaan sih kamu sudah berani meneriaki suamimu!"


"Kamu yang apa-apaan! Aku cuma ingin kamu memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian sampai detik ini. Sesulit itukah untuk memberitahuku?"


"Mas hanya ingin menjaga kamu melindungimu, sayang."


"Terserah kamu, Mas!" Irena melepaskan tangan Dika dan berjalan masuk. Ia sudah lelah berdebat dengan suaminya karna yang ia inginkan hanyalah sebuah jawaban atas kekhawatiran masa lalu suaminya dan selingkuhan suaminya dulu.


.


.


.


*Wow! Sepertinya Irena udah mulai strong nih. Imbang-imbang kayak Gal Gadot lah ya 😂😂😂


Gimana Readers? Sejauh ini gimana dengan perkembangan cerita Othor? Mohon koreksi kalau ada yang kurang mengenakkan ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


I Love You 💙


__ADS_2