Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 61


__ADS_3

"Dia suamimu, Ren." Ibu Irena yang sedari tadi memperhatikan perdebatan suami istri itu memberanikan diri untuk menenangkan mereka.


"Bukan lagi, suami apa yang tega mengkhianati istrinya." Irena memandang sinis Dika.


Ibu Irena menyuruh mereka berdua duduk di sofa ruang tamu untuk membicarakan semuanya. Ini memang keputusan yang terberat dalam hidupnya, apalagi ini menyangkut hidup anaknya.


"Ibu sudah tau semuanya nak." ucap Ibu Irena pelan kepada Dika.


"Mungkin memang masih banyak kekurangan dalam diri anak Ibu hingga kamu bisa berbuat seperti itu padanya. Ibu sudah mencoba sebisa Ibu untuk menenangkan Irena, tapi kembali lagi semua keputusan ada ditangannya."


"Ibu menghargai keberanian kamu kerumah dan ingin memperbaiki semuanya. Sekarang Ibu serahkan semuanya pada kalian berdua untuk berbicara dari hati ke hati kalian masing-masing. Ingat, setelah ada kesempatan pertama jangan harap ada kesempatan kedua. Irena anak Ibu, Ibu gak mau anak Ibu hidup dalam kesakitan." ucap Ibu Irena lirih.


"Ibu kebelakang dulu menyiapkan makan malam kita nanti." pamit Ibu Irena.


Mereka masih saja saling berdiam diri semenjak Ibu Irena meninggalkan mereka berdua. Tampak Dika berulang kali melirik kearah istrinya untuk mengobati rasa rindunya selama ini. Sementara Irena hanya menundukkan kepalanya menahan buliran air mata yang takut akan terjatuh lagi saat menatap wajah suaminya itu.


Dika beralih duduk kesamping istrinya, "Mas merindukan mu sayang."


"Aku berharap mas jangan pernah kesini lagi." Irena berkata tegas.


"Irena ... " gumam Dika pelan, setetes air mata lolos keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Sudah tidak adakah kesempatan kita lagi untuk bersama? Mas menyesal. Maafkan kesalahan Mas." Dika meluapkan kegundahan hatinya.


"Mas berjanji gak akan mengulangi kebodohan yang akan membuat mas kehilanganmu. Maafkan mas yang gak bersikap baik, menyakitimu dan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu beri."


Irena tetap saja tak menoleh ke arahnya dan memilih untuk berdiam diri.


"Baiklah, mas gak akan memaksa kamu untuk kembali pada mas. Tapi tolong pikirkan, kita ulangi semuanya dari awal lagi dengan hari-hari bahagia yang akan kita lewati berdua. Apapun mau kamu, mas akan turuti. Mas akan tetap berjuang untuk mendapatkan mu lagi." ucap Dika tulus.


Irena memberanikan diri menatap suaminya. Ia tatap Dika lekat ke arah dua bola mata hitamnya. Seketika dadanya sesak, dan berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.


"Selamat menuju kematian, Dika." batin Dika.


Dika meremas rambutnya keras. Ia tak tau kenapa ia tetap menangis seperti ini. Mungkin ia sebegitu cintanya dan tak ingin melepaskan kepergian Irena. Ingin rasanya ia berteriak mengeluarkan rasa sesak di dada. Ia harus bisa menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Berdiri beranjak untuk pamit pulang dengan langkah gontai, hingga berpapasan dengan Ibu Irena.


"Mau kemana Dika?" tanya Ibu Irena dengan nada khawatir memperhatikan penampilan Dika yang tampak frustasi.


"Dika pamit pulang dulu, Bu." sahutnya.


"Menginap saja disini. Kalian masih butuh waktu yang panjang untuk bicara. Teruslah berusaha untuk menenangkan hati istrimu jika kamu memang benar-benar menyesal atas perbuatanmu."


"Sepertinya Irena akan semakin marah kalau sampai itu terjadi Bu. Dika gak ingin membuatnya semakin sedih dengan keberadaan Dika disini. Biarlah Irena memikirkannya sekali lagi setelah apa yang sudah Dika bicarakan padanya tadi. Apapun keputusannya nanti, kalau memang sudah gak bisa lagi untuk kami bersama, Dika akan berusaha menerimanya dengan ikhlas walaupun itu berat." keluh Dika.

__ADS_1


"Dika minta maaf karna telah gagal menjaga anak Ibu yang sudah Ibu percayakan pada Dika, Bu." Dika menangis sesenggukan.


Dika berlalu pergi. Ia ingin melihat Irena yang mungkin saja untuk yang terakhir kalinya. Andai bisa, ingin rasanya ia memutar waktu. Kembali di masa dulu saat mereka hidup bahagia berdua.


Meski ia hanya melihat Irena dari kejauhan, setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rindunya.


Tanpa berpamitan dengan Irena, Dika berjalan pelan selangkah demi selangkah meninggalkan rumah Irena. Sempat muncul keraguan untuk pergi begitu saja saat ia sudah berhasil menemui Irena.


"Setidaknya aku sudah berusaha." gumamnya dalam hati.


Pada langkahan kaki kedelapan, langkahnya terhenti. Ada seseorang yang terlihat berpakaian rapi berdiri tepat dihadapannya. Dika yang sedari tadi berwajah sendu, memperlihatkan senyum tipisnya.


.


.


.


*Awas tiba-tiba tersenyum sendiri, bisa jadi pertanda ada yang tidak beres dengan Otak Anda 😂😂😂


*semakin banyak Like, semakin banyak Vote, semakin banyak Komen, semakin sering Ufdet*

__ADS_1


__ADS_2