
"Terima kasih atas cinta, kasih sayang, dan sebuah kehangatan keluarga selama ini. Kamu tau kan mas, gimana rasa sakitnya aku, kecewanya aku bahkan sedihnya aku selama ini. Kamu sudah tau juga kan gimana sulitnya menjalani hidup dengan perasaan yang seperti itu."
"Sudahlah, aku sudah katakan aku memaafkan dirimu. Tidurlah, sudah waktunya kita beristirahat dan besok kita lanjutkan pernikahan kita yang kemarin pernah gagal untuk diperbaiki jadi lebih baik lagi."
Dika yang sedari tadi masih tertunduk, kini menengadahkan kepalanya keatas. Wajahnya kini mulai tampak berseri bahagia.
Setelah entah berapa lamanya ia memohon dan mengulang ucapan maafnya, akhirnya semuanya membuahkan hasil. Kini Irena memberinya kesempatan. Tak bisa ia pungkiri, istrinya memang berhati besar. Ia kuat dan mampu memaafkan kesalahan dirinya yang sangat begitu fatal. Ucapan Ibunya benar, patut saja Ibunya menyebut Irena menantu kesayangannya.
"Sekuat apapun perahu berlayar pada akhirnya ia akan berlabuh. Sederas apapun aliran sungai, akan bermuara juga. Begitu juga dengan cinta, tentu akan bermuara pada suatu tempat untuk berlabuh. Muara itu bernama Shirena Indira. Bagaimanapun juga, semua karna kemurahan hatinya."
"Kenapa kamu masih menangis?" tanya Irena memandang Dika.
"Mas hanya bahagia. Mas gak salah mencintai kamu." Dika tersenyum kemudian dengan lembut ia menghapus air mata Irena.
Dengan berani Dika memegang wajah Irena dengan kedua tangannya kemudian mengecup bibirnya. Dika pun melingkarkan lengannya dan menarik istrinya semakin rapat ketubuhnya. Irena tau, ia telah menyalakan hasrat suaminya yang terpendam selama mereka bertengkar. Karna kini Dika bukan hanya memeluk dan mencium, tetapi seluruh tubuhnya bereaksi mencumbu istrinya itu.
Dan setelah pertengkaran kami beberapa minggu belakangan kemarin, Dika menjadikan malam ini kembali sebagai malam yang tak terlupakan bagi mereka berdua.
__ADS_1
*****
Aktifitas Irena memasak untuk makan malam dan membereskan dapur sudah selesai. Piring gelas dan lainnya yang memenuhi meja sudah dicuci dan disusun dengan rapi.
Setelah membereskan semuanya, Irena mengambil dompet dan berjalan keluar rumah. Ia berniat membeli martabak manis yang ada di seberang jalan dekat rumah.
Irena berjalan dan memesan martabak manis. Sambil menunggu, Irena memainkan handphonenya dan membalas pesan whatsapp dari suaminya.
"Aku lagi membeli martabak manis diseberang jalan rumah kita. Kamu sudah pulang, mas?" balas pesan Irena kepada Dika.
Tanpa disadari sudah ada orang disamping Irena. "Sepertinya kamu menikmati sekali jadi istri Dika!"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Mas Dika sampai-sampai dia mencampakkan aku dan lebih memilihmu?" tanya Rebecca sinis dengan wajah menyeringai seolah sedang mengintimidasi.
"Aku gak melakukan apa-apa." jawab Irena dengan tenang.
"Bohong! Kamu mengincar hartanya kan!" tanya Rebecca menuduh Irena.
__ADS_1
Dengan memberanikan diri, Irena menjawab dan menentang tatapannya. "Enggak! Aku gak menginginkan hartanya!"
"Dengar ya Nyonya Irena, Dika itu milikku. Jauhi Dika! Kalau tidak, kamu akan rasakan akibatnya!" kata Rebecca menatap dengan penuh kebencian kemudian berdiri melenggang pergi dengan dagu terangkat.
Irena terus memikirkan semua perkataan Rebecca. "Kenapa Rebecca bisa tau kalau aku ada disini ya? Apa Mas Dika dan Rebecca masih ada hubungan? Apa Mas Dika masih menyembunyikan sesuatu dariku?" batinnya.
Seketika penjual martabak manis menyadarkan Irena dari lamunannya. Irena memberikan uang dan mengucapkan terima kasih padanya, lalu berjalan menyeberang ke depan komplek perumahan sembari menunggu Dika yang katanya sudah mau sampai di persimpangan jalan masuk komplek perumahan kami.
.
.
.
Happy Reading 💙
Thankyou buat para Readers yang masih setia nungguin next part ceritanya Othor 😘😘😘
__ADS_1
*semakin banyak like, semakin banyak vote, semakin banyak komen, semakin sering ufdet*