
"Ada apalagi dengan wanita sialan ini." Gerutu Dika emosi.
Dika pun mengecek handphone dan melihat apa isi pesan darinya.
"Besok malam aku ingin dinner dengan kalian berdua Mas, dengan istrimu juga. Ada yang ingin aku sampaikan tentang kesalahpahaman yang terjadi selama ini diantara kita. Aku sudah shareloct untuk lokasinya besok. Aku mohon kalian gak menolak ajakan ku kali ini."
"Berani sekali dia ngajakin dinner. Cihh!!" Kesal Dika.
"Kenapa Mas? Dari siapa?" Tanya Irena.
"Dari Rebecca. Dia ngajak kita dinner besok. Kamu baca aja nih." Jawab Dika.
"Coba sini aku lihat." Irena membaca detail setiap kalimat yang dikirim Rebecca.
"Dinner? Sepertinya kali ini dia ingin berdamai dengan kita, Mas. Ya mungkin saja memang benar dia sudah benar-benar berubah."
"Kenapa kamu jadi percaya sekali dengan dia, sayang. Kamu yakin? Mas masih belum yakin. Mas yakin ada sesuatu yang sedang dia rencanakan." Ucap Dika sangat yakin.
"Jangan gitu dong, Mas. Sejahat-jahatnya manusia pasti ada masanya mereka akan berubah. Ya mungkin kali ini memang sudah saatnya dia sadar. Apalagi dia sudah punya pasangan juga. Mungkin itu juga yang menyadarkan dia."
"Menyadarkan diri kalau lelaki bukan cuma kamu aja, masih banyak yang lebih baik."
"Ya .... yang lebih ganteng, lebih cakep, lebih kaya, dan pastinya lebih setia." Ucap Irena menyindir suaminya itu.
__ADS_1
"Wah, kok kamu jadi menyindir Mas begini ya. Mas tersinggung loh. Emangnya Mas gak masuk kriteria yang lebih lebih itu?" Tanya Dika.
"Ya .... kalau kamu merasa, berarti memang seperti itu adanya, Mas." Jawab Irena.
"Udah ahh, kamu ini."
"Jadi gimana? Besok kita ikut dinner bareng dia?"
"Ya, kita terima aja. Sekalian kita bisa lihat apakah dia benar-benar berubah atau tidak. Biar kita juga gak penasaran lagi kan." Jawab Irena.
"Oke ... Kalau kamu maunya begitu. Mas mau balas chat dia dulu." Dika mengambil handphone yang sedari tadi masih dipegang Irena.
"Eh mau chat apa? Jangan macam-macam ya Mas." Tanya Irena kesal.
"Hemm.. Gak begitu juga."
"Udah ahh, sini aku obati luka kamu tuh. Muka pada bengkak semua gitu." Irena mengalihkan pembicaraan, menarik badan Dika lebih dekat dengannya untuk segera diobati.
Dika terus saja meledek istrinya itu, tersenyum dan terkekeh walaupun menahan sakit diwajahnya.
*****
"Gimana? Dia terima ajakan kamu untuk dinner dengan kita besok?" Tanya Jhonatan.
__ADS_1
"Iya sayang, dia bilang oke." Jawab Rebecca.
Rebecca bersandar di bahu kekasihnya itu. "Maafkan aku ya sayang, kamu jadi terlibat dalam masalahku. Aku cuma gak mau masalah ini terus berlarut-larut, aku takut Mas Dika ngelakuin hal yang lebih gila lagi dari malam ini."
"Aku harus menyelesaikan semua ini. Aku ingin meminta maaf dengan mereka."
"Aku juga bersyukur banget, berkat kamu aku jadi sadar dan bisa melupakan semuanya. Dengan kamu mau terima aku jadi calon istri kamu, apalagi dengan masa laluku. Terimakasih ya, sayang." Rebecca terus mengucapkan kata-kata yang manis kepada Jhonatan untuk meyakinkannya.
"Iya sayang, aku juga bersyukur bisa kenal sama kamu. Aku harap tidak ada masalah lagi nanti kedepannya untuk hubungan kita."
"Dari awal aku tuh udah serius sama kamu, makanya aku gak mau kita lama-lama buang waktu hanya untuk pacaran. I just wanna you be my wife, my life." Ucap Jhonatan mengubah posisi memeluk dan mengecup lembut dahi Rebecca.
Rencana Rebecca kali ini benar-benar matang. Tak ada celah kegagalan sedikitpun. Apalagi sebentar lagi, ia akan menjadi istri seorang pengusaha termuda yang tak kalah jauh dengan Dika, lelaki yang pernah ia cintai.
Segalanya berjalan dengan lancar. Tak ada rotan, akar pun jadi. "Pembalasan harus lanjut terus sampai mereka hancur dan merasakan sakit seperti yang aku rasakan." Rebecca terus bergumam dalam hatinya.
.
.
.
See you next, Readers 😘
__ADS_1