
Disebuah pulau yaang indah, tapi jauh dari kata ramai. Angin pantai membuat dedaunan menari di tepian. Deburan ombak tampak tiada lelah untuk berkejar-kejaran. Tapi entah kenapa kali ini kicauan burung yang biasanya terdengar menemani pagi kita seolah mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
"Huaaaaaaahhh", Dika menguap. Jam di tangannya menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Kini ia berganti pakaian hanya menggunakan boxer dan baju kaos ketat putih memperlihatkan tubuh kekarnya. Dirasakannya suasana kamar begitu sesak, entah karna hati dan pikirannya lagi kacau atau memang kenapa ia pun tampak gelisah sembari terus memandangi tubuh istrinya yang masih saja tertutupi selimut.
Ia pandangi setiap sudut ruangan kemudian berjalan membuka satu persatu jendela kamar yang sedari tadi masih tertutup. Dan langsung pemandangan laut yang terpampang di hadapannya.
Pulau yang mereka tempati cukup private. Satu kamar dengan fasilitas yang lengkap, mulai dari bar, balkon teras dan kolam renang sendiri membuat siapapun yang menginap betah untuk terus di dalam sana.
Tak lama ia memandang keluar, ia menarik napasnya dalam-dalam. Menghirup udara segar yang memenuhi paru-parunya. Ia coba untuk menenangkan pikirannya yang gelisah. Lalu ia menoleh kebelakang, melihat istrinya masih saja menutupi dirinya dengan selimut.
"Sayang, kamu gak bangun?" Ucap Dika memberanikan diri berjalan menghampiri Irena. Naik keatas ranjang dan mulai mengganggu kenyamanan istrinya yang ia tahu pasti tidak suka dengan apa yang ia lakukan.
"Ayo bangun, sayang. Sepertinya kita perlu berkeliling menikmati suasana segar ditempat ini untuk menjernihkan pikiran kita." Dika membuka selimut yang menutupi Irena dan langsung mengusap kepalanya, kemudian mengecup keningnya.
"Eegghh, aku ingin kita pulang ke rumah hari ini juga." Keluh Irena yang masih kesal, enggan untuk membuka mata melihat wajah suaminya apalagi untuk beranjak. Tubuh dan hatinya seakan kompak terasa lelah setelah apa yang sudah terjadi pagi ini.
Dika menarik napasnya dalam kemudian menghelakannya. Ia tak menyangka Irena akan mengatakan itu, ia juga merasa bersalah semua ini karna dirinya. "Tapi kita belum ada seminggu disini, masih banyak tempat yang belum kita nikmati di sekitar hotel ini."
__ADS_1
"Aku tau mood mu berantakan karna diriku, makanya kamu ingin kita pulang kan? Ayolah sayang, jangan seperti itu. Aku mohon percayalah, dan cobalah mengerti. Wanita itu ..."
Ucapan Dika terhenti saat mencoba menjelaskan siapa Rebecca. Dan dengan perlahan Irena membuka matanya dengan wajah cemberut.
"Wanita itu apa? Selingkuhan mu? Atau mantan mu yang sampai saat ini kamu masih belum bisa move on darinya?"
"Arrgghh, bisa-bisanya kalian bermain dibelakang aku. Apalagi disaat kita baru saja menjalani rumah tangga ini, aku kira kamu pria baik. Aku sudah mulai bisa menerima kamu sebagai suamiku, tapi aku gak yakin kita akan bisa bertahan lebih lama lagi."
Dika yang mendengar ucapan Irena sontak membuat jantungnya berdetak kencang. Ia langsung menatap lekat Irena sejenak kemudian mengerutkan dahinya. "Apa maksud kamu?", tanya Dika.
"Ya kamu pikir aja sendiri. Pokoknya aku ingin kita pulang, titik." Gerutu Irena.
Irena dan Dika tetap saling berdebat. Seperti umumnya seorang wanita yang tidak akan mau kalah saat perdebatan dimulai, tanpa berpikir panjang Dika menuruti permintaan istrinya itu. Ia tak habis pikir dengan para-para wanita yang sedang kesal ternyata killer juga.
"Baiklah, honeymoon kita sampai disini saja. Aku akan hubungi Ibrahim untuk mengurus kepulangan kita."
"What? Dia menyetujuinya? Padahal tadi aku cuma mengetes saja, isshh!!!" gerutu Irena dalam hati.
"Aku kira kita akan menghabiskan waktu kita untuk saling bermanja di tempat menakjubkan ini, di tempat impian yang sangat ingin kamu datangi"
__ADS_1
"Aku gak perduli dengan semua ini, kamu yang pmembuat hatiku sakit dan hancur. Rebecca Rebecca!! Hampir setiap menit ponsel kamu berdering, terpampang namanya" ucap Irena dengan nada keras.
"Kamu cemburu? Ayolah Ren. Baiklah akan aku jelaskan. Wanita itu hanya asisten ku, lebih tepatnya mantan asisten ku. Belum lama ini ia berhenti bekerja dari kantorku. Hubungan kami saat ini hanya sebatas mantan rekan kerja. That's it!" Ucap Dika menjelaskan tapi masih ada kebohongan yang ia tutupi dari istrinya itu.
Irena melirik tajam ke arah Dika, ia tak semudah itu mempercayai apa yang di katakan suaminya.
"Maafkan aku sayang, untuk saat ini aku harus berbohong padamu. Belum saatnya kamu mengetahui apa yang terjadi. Aku berjanji setelah semua ini selesai, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Dan aku harap kamu sabar dan mengerti. Aku mohon percayalah padaku" ucap Dika dalam hatinya sembari menatap lekat ke wajah Irena.
Irena kembali menutupi dirinya dengan selimut, seolah tak memperdulikan penjelasan suaminya.
Pembicaraan selesai begitu saja. Dan Dika pun menghubungi Ibrahim. Ia meminta kepulangannya dijadwalkan lusa, mengingat hari ini Ibrahim sedang berjalan-jalan dengan keluarganya. Ia tak ingin mengganggu Ibrahim.
.
.
.
Aduh Dikaaaa! Othor jadi bingung deh, kenapa coba gak dijelasin aja apa yang sebenarnya terjadi. Kasihan tuh Irena nya. Othor sebagai sesama perempuan, sangat memperjuangkan yang namanya "KEJUJURAN" 💙
__ADS_1
Hayoo yang sepaham, setuju, sealiran dan setanah air dengan Othor coba dulu minta boom likenya dong!!!