
"Sayang, kamu disini. Mas cariin kamu kirain dimana." Dika menemukan Irena sedang melamun duduk sendirian di kolam renang atap rumah.
"Hemm .. iya mas. Maaf." Jawab Irena singkat.
Dika menawarkan kopi untuk Irena.
"Terimakasih, Mas." Ucap Irena.
"Sekarang aku harus bagaimana, Mas?"
"Aku seperti mendapat pukulan keras dengan semua kejadian ini. Aku terlalu memikirkan banyak hal apa yang akan terjadi kedepannya setelah ini."
"Seharusnya aku menyelamatkan anakku."
Irena terus saja berbicara meluapkan isi hatinya.
"Sayang, mau bagaimanapun kita berencana. Mau bagaimanapun kita inginkan, jika Allah tidak berkehendak, itu semua akan berakhir sia-sia. Karna jodoh, rezeki, takdir, ajal, masa depan sudah diatur semua oleh-Nya." Kata Dika.
"Termasuk juga, takdir kalau suamiku kembali mengkhianatimu, Mas?" Irena mengeluarkan pertanyaan yang membuat Dika dibuat terdiam dan gelagapan untuk menjawabnya.
"Aku hanya berharap, aku bisa membuang semua perasaan ini. Perasaan yang tiada henti-hentinya terus kecewa."
Dika tampak gugup, meremas tangannya dan hanya mendengus sekali.
Selama ini istrinya bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi hatinya tetap saja gelisah. Ia takut tiap kali menatap wajah suaminya itu, tidak bisa mengontrol diri. Dia harus menyembunyikan semuanya sendiri setelah ia mendengar pembicaraan antara Kania dan suaminya saat ia terbaring lemas ditempat tidur rumah sakit.
Ia berpikir harus terus kuat dan tidak boleh lemah. Bukankan sebelumnya itu semua sudah pernah ia rasakan. Dan yang ia belum tau saat itu adalah bahwa anaknya sudah tiada juga.
Seketika hidup terasa hancur, anak yang meninggal dan suami yang kembali berkhianat.
Dika duduk berhadapan dengan Irena, menatap matanya dekat. Ada kesedihan dan kehancuran yang sangat mendalam disana.
Irena ikut menatapnya, tapi hanya sekilas. Dan menyahutnya dingin, "Hmmm ..."
Setelah itu, ia beranjak dan masuk kedalam kamar tanpa menoleh kebelakang. Irena merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Dengan bergegas, Dika menyusul Irena ke kamar dan mendengar suara isakan tangisan.
"Kamu menangis, sayang." Dika bertanya lembut dan mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya itu.
Irena masih saja dingin dan terkesan acuh tak acuh dengan apa yang dilakukan suaminya padanya. Tapi dengan sigap, Dika langsung memeluk Irena saat suara tangisan itu berubah menjadi lebih keras. Berharap, Irena lebih tenang dengan pelukan itu.
Bertahun-tahun mereka bersama, dan itu akan kandas hanya karna Rebecca yang kembali berulah. Irena sempat berpikir, ia harus mengalah dan merelakan semuanya.
Irena mengepalkan tangannya erat memperdalam tekad dihatinya, dia tidak boleh diperbudak dengan permainan dua insan manusia hinan itu, tidak boleh!
"Tenggg ... Tonggg ...." Suara bel berbunyi terdengar.
"Tokkk ... Tokkk ...." Suara ketukan pintu pun terdengar juga dari luar. Dan suara seseorang memanggil pun menyertai suara ketukan pintu rumah.
"Renn ... Irena ... "
"Dikaaa ... Dikaa ..."
Irena tersentak dan mengentikan tangisannya, tapi masih sesenggukan. Ia tau suara siapa yang ada dibalik pintu itu. Ia yang sedari tadi masih mengepalkan tangannya erat, kini mencoba menormalkan tekanan darah yang seakan mendidih di tubuhnya.
Mereka turun kebawah bersama-sama. Dika yang mental dan jiwanya masih sangat terguncang, menatap wajah istrinya sekilas dan melihat Irena berusaha bersikap tegar. Ia tak menyangka, istrinya masih bisa bersikap seperti itu setelah apa yang telah ia lakukan begitu menyakitkan.
Irena tersenyum dan mendekatkan diri dengannya saat berjalan membukakan pintu.
"Haii, Ibu. Kalian datang. Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau kerumah. Irena kan bisa nyiapin semuanya kalau gitu." Ucap Irena.
Semua tampak bingung dan tak menyangka perubahan Irena yang sekarang tampak lebih ceria dari sebelumnya.
"E-tidak. Ibu sengaja gak kasih tau kalian, biar surprise aja gitu." Jawab Ibu.
Irena mencium bau harum makanan, ia mengenal bau itu. Mengalihkan pandangannya dan melihat rantang yang ada ditangan Ibunya.
Ia tersenyum, "Ibu bawa gulai daun ubi tumbuk pasti kan?" Tanya Irena.
"Iya nih!" Ibu menunjukkan rantang makanan kepada Irena. Irena tersenyum senang dan mengambil rantang itu dari tangan Ibunya.
__ADS_1
"Aku letak didapur dulu ya." Irena berjalan ke arah dapur tapi seketika langkahnya terhenti.
"Eh, iya lupa. Masuk Bu, masuk. Hampir aja lupa."
"Iya, udah seperti delivery online aja kami ya. Setelah makanan diambil langsung pergi deh. Tapi kali ini masalahnya belum dibayar aja tuh makanannya." Canda Ibu.
Semua terkekeh mendengar ucapan Ibu.
"Eh, ada yang kamu lupa juga nih. Ini bawa!"
"Ada titipan dari Bryan buat kamu." Ucap Ibu.
"Apaan nih, Bu?" Tanya Irena heran.
"Terus Bryan nya mana? Kok gak ikut?"
"Iya nih, Kak Bryan tadinya mau kesini. Tapi tiba-tiba gak jadi ikut sih, ada urusan mendadak katanya. Mungkin ... Dia gak enak hati juga kalau harus ke rumah mantan pacarnya." Kania menjawab dengan tegas.
Dika yang mendengarnya, hanya bisa terdiam dan tidak terlalu fokus dengan apa yang dibicarakan mereka semua. Karna hati dan pikirannya saat ini juga sangat kacau.
"Apa sih kamu." Ibu mencubit perut Kania karna asal bicara.
"Enggak, Bryan tadi sebenarnya ikut sama kita juga. Tapi tiba-tiba dia dapat telepon dan harus segera balik ke Jerman hari ini juga." Jelas Ibu.
"Ke Jerman? Apa sesuatu sedang terjadi dengan Bryan? Apa jangan-jangan ... Ahhh! Apaan sih Ren, mikirin yang aneh-aneh." Gumam Irena dalam hatinya yang terus merasa ada sesuatu yang terjadi pada mantan pacarnya itu.
.
.
.
*Dan ternyataaaaa ... Bryan tidak ikut deh hahaha 🤪🤪
See you next. Jangan lupa ya dukungannya untuk Othor. Sangat sangat berarti banget loh. Tapi sebelumnya Othor ucapin terimakasih buat kalian semua yang masih setia baca karya Othor yang gak terasa sudah mencapai 100 Episode,hehehe.
__ADS_1
Love you, all 😘