
Dika membuka matanya secara perlahan, berharap istrinya masih ada dihadapannya, yang benar saja posisi mereka masih tetap sama seperti malam tadi.
Irena masih memeluknya, dengan posisi wajah yang mengadah ke arahnya sehingga Dika bisa melihat wajah istrinya dengan sangat jelas sempurna yang terlihat sangat begitu dekat.
Sejujurnya tangan Dika sudah kesemutan karna tangan kirinya tertindih tubuhnya sendiri. Ingin rasanya bergerak, tapi kalau bergerak ia takut istrinya terbangun. Kalau sampai bangun yang ada malah marah-marah menganggap Dika mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan dirinya.
"Aduh istriku, manis banget sih. Padahal lagi tidur begini bisa banget buat suaminya tergoda, jangan begitu dong bibirnya, minta di cium ya? HHAHAHAHA" ucap Dika dalam hatinya sembari terkekeh kecil karna terlalu senang melihat bibir tipis istrinya tampak begitu ****.
Ia mencoba menenangkan pikirannya kembali sembari menghilangkan pikiran-pikiran mesum dalam otaknya.
"Sadar Dika sadar, jangan kepancing, kasihan kan orang lagi tidur gak berdaya malah dimanfaatkan. Tapi kenapa harus berpakaian seperti ini sih dia, kan jadi buat pikiran ini berkelana semakin jauh" gumamnya.
Kembali ia memejamkan matanya, berharap pikiran gilanya tidak meluas kemana-mana yang membuat dirinya berbuat liar dan melampaui batas. Sesekali ia membuka matanya dan sesekali juga menutupnya lagi.
Jantung yang berdebar kencang memacu adrenalin yang kini menegang disekujur tubuh. Entah setan apa yang kini merasukinya, tapi bagaimana mungkin setan bisa merasuki sementara mereka sekarang adalah sepasang suami istri, sudah halal dan bukan jadi dosa juga kalau akal sehatnya berubah jadi gila pikirnya.
"Sepertinya aku harus bangun nih, gak bisa nih terus begini, bisa ikutan menegang juga nih bagian bawah kelamaan berpikir. Mending tidur lagi, ya tidur lagi aja. Tapi bagaimana mungkin bisa tertidur kalau posisi doi hot begini. Ya Allah, help me!!"
Ruangan yang begitu dingin kini berubah menjadi panas, sehingga membuat dirinya membuka kaos yang ia pakai.
Saat hendak membuka kaos, Irena terbangun membuka mata sembari menutup mulutnya yang tengah menguap. Ia merasakan tidur yang begitu nyenyak sekali. Tapi dengan cepat Dika melempar bajunya kemudian menutup mata, pura-pura masih tertidur.
Saat membuka mata, ia terbelalak, terkejut dengan yang ada dihadapannya saat ini, seseorang bertelanjang dada dengan dada berbidang besar tampak kokoh mengalahkan benteng Cina.
Ia menahan salivanya gak mampu berucap apapun.
__ADS_1
"Tidak, tidak.. tidak terjadi apa-apa kan? Tidak ada yang sakit kok disini" gumamnya dalam hati sembari memegang area bawah sensitifnya yang dirasakannya tampak baik-baik saja.
"Alhamdulillah!!!"
Irena kembali menatap aneh suaminya, "Manis sih, tampan, adem banget ngeliatnya kalau dari sedekat ini, seharusnya aku beruntung bisa dapat pemandangan pagi hari sebening ini, putih banget sih ngalah-ngalahin aku, bisa-bisa saling berebut skincare sama body lotion kita nih HIHIHIII"
"Tidak tidak, kenapa harus memikirkan itu sih. Menambah beban pikiran saja"
"Lebih baik mandi dulu deh sebelum doi kebangun, yang ada bisa ke ge-eran dia karna tau posisi tidur aku yang memeluknya, Arrggghh! Apa sih Ren, bodoh amatlah" ucap Irena sembari berjalan pelan kekamar mandi.
"Huftt! Akhirnya godaan ini bisa teratasi" ucap Dika menghela napas panjang.
"Yes! Thanks God!"
"CEKLEKKK!!"
Irena yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar dari kamar mandi, tidak seperti yang ia pikirkan bahwa Irena akan keluar dengan tubuh polos begitu saja, tapi ia masih memakai baju kaos tipis tanpa memakai apapun didalamnya, menerawang sehingga memperlihatkan pucuk bukit kembarnya.
Sungguh ini adalah pengalaman pertama Dika melihat dengan sejelas ini keseksian tubuh Irena dan bukit kembar yang ada didalam sana walau hanya terlihat dalam balutan kaos tipis. Seakan memanggilnya untuk menghampiri mereka dan melakukan unboxing sesegera mungkin.
"Oh Tuhan, otak ku sudah mulai ternodai" gumamnya.
"Aaaa! Apa yang kamu lihat? Kenapa tidak bilang sudah bangun?" teriak Irena terkejut melihat Dika sedang terduduk diatas tempat tidur memperhatikan kedatangannya kemudian berlari menuju kamar mandi..
"Hei, apa yang kamu lihat tadi? Jangan mikir yang macam-macam ya? Aku juga tau tugas ku sebagai istri, tapi gak begitu juga caranya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan"
__ADS_1
"Tuh kan benar dia pasti bilang begitu, sudah ku duga" ucap Dika dalam hati.
"Eh, kenapa aku bilang begini. Kok gak nyambung begini. Apa hubungannya? sekarang sepertinya aku yg terlalu berpikir mesum. Tapi jadi dosa juga kalau aku gak menjalani tugasku. Dia pasti udah terangsang tuh ngelihat aku begini. Oh Tuhan, aku harus bagaimana? Merelakannya? Membiarkannya? Tapi aku harus bagaimana memulainya? Ah, kenapa aku memikirkan ini? Apa jangan-jangan pikiranku mulai menyetujui? gumam Irena.
"Handuk! Sini handuk ku! Tolong ambilkan!" teriak Irena.
"Aneh banget sih, apa ada gitu istri teriak-teriak sama suaminya? Emang mau jadi istri durhaka?" balas Dika.
"Buka dong pintunya? Gimana mau kasih handuknya kalau pintunya ditutup begitu?" ucap Dika lesu.
"CEKLEKKK!!"
"Sini!! Jangan ngintip. Kamu keluar dulu. Aku mau pakai baju, gak nyaman banget kalau ada orang dikamar, saat ganti baju. Tanpa terkecuali KAMU!" kata Irena.
.
.
.
Haloo Readers ☺️
Ditahan dulu ya cerita selanjutnya
Pelan-pelan aja dulu, biar agak nyut-nyutan sedikit author buat kalian pas ngebacanya HEHEHE 🤭🤭
__ADS_1