Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 124


__ADS_3

Malam ini, kediaman William akan kedatangan tamu. Vanesha dan keluarganya akan berkunjung ke rumah, dengan alasan beramah-tamah karna kedatangan Bryan ke Jerman. Kedatangan mereka disambut baik oleh Papanya Bryan. Dimulai dari makan malam bersama, hingga diperlakukan dengan sangat istimewa.


"Ayo semua, silahkan dimakan. Makan yang banyak. Jangan malu-malu." Suruh William sembari mendekatkan semua lauk ke piring Papa Vanesha.


"Sudah, sudah cukup. Nanti saya kenyang banget, gimana." Candanya.


Vanesha sedari tadi terus melirik ke arah Bryan, tapi yang dilirik memilih untuk tidak menatapnya sekalipun.


"Ehm, kamu juga sudah selesai makannya, Bryan?" Tanya William. Dia sejak tadi sudah bisa menangkap sinyal yang dilempar dari Vanesha, tapi Bryan sangat tidak peka.


"Sudah Pa." Jawab Bryan.


Vanesha berdiri dan membereskan meja makan, "Kamu sudah selesai?" Tanyanya pada Bryan sebelum ia mengambil piring pria itu.


"Udah," Jawab Bryan.


Vanesha pun mengambil piring Bryan dan menumpuknya menjadi satu dengan pria lainnya, lalu membawanya ke dapur.


"Aduh, nggak usah Nesh. Biar nanti Tere aja yang membereskan semuanya." Kata Rita.


"Iya, kita semua sebaiknya duduk di ruang tamu saja untuk mengobrol." Sambung William.


Vanesha mengangguk. Dia pun pergi ke ruang tamu mengikuti semua orang. Sementara Bryan menoleh ke arah William, ia melihat Papanya begitu akrab dengan Vanesha yang berjalan beriringan. Feeling nya menjadi semakin tidak enak.


William menyuruh Bryan untuk duduk di sofa yang sama dengan Vanesha. "Ada apa, Pa?" Tanya Bryan berusaha santai.


"Dari kemarin, Papa dan Om Steven sudah membicarakan banyak hal. Papa yang kasih tau kepulangan kamu ke Jerman."


Bryan semakin bingung.


"Bryan, Papa sudah mengenal Vanesha sejak kalian masih kecil. Selain itu, orang tua Vanesha adalah teman baik Papa. Jadi, Papa rasa nggak ada salahnya kalau kami memberikan kesempatan kalian untuk memulai suatu hubungan yang lebih dekat dari sekedar teman atau pacaran, yaitu dengan menikah. Kami tentunya merestui kalian."


Bryan menatap sang Papa dengan wajah tidak senang, "Kenapa Papa nggak bicarakan ke Bryan lebih dulu? Kenapa Papa tiba-tiba mengambil keputusan sendiri, tanpa persetujuan Bryan?" Kesalnya.


"Kamu lupa kalau selama ini Papa sudah kasih kamu kesempatan untuk memutuskan sendiri jalan hidup kamu?" Jawab William berusaha tenang.


Bryan sadar akan hal itu, tapi bukan berarti ia begitu saja bisa menerima keputusan sepihak ini. Terlebih lagi, dia tidak mencintai Vanesha.


Rita yang duduk di samping William, memegang tangan suaminya. "Bryan baru saja datang, Pa. Kenapa harus terburu-buru?" Bujuknya.


"Ma, semakin cepat semakin baik. Mereka bukan anak-anak lagi. Cepat atau lambat mereka juga pasti akan menikah, bukan? Nggak baik terlalu lama menunda-nunda perjodohan ini." William tampak sudah begitu yakin dengan keputusannya. "Lagian ini sudah Papa tanyakan juga ke Vanesha dan keluarganya, mereka bersedia."


Vanesha lantas menoleh pada Bryan, air matanya jatuh detik itu juga. Dia tau dengan ekspresi yang ditunjukkan Bryan, bahwa ia tidak menyetujui perjodohan itu. Entah kalimat apa yang harus ia katakan pada Bryan, rasanya tidak sanggup.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Bryan.


"Tidak. Maaf Om, Tante, semuanya. Vanesha permisi ke toilet sebentar ya. Kayaknya mata Vanesh kemasukan binatang. Perih banget." Vanesha berdiri, berjalan meninggalkan mereka.


William menggeleng, ia tau pasti kalau penolakan Bryan tadi sangat melukai hati Vanesha.


"Bagaimana Bryan? Kamu semua menunggu jawaban kamu." Tanya William tidak sabaran.


"Tidak usah terburu-buru, Will. Biarkan saja dulu mereka memikirkan semua ini." Ucap Steven. "Bukankah segala sesuatu hal yang dipaksakan, hasilnya akan jadi tidak baik." Lanjutnya tertawa.


"Ucapan Papa kamu jangan diambil pusing, Nak Bryan. Dia memang begitu orangnya. Pelan-pelan aja, pikirkan baik-baik. Apapun keputusan kalian nanti, itu yang terbaik untuk kalian pastinya." Ucap Steven menenangkan Bryan.


"Iya, Om. Terimakasih." Jawab Bryan.


Vanesha mengusap air matanya. Bukannya cepat bergabung kembali dengan mereka, ia justru berdiam sejenak di toilet untuk menenangkan hatinya yang benar-benar hancur saat ini. Dia yang sudah mengetahui bagaimana isi hati Bryan sebenarnya, pasti sedih dengan keputusan apa yang akan diambil oleh Bryan nantinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


*****


Bryan merenung di kamarnya. Sulit baginya menerima keputusan sang Papa, karna hatinya sudah sepenuhnya milik Irena. Besar kemungkinan Papanya pasti tidak akan merestui hubungan mereka. Lamunannya terganggu saat ada panggilan telepon dari Irena.


"Haloo, sayang." Dia mengatur suaranya agar terdengar seperti biasa.


"Bryan, are you okay?" Tanya Irena.


"Tidak, pasti terjadi sesuatu. Ada apa, Bryan?"


"Maafkan aku, Ren."


"Maaf kenapa? Aku mohon jelaskan padaku apa yang terjadi. Jangan buat aku penasaran, Bryan." Nada suara Irena terdengar khawatir.


"Papa, menjodohkan aku dengan Vanesha. Teman masa kecilku yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri, keluarga mereka juga partner bisnis Papa di Jerman."


Suasana jadi hening setelah Bryan mengatakan hal itu.


"Bryan, tenanglah." Irena bersuara kembali. Tapi nada suaranya terdengar aneh.


"Bagaimana aku bisa tenang, Ren. Papa serius dengan rencananya. Aku juga gak tau kalau ternyata mereka menyuruhku datang kesini hanya untuk membicarakan perjodohan ini."


"Tapi kamu belum menyetujuinya kan? Kita masih punya kesempatan untuk merubah rencana Papa kamu."


"Kamu nggak kenal Papa, Ren."


"Heii, kemana calon imamku Bryan McKenzie yang dulunya begitu strong? Kenapa kamu jadi selemah ini, Bryan. Pokoknya kamu tenang aja dulu, jangan terlalu dipikirkan."

__ADS_1


Tadinya Bryan mengira Irena akan marah, atau melakukan apapun untuk melampiaskan kekecewaannya. Tapi nyatanya wanita itu terlalu santai.


"Udah dulu ya, Ren. Mama sepertinya memanggilku. Kamu jangan sedih dan berpikir yang tidak-tidak dengan semua yang aku katakan ini ya."


"Ya sudah." Irena tidak bisa memaksa walaupun rasanya masih ingin berbicara pada Bryan.


Bryan langsung mematikan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata manis pun. Irena menatap layar ponselnya yang sudah mati. "Apa mungkin Bryan menyerah?" Pikirnya.


******


"Tokkk ..."


"Tokk ..."


"Tokkk ..."


"Bryan, Mama masuk ya." Setelah itu pintu kamar Bryan dibuka oleh Rita. Wanita paruh baya itu masuk kedalam dengan raut wajah yang sedih.


"Kalau Mama kesini disuruh Papa untuk membujuk aku untuk menerima perjodohan itu, aku nggak akan pernah mau, Ma.


Rita menggeleng, "Mama kesini bukan karna disuruh Papa, Nak. Bukan juga karna berada di pihak Papa kamu. Tapi sebagai Mama kamu." Dia duduk di samping putranya itu dan mengusap rambutnya.


"Kenapa Papa mengambil keputusan itu tanpa lebih dulu bicara pada Bryan, Ma? Ini hidup Bryan, Papa nggak bisa mengaturnya sesuka hati." Emosi Bryan mulai memuncak.


"Mama mengerti, Nak. Dia pasti punya niat baik melakukan ini."


Bryan menggeleng, "Tapi Bryan sudah punya pilihan, Ma. Bukannya Mama juga sudah tau, bukan."


"Tapi, apa Papa kamu tau?"


Bryan terdiam.


"Kalau pilihannya adalah wanita asing yang belum jelas asal usulnya apalagi wanita itu seorang janda dan Vanesha, tentu Papa kamu akan memilih Vanesha. Kita tau siapa orang tuanya, bagaimana wataknya dan seperti apa kepribadiannya."


"Jadi, Mama mendukung Papa?" Bryan menatap Mamanya dengan penuh kekecewaan.


.


.


.


Hidup penuh lika-liku ya ...

__ADS_1


Tenang Bryan, Akan Ada Pelangi Setelah Hujan kok 🤗🤗


__ADS_2