
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Assalamualaikum ..."
Ketukan pintu terdengar, suara yang tidak asing itu ternyata Bryan.
"Wa'alaikumsalam ..."
"Eh kebetulan ada Bryan." Kata Ibu Irena.
"Loh kenapa Bu?" tanya Bryan heran.
"Jadi begini, dari pada Irena manggil taxi online untuk ngantarin dia balik kerumahnya. Mending sama kamu aja ya kan."
"HAAHH!!!" Bryan kaget mendengarnya.
"Aduhh Ibu. Kenapa Pak Bryan?" Ucap Irena kesal.
"Engg-nggak Pak. Ibu saya memang kalau ngomong suka ngasal. Cuma becanda kok."
"Ehh ehh ehh apaan. Orang Ibu beneran serius minyak tolong Pak Bryan." Lanjut Ibu Irena.
"E-iya gak apa kok Ren. Lagian Ibu kamu kan juga ikut, jadi gak apa lah. Suami kamu gak mungkin juga berpikiran aneh-aneh. Ya kan Bu?"
"Nah iya dong. Pak Bryan aja ngerti masa kamu enggak."
__ADS_1
"Gimana sih. Udah sarjana masa yang begituan aja gak ngerti. Aneh banget lulusan sarjana-sarjana sekarang ya."
"Eh kamu kok malah diem, buatin Bos kamu minum dong. Masa iya kamu suruh menelan ludah doang. Dia kan juga butuh tenaga buat angkatin barang-barang kamu." Kata Ibu Irena panjang lebar.
"Apaan sih Bu, garing banget deh. Hadeh..." Jawab Irena.
"E-iya sebentar ya Pak, saya buatin minum dulu. Atau bapak mau makan sekalian? Kebetulan kami baru selesai masak."
"Gak usah Ren, saya sudah makan kok. Gak apa, saya minum aja." Jawab Bryan.
"Baik Pak."
"Tunggu ya." Ucap Irena pelan.
*****
"Kakak beneran jadi balik kerumah pria tukang selingkuh itu Bu?" Tanya Kania saat Ibu tengah asik mengobrol dengan Bryan.
"Ya gak apa. Pak Bryan kan juga udah tau semua yang terjadi sama Kak Irena. Malah lebih bagus tau, jadi biar Pak Bryan bisa menjaga Kak Irena juga sih." Jawab Kania.
"Ya kan Pak? Betul gak?" Tanya Kania.
"Hemm ... Iya Bu gak apa kok. Saya pasti akan mengawasi dan menjaga Irena. Walaupun saya bukan siapa-siapa lagi buat anak Ibu, tapi sampai saat ini saya masih cinta. Saya memang terlambat untuk bisa jadi menantu Ibu, tapi kalau suatu saat Dika menyakitinya lagi. Izinkan saya untuk menggantikan posisi Dika sebagai menantu Ibu."
"Kita lihat dan jalani saja semuanya. Kalau memang kami berjodoh, Allah pasti tunjukkan jalannya untuk kami bisa bersama seberat apapun untuk bisa bersatu nantinya."
"Kita doakan yang terbaik untuk Irena ya Bu. Bagi saya untuk saat ini yang terpenting adalah kesehatan Irena dan juga bayinya. Dia juga harus happy, menikmati hidupnya sebagai seorang istri dan calon Ibu."
"Nah!! Kalau kemarin Pak Bryan yang jadi menantu Ibu gak mungkin tuh kak Irena menderita begitu." Ucap Kania.
__ADS_1
Tiba-tiba Irena datang membawa nampan berisikan minuman dan beberapa cemilan untuk Bryan.
"Cerita apaan sih? Serius banget." Tanya Irena penasaran.
"Enggak, ya biasalah adikmu ini. Lagi kumat." Jawab Ibu bercanda.
"Eumm .. Kamu ikut nganterin kakak kan dek?" Tanya Irena ragu.
"Hemm gimana ya. Awalnya sih tadi memang kesal banget, tapi setelah ketemu sama Pak Bryan ya lumayan rada tenanglah sedikit. Mungkin karna chemistry kita kali ya, dan mungkin kalau misalnya Kania jadi adek iparnya malahan jauh lebih tenang lagi." Kata Kania.
Bryan yang tadinya lagi minum, tiba-tiba keselek mendengar ucapan Kania. Ia hanya menampilkan senyum kecil di raut wajah bahagianya.
"Wah bonus nih HAHAHAA. Memang dari dulu adik ipar gagal ku ini TOP BGT." Gumam Bryan dalam hatinya.
"Maaf ya Pak, Kania memang sukak gitu sih. Ngomongnya ngasal aja." Kata Irena.
"Iya gak apa. Apa yang dikatakan Kania sih ada benarnya juga."
Semua terheran mendengar ucapan tulus Dika. Seketika suasana menjadi senyap.
"Enggak, saya cuma bercanda." Ucap Dika sembari tertawa kecil.
Semua orang yang awalnya tegang menjadi tersenyum dan ikut tertawa bahagia. Suasana menjadi jauh lebih tenang dan damai setelah kejadian di ruang makan tadi.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading 💙
See you next, Readers 😘