
"Tingg ... Tongg ..." Bel berbunyi.
"Tokk ... Tokk ..." Suara ketukan pintu terdengar.
"Sebentar." Ucap Rebecca sembari membuka pintu apartemennya
Ya, Dika telah sampai di apartment milik Rebecca. Setiap kali Jonathan pergi keluar kota untuk beberapa hari, Rebecca lebih memilih untuk menetap di apartment miliknya. Ia merasa nyaman dan tenang saat disana.
"Haii ... Masih sakit?"
"Ini obat sama makanan buat kamu." Ucap Dika.
"O-iya, thanks ya Dik." Balas Rebecca.
"Kalau gitu aku langsung balik aja deh, Irena pasti udah nungguin dirumah. Seharusnya dia udah balik dari kantor sih jam segini." Kata Dika sembari melihat waktu di jam tangannya.
"Hem, o ... Kay ..." Tiba-tiba Rebecca pingsan dan langsung dipegang oleh Dika saat terjatuh ke lantai.
Dika menggendong Rebecca dan membawanya ke kamar. Terasa suhu tubuh Rebecca yang sangat panas. Perasaan Dika pun menjadi khawatir melihat kondisi Rebecca seperti ini.
Segera ia kompres dahi Rebecca dengan handuk yang telah direndam dengan air hangat. Rebecca masih saja belum sadarkan diri setelah dua jam berlalu.
Dika yang tampak lelah menunggu, akhirnya tertidur di sofa kamar dekat jendela kamar.
Saat baru saja memejamkan mata, akhirnya Rebecca pun sadar dari pingsannya.
"Aww!!!" Rebecca merintih karna sakit kepala.
__ADS_1
Dika pun langsung berdiri dan memeriksa keadaan Rebecca.
"Kamu masih disini, Dik?"
"Kamu tidak seharusnya disini, Dik. Kamu harus pu ... Lang." Rebecca menggigil.
"Bisa tolong matikan AC nya, aku sangat kedinginan." Ucap Rebecca yang sedang meriang, menggigil padahal sudah berbalut selimut yang sangat tebal.
"Are you okay?" Tanya Dika.
"Tadinya aku mau balik, tapi kamu tiba-tiba pingsan. Gak mungkin aku langsung balik lihat keadaan kamu begini."
"Hikss ... Hikss ... Hikss ..." Rebecca menangis.
"Aku rindu suamiku, Dik. Jhonatan, dia ..." Ucapan Rebecca terhenti.
"Tidak .. Tidak ... Aku tidak mau mengganggunya. Bisnisnya disana lebih penting dari pada aku yang sedang sekarat disini. Aku gak mau membuat dia marah." Kata Rebecca.
"Kamu istrinya. Itu jauh lebih penting dari pada apapun." Ucap Dika.
"Itu menurutmu Dika, tapi kenyataannya tidak seperti itu."
Rebecca mulai memainkan perannya.
"Maksud kamu?" Tanya Dika lagi
"Enggak, gak papa. Maaf, aku terlalu banyak bicara. Gak seharusnya aku menceritakannya kepadamu. Kamu bisa pergi kalau kamu mau, aku baik-baik saja. Aku bisa mengurus semuanya sendiri." Rebecca bangkit dari tidurnya dan ingin beranjak ke ruang makan untuk memakan makanan yang dibawa Dika.
__ADS_1
Tapi saat hendak berjalan, ia malah pura-pura terjatuh. Walaupun awalnya ia benar-benar jatuh pingsan, tapi kali ini ia hanya berpura-pura. Semua rencananya berjalan dengan sendirinya, yang awalnya tanpa direkayasa tapi entah kenapa itu membuatnya semakin punya ide untuk melanjutkannya.
Dika menopang badan Rebecca yang hampir saja terjatuh. Membawanya untuk berbaring ketempat tidur, dengan lengan yang merangkul ke leher milik Dika. Bahkan saat ini jarak mereka sangatlah dekat. Entah kenapa nafas dan detakan jantung mereka berdua berdetak kencang.
"Maaf, aku merepotkan mu lagi Dik." Mereka berdua tersadar dalam pikiran mereka masing-masing.
"Dingin banget, Dik. Dingin banget. Bisa, tolong ambilkan selimut ku lagi dilemari bawah."
"Kamu meriang, Becc. Seharusnya kamu langsung periksa ke dokter." Ucap Dika sembari mengambil selimut.
"Aku hanya perlu meminum obat dua atau tiga kali, pasti sembuh. Ini karna aku belum ada meminum satu pun obat. Dingin banget."
"Pakai ini." Dika menyelimuti rapat Rebecca dengan selimut. Tapi saat memakaikannya, Rebecca dengan sengaja menggenggam erat tangan Dika. Seakan dengan saling mengeratkan tangan, rasa menggigilnya akan segera hilang dan menjadi lebih hangat. Dika pun tak bisa menolak, karna saat ini yang ia pikirkan hanya keadaan Rebecca yang benar-benar membutuhkan kehangatan.
Kini keduanya mulai bisa menyamankan keadaan yang sedang terjadi. Dika kini beralih memeluk tubuh Rebecca, ikut berbaring dan mendekapnya agar jauh lebih hangat berharap suhu tubuhnya yang sedang menggigil akan segera hilang. Hingga akhirnya keduanya pun tertidur pulas karna terbawa suasana.
Sementara ditempat lain, Irena dan bayinya sedang mempertaruhkan hidup dan nyawanya di ruang UGD. Karna sampai sekarang, ponsel Dika yang sedang lowbat tidak bisa dihubungi. Dika tidak menyadari dan terpikir akan hal itu.
.
.
.
*Yaelah Rebecca, aji mumpung banget hidupnya kali ini , wkwkk 😂😂
Haloo, Readers.
__ADS_1
Mohon dukungannya dong buat Othor ya 🙏