
"Bagaimana dengan kondisi anak saya, Dok." Tanya Ibu Irena saat seorang Dokter keluar dari ruang UGD.
"Ibu Irena mengalami pre-eklampsia, dimana kondisi ini berbahaya pada saat hamil, diakibatkan oleh tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urine. Apabila tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi bagi ibu dan janinnya."
"Apakah selama ini Ibu Irena sering kontrol tentang perkembangan bayi nya?" Tanya Dokter.
"Rutin dok, tapi kenapa bisa terjadi seperti ini ya." Jawab Ibu Irena gelisah.
"Baiklah. Waktu melahirkan sudah dekat dan penyakit pre-eklampsia yang Ibu Irena alami tergolong parah. Jadi saya merekomendasikan untuk segera melahirkan bayinya."
"Pada saat melahirkan, Ibu Irena mungkin akan diberikan magnesium sulfat intravena untuk meningkatkan aliran darah rahim dan mencegah kejang."
"Apakah Anda suaminya? Kami membutuhkan persetujuan dari Anda untuk melanjutkan ke proses persalinan." Tanya Dokter ke Bryan.
"E-bukan, Dok." Jawab Bryan terbata-bata.
"Biar saya Ibunya saja yang mewakili, Dok. Kami sudah coba hubungi suaminya, tapi sepertinya ponselnya mati." Ucap Ibu Irena.
"Baiklah, Ibu bisa ikut dengan suster ini ke bagian administrasi."
"Tolong bantu anak saya dan bayinya juga dengan selamat dan sehat ya, Dok. Saya mohon." Pinta Ibu Irena.
"Baik, Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, doakan yang terbaik untuk mereka berdua ya." Jawab Dokter itu.
Proses persalinan pun terus berjalan. Semua H2C, harap harap cemas. Tapi dengan doa dan keyakinan yang mereka panjatkan, berharap persalinan berjalan dengan lancar. Irena dan bayinya akan sehat wal-afiat.
******
"Eummm ..." Rebecca merapatkan tubuhnya ke dada Dika yang sedang memeluknya. Menenggelamkan kepalanya seakan saat ini adalah posisi paling ternyaman yang dulu jug pernah ia dapatkan.
"Aku senang kamu disini, Mas. Aku sangat merindukan kamu seperti ini." Ucap Rebecca pelan.
Tapi suara pelan itu, membangunkan Dika. Dika yang masih setengah sadar karna ngantuk yang sangat berat, hanya membuka setengah matanya. Ia merasa dirinya sedang berada dirumah, padahal saat ini ia sedang berada di apartemen Rebecca.
Ia melanjutkan tidurnya dengan memeluk erat tubuh Rebecca.
"Apa dia gak sadar atau gimana ya?" Gumam Rebecca heran.
__ADS_1
"Dik ... Dika ... Dika ..." Rebecca memanggil Dika.
Dika membuka matanya, tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku ketiduran."
"Kamu sudah baikan?".
"Tidak apa-apa. Aku tau kamu pasti lelah karna menemani dan merawatku. Aku berterima kasih sekali. Aku sangat senang."
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya merasa nyaman dengan kondisi kita saat ini. Jujur, setelah menikah dengan Jhonatan. Dia belum pernah melakukan hal ini padaku. Yang ia pikirkan hanya tentang bisnisnya. Aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini lagi setelah berpisah denganmu, Dik."
"Maksud kamu?" Tanya Dika heran.
"Tidak, aku hanya asal bicara." Jawab Rebecca
"Aku mengerti, mungkin memang urusan Jhonatan lagi banyak. Aku yakin dia pasti mengerti apa yang kamu harapkan padanya. Kamu tinggal bilang saja padanya. Aku rasa itu cara terbaik untuk hubungan kalian." Saran Dika.
Dika mendongakkan matanya ke arah jam yang berada tepat dihadapannya. Sudah jam lima subuh. Betapa terkejutnya dia. Bagaimana mungkin dia menginap dirumah mantan pacar sekaligus sahabat istrinya itu.
Ia merasa bersalah kepada Irena karna tak pulang bahkan tak memberikan kabar.
"Astaga ... Ponselku mati."
"Aku harus pulang, Becc. Jaga kondisimu. Aku pamit."
"Maafkan aku, dengan apa yang terjadi diantara kita tolong lupakan. Aku harap kamu mengerti." Ucap Dika sembari mengambil kunci mobil diatas meja.
"Baiklah, kamu tenang aja." Jawab Rebecca.
"Enak saja kamu minta aku melupakan semua ini, ini adalah awal permulaan kedekatan kita, Mas. Aku masih ada sesuatu hal yang lebih gila lagi untuk ditunjukkan padamu." Gumam Rebecca sembari tersenyum tipis licik.
Dika berlari dengan tergesa-gesa. Ia sangat yakin Irena pasti sedang mencarinya dan mengkhawatirkannya.
"Maafkan Mas, sayang. Kamu pasti mengkhawatirkan, Mas." Ucap Dika.
*****
__ADS_1
"Sayang, Mas pulang."
"Sayang ..." Teriak Dika memanggil Irena kemudian langsung naik keatas mencarinya ke kamar.
Saat ia membuka pintu kamar, ia tak menemukan Irena. Ditempat manapun ia mencari, tak juga menemukannya.
Bibi yang mendengar teriakan Dika memanggil Irena, langsung menemuinya.
"Maaf, Pak. Bapak kemana aja?"
"Non Irena saat ini sedang dirumah sakit. Sepertinya akan melahirkan. Sedari tadi, Ibunya Non Irena telponin saya terus nanyain bapak."
"Rumah sakit?"
"Tapi ini belum waktunya Irena untuk melahirkan, Bi." Ucap Dika mulai gelisah.
"Baiklah saya akan segera kesana."
"Dan sekarang Bibi tolong ambilkan segala keperluan Irena yang sudah kami siapkan di kamar ya. Letak ke bagasi mobil saya." Titah Dika.
"Baik, Pak." Jawab Bibi.
"Cepat, Bi ..." Titah Dika yang sudah sangat takut dan gelisah memikirkan istrinya yang sedang di rumah sakit.
Ia merasa betapa bodohnya ia tak mengetahui keberadaan istrinya yang saat ini seorang diri berjuang antara hidup dan mati untuk memberikannya keturunan.
Perasaan bersalah menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan Rebecca di apartment, kini mulai menghantui. Rasanya seperti kembali berkhianat. Bagaimana jika Irena tau semua ini? Seumur hidup kesempatan yang dulu pernah Irena berikan padanya tidak akan pernah ada lagi. Bahkan kepercayaan yang perlahan mulai ia dapatkan, akan kembali hancur tak tersisa lagi.
.
.
.
*Readers, mau minta tolong nih.
Mohon dukungan kalian banget, biar karya novel pertama Othor bisa dikenal orang banyak. Kalau bisa pun kalian bantu share ke yang lain karya novel Othor ini. Thankyouu, Readers. Dukungan kalian sangat berarti banget buat Othor.
__ADS_1
Big hug ... 🤗🤗*