
"Rebecca? Apa Anda tidak salah lihat? Anda mengenalnya?" Tanya Dika heran penuh dengan emosi.
"Drettt ... Drettt ... Drettt ..." Ponsel Dika bergetar, ada panggilan masuk.
"Ya, halloo. Apa kalian sudah menemukan dimana istriku? Bagaimana kamu bisa tau kalau istri saya ada disana. Tolong kirimkan alamatnya sekarang, saya akan segera kesana."
Salah satu bodyguard yang dikerahkan Dika mengirimkan alamat dimana Irena berada.
"Sepertinya saya sudah tau keberadaan Irena dimana. Terimakasih atas bantuannya, saya sangat berterima kasih kepada Anda, Bryan." Jelas Dika.
"Saya akan ikut membantu Anda, untuk memastikan semuanya baik-baik saja." Pinta Bryan.
Karna Bryan sudah banyak membantu, dan Dika pun tak memikirkan hal yang aneh tentang dirinya, akhirnya Dika mengizinkannya ikut. Siapa tau kalau ada bahaya yang tak terduga saat dirinya menemui Irena disana.
"Baiklah, Anda bisa ikut." Jawab Dika.
Mereka berdua bergegas berjalan ke parkiran dan mengendarai mobil masing-masing. Semangat antusias untuk segera menemukan Irena, sangatlah kuat. Kedua lelaki yang sangat begitu mencintai Irena, melebih dirinya sendiri.
Setibanya disana, ternyata ini adalah alamat Rebecca.
"Apartment? Mau ngapain Irena disini?" Gumam Bryan yang bertanya-tanya dalam hatinya.
Mereka pun masuk ke tempat dimana salah satu bodyguard Dika telah menunggu disana duluan.
"Rebecca!!! Buka pintunya!! Rebecca!!" Dika berulang kali memencet bel apartment tempat Rebecca dulu tinggal.
Pintu tak juga dibuka, tak ada jawaban walaupun sudah entah berapa kali ketukan dan makian terlontar dari mulut Dika.
__ADS_1
"Rebecca!! Buka pintunya wanita sialan!! Jangan buat aku mendobrak pintu ini dengan kasar. Kau pasti sudah tau apa yang akan aku lakukan nantinya padamu. Buka!!!!" Dika berteriak.
Akhirnya pintu terbuka, Rebecca sudah berada didepan pintu.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali. Aku sedang mandi tadi." Ucap Rebecca.
"Dimana istriku? Berani-beraninya kau berbohong tentang keberadaan istriku." Ucap Dika emosi.
Lampu yang tadinya di ruangan itu tampak gelap, saat Dika dan Bryan masuk kini berubah menjadi terang dengan pemandangan dekorasi dan pernak-pernik berwarna pink disepanjang dinding ruangan yang ada dihadapan kedua lelaki itu.
"Surprise!!!!" Ucap semua orang yang ada didalam.
"Apa-apaan ini?" Dika tercengang begitu juga dengan Bryan.
Irena datang menghampiri Dika, ia tak menyadari kalau ada Bryan yang sedang berdiri tepat di belakang Dika.
"Selamat, Mas. Anak kita ... Baby Girl. Yeayyy!!!!" Ucap Irena bahagia.
"Iya, Mas. Maaf ya, aku sengaja melakukan ini semua. Aku juga minta Rebecca untuk bekerja sama. Habisnya mau minta bantuan siapa lagi cobak, kan cuma Rebecca sahabat aku sekarang."
"Ya nggak, Becc." Ucap Irena melirik kearah Rebecca.
"Iya, Dik. Maaf ya, aku terpaksa nih ngikutin kemauan istrimu. Padahal sampai sekarang aku masih aja ngerasa gelisah, takutnya kamu mikir aku yang tidak-tidak lagi, hemm" Jelas Rebecca.
"Aduh, sayang. Aku pikir kamu beneran kenapa-kenapa loh. Aku khawatir banget tau gak. Nyariin kamu kesana kemari, sampai-sampai aku ke kantor kamu, untung aja ada Bryan yang mau nolongin aku. Tega banget buat suami jantungan ya." Ucap Dika menghentakkan tubuh Irena ke pelukannya.
"Bryan? Apa dia ada disini juga?" Gumam Irena bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
"Pak .. Bryan. Maksud kamu?" Tanya Irena.
"Iya, Bryan. Tuh orangnya."
Dika menghampiri Bryan.
"Thanks ya, Bro. Untung aja Anda mau bantuin saya. Kalau enggak, gak tau deh. Bisa mati berdiri kali ya."
Bryan masih tampak mematung disana, terus saja melihat ke arah Irena. Tubuhnya terasa kaku. Ada setengah rasa bahagia karna mengetahui anak yang ada diperut Irena adalah Baby Girl seperti yang diinginkan Irena saat pacaran dengannya, setengahnya lagi rasa sedih dan sakit karna kenapa bukan dia yang jadi ayah dari bayi itu.
"E-iya. Sama-sama, Bro. Selamat ya."
"Selamat juga ya, Ren." Ucap Bryan dengan nada sendu.
"Terimakasih, Pak. Maaf udah ngerepotin Bapak sampai ikut datang kesini." Ucap Irena yang merasa bersalah, karna tau Bryan pasti sangat sedih melihat semua ini.
Dika yang tak menyadari sikap keduanya, kembali memeluk erat Irena dan mencium kening sembari mengelus lembut perut Irena. Semua itu ia lakukan tepat dihadapan Bryan dan semua orang.
Gak kebayang gimana perasaan Bryan saat ini. Yang pastinya ia benar-benar hancur, tak ada harapan lagi. Badannya seperti remuk dan terpecah berai, ingin rasanya berlari dan berteriak meluapkan kekesalannya sesegera mungkin. Tapi gak mungkin ia lakukan, ia tak ingin menaruh rasa curiga ke semua orang terhadap dirinya.
.
.
.
*Bisa kebayang gak sih kalau kalian jadi Bryan. Kalau Othor mah langsung pingsan tuh.
__ADS_1
Hikss ... Hikss ... Hiksss ...*
See you next, Readers untuk episode yang benar-benar mengandung bawang 😢