
"Apa jangan-jangan aku udah gak menarik? Menurutmu apa penampilanku mulai membosankan?" Irena sekali lagi membutuhkan pendapat.
Bryan tertawa terbahak-bahak, "Hahaha ... Mana mungkin dia berpikiran kamu gak menarik, pastinya bukan karna itu.
"Kamu udah putus asa banget ya?" Tanya Bryan.
"Sebenarnya aku lebih berharap aku bisa hamil. Aku rindu Shanum, anakku yang belum sempat aku jaga dan aku rawat. Ingin rasanya ada tawa dan tangis anak kecil didalam rumah kami." Ucap Irena sedikit menahan tangisnya.
"Waktu kalian untuk bisa punya anak masih panjang, bukan? Sabar-sabar aja dulu." Jawab Bryan.
"Mas Dika dan aku juga akhir-akhir ini terlalu sibuk. Bahkan untuk ketemuan aja sepertinya susah. Apalagi Mas Dika pergi pagi pulangnya malam banget. Eh, aku nya pasti sudah tidur."
"Dirumah rasanya sepi banget, berasa gak punya teman. Kalau dulu sebelum aku tau Rebecca dengan suamiku mengulangi perbuatan mereka, rasanya senang banget ada teman seperti Rebecca yang selalu mengerti keadaanku."
"Kan ada aku ... Aku juga bisa lho jadi teman yang baik." Bryan tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya.
"Bryan!"
"Hahahaha."
*****
Pintu lift terbuka, semua orang yang sedari tadi asyik bergosip akhirnya keluar satu persatu. Tersisa Irena sendirian, karna ia harus naik satu lantai lagi ke ruangan suaminya.
"Siapa wanita yang mereka bicarakan, sering datang menemui Mas Dika?"
Langkah Irena menjadi lemas, ia tidak bersemangat lagi untuk mengunjungi suaminya untuk makan siang bareng.
Langkah Irena terhenti saat sekretaris Dika menyapanya dan memberitahu kalau Dika sedang ada tamu penting. Tapi tiap perkataan yang diucapkannya terbata-bata dan membuat dirinya curiga. Perasaan dan pikirannya kali ini benar-benar sudah tak karuan.
__ADS_1
"Tapi, Pak Dika ada di dalam kan?" Tanya Irena tegas.
"A-da, Bu. Tapi ..." Belum siap sekretaris itu bicara, Irena langsung masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
Seperti menggerebek seorang suami yang sedang berselingkuh, Irena langsung melihat sekeliling dan ternyata yang terjadi diluar dugaan. Irena salah mengambil langkah gegabah hingga akhirnya saat ini kakinya seperti membeku.
Tidak ada wanita disana, melainkan seorang pria. Semua mata memandang kemunculannya. Irena pun gelagapan, "Maaf, maaf. Aku pikir kamu sendirian."
"Sayang, kamu kok disini?" Tanya Dika mendekati istrinya.
"Kamu lagi sibuk, aku pulang aja. Aku mau ajak kamu makan siang bareng tadi. Sekretaris kamu udah bilang sih kalau kamu lagi ada tamu. Cuma aku nya aja yang mungkin gak sabaran. Maaf ya, Mas." Ucap Irena yang merasa bersalah.
Irena menatap wajah suaminya. Ia salah menduga. Pikirannya terlalu berlebihan hingga memikirkan hal-hal yang mustahil untuk dilakukan suaminya itu. Ia gak percaya kalau suaminya selingkuh lagi.
Dika tersenyum, "Nggak papa, kamu tunggu aja ya. Sebentar lagi aku selesai kok."
Irena langsung keluar dengan keadaan malu dari ruangan itu. Ia yakin, mereka yang bergosip didalam lift tadi hanya berbicara yang tidak benar.
*****
"Ya terserah kamu maunya gimana. Selama itu gak mengganggu kamu."Jawab Dika.
"Aku bingung, Mas. Lihat besok aja deh. Atau kamu mau nemenin aku?" Tanya Irena.
"Besok ya. Kayaknya Mas gak bisa, sayang. Mas mau ketemu klien dari Jepang. Dia bisanya ketemu besok, soalnya mau langsung berangkat lagi selesai ketemu sama Mas. Ya, mau gak mau Mas harus ikuti." Jawab Dika yang membuat Irena merasa mual untuk mendengar jawaban itu, padahal besok adalah hari libur kerja mereka.
"Hemm ..." Irena menjawab dengan singkat.
Dika tersenyum, kemudian memeluknya dari belakang saat Irena tidur membelakangi dirinya dan menciumi lehernya berulang-ulang.
__ADS_1
"Wangi banget sih kamu." Goda Dika.
"Wangi? Emang selama ini aku gak wangi ya?" Tanya Irena takut kalau ia bau.
"Enggak, bukan begitu maksud Mas." Dika membalikkan tubuh Irena hingga saat ini tidak ada jarak sedikitpun diantara mereka. Memeluk pinggangnya dan menggesek hidungnya ke hidung Irena.
"Mas, cuma mau tes penciuman aja tadi. Siapa tau hidung Mas lagi sensitif, karna sepertinya Mas mau flu."
"Apaan sih, Mas. Kirain ..." Ucapan Irena terhenti karna saat ini tangannya sedang menjelajah didalam kaos putih polos milik suaminya.
Dengan cepat Dika menahan tangan Irena yang hendak melakukan itu. Ia mendekati bibir Irena dan menciumnya. Beberapa detik lamanya mereka saling membelit lidah, sampai Dika yang lebih dulu mengakhirinya.
"Tidurlah, sepertinya kamu lelah." Ucap Dika.
Irena mengangguk, ada rasa kecewa didalam dirinya tapi kembali memeluk Dika. "Kenapa aku merasa kamu banyak berubah ya, Mas." Akhirnya ucapan itu keluar dari mulutnya, karna terlalu resah memendam semuanya sendirian.
"Sayang, apa yang perlu kamu cemaskan?"
Tapi saat mereka mulai membicarakan hal itu, tiba-tiba ponsel Dika berbunyi. "Sebentar sayang, Mas angkat telepon dulu." Dika beranjak pergi meninggalkan Irena.
"Kenapa hatiku merasa gak enak saat Mas Dika menerima telepon itu?" Irena mengusap dadanya.
.
.
.
See you next, Readers 💙
__ADS_1
Jangan ketinggalan dukungannya buat Othor loh ya, hehehehe 🤪