Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 122


__ADS_3

"Semua area resto disini sudah di booking oleh Pak Bryan, Bu."


"Pantas saja disini sepi, nggak ada satu pun pengunjung yang terlihat." Ucap Irena.


Mobil yang mengantarkan Irena berhenti disebuah restoran mewah. Mata Irena terbelalak, diperlakukan seperti wanita bangsawan, dibukakan pintu mobil dan diantar ke tempat Bryan yang telah menunggunya sedari tadi.


"Silahkan, Bu. Pak Bryan sudah menunggu di dalam." Pelayan yang mengantar Irena hanya sampai depan pintu. Dia membuka kan pintu dan mengulur tangan mempersilahkan Irena untuk masuk kedalam.


"Terimakasih." Irena masuk menuju ruangan dengan suasana yang lebih terlihat redup dan terdapat begitu banyak lilin. Karpet merah terbentang di sepanjang jalan ditaburi bunga kelopak mawar putih.


Irena terlebih dahulu menghembuskan nafasnya perlahan, membuang jauh-jauh rasa grogi nya. Ia langkahkan kaki menginjak kelopak bunga mawar putih itu menuju tempat Bryan menunggunya.


Dari ujung sana, terlihat Bryan begitu serius menatapnya sehingga membuat debar di dada yang tadinya telah tertata baik, berceceran kembali. Tatapan pria itu sangat intens, tidak berkedip dalam sorot mata penuh kekaguman.


Bryan berdiri, berjalan ke sisi Irena dan menarikkan kursi untuknya. "Kamu sangat cantik, Ren." Bisik Bryan setelah Irena duduk.


Wajah Irena terasa semakin panas, terlihat semakin bertambah memerah karna sudah diberi bulush on.


Terdengar suara musik yang begitu lembut, suara itu berasal dari pianist yang bermain di atas panggung kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.


Setelah Bryan duduk, dua orang pelayan restoran mulai menyajikan hidangan pembuka. Saat ini hanya mata yang berbicara secara intens diantara mereka. Belum ada sepatah katapun keluar karna kekaguman masing-masing.


Setelah hidangan pembuka, pelayan membereskan meja dan menyajikan kembali hidangan main course untuk mereka berdua.


"Ini apa, Bryan?" Tanya Irena setelah pelayan pergi. Karna baru kali ini ia melihat menu makanan yang dari aromanya saja sudah membuatnya sangat begitu lapar, ingin segera menyantapnya.


"Ini adalah Foire Gras, makanan khas Perancis favorit raja-raja abad pertengahan berbahan dasar hati angsa."


"What? Angsa? Seriously?" Irena tentu saja kaget mendengarnya.


Bryan terkekeh, "Aku tau ini mungkin agak sedikit aneh, tapi ini benar-benar enak. Cobalah."


"Oke ..." Iren mencoba melupakan bahan dasar dari makanan itu, agar kelezatannya bisa ia nikmati. Disaat gigitan pertama daging empuk itu tersentuh oleh lidah, Irena takjub.


"Astaga ... Ini benar-benar enak, Bryan."


"Nah, benar kan?" Bryan merasa lega Irena menyukainya.


"Aku dulu mikirnya juga seperti kamu, bakalan susah untuk dimakan setelah mengetahui bahan dasarnya. Tapi mereka berhasil meyakinkan kalau rasanya memang benar-benar layak untuk dicoba."


Irena hanya mengangguk setuju sembari melanjutkan suapan keduanya.

__ADS_1


Mereka pun mulai mengobrol ringan, bercerita masa-masa sewaktu di sekolah dulu dengan suasana penuh canda dan tawa. Cara Bryan merespons setiap kalimat Irena benar-benar membuat wanita itu semakin terbawa suasana. Bryan memang pendengar yang baik.


Sampai akhirnya, Bryan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan di resto membereskan sisa makanan. Hidangan penutup pun disajikan, Es Krim lezat yang tampak menyejukkan.


"Gimana rasanya?" Tanya Bryan setelah Irena mnyicipi Es Krim Vanilla itu.


Irena tersenyum tipis. "Enak." Jawabnya. Dia memalingkan wajahnya yang grogi sebentar, karna Bryan terus saja menatap dirinya lalu memakan es krim itu lagi.


"Sebentar. Loh ... Apa ini?" Irena merasakan sesuatu yang keras dan sedikit tajam di lidahnya. Dia sontak menatap Bryan, pria itu hanya tersenyum penuh makna. Diambilnya benda itu dari dalam mulut, dan ternyata itu adalah cincin berlian.


"Bryan, ini ..."


Bryan berdiri mengambil cincin itu dari Irena lalu berlutut disampingnya. "Aku tau ini terlalu cepat, Ren. Tapi rasanya aku udah nggak bisa menunggu, setelah lamanya kita berpisah kemarin. Apalagi dari semua kejadian ini, aku semakin yakin kalau memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Aku bertemu kamu lagi, pasti karna campur tangan Tuhan."


Irene benar-benar gugup. Bryan menggenggam kedua tangannya yang mulai dingin.


"Aku memang bukan pria yang sempurna, tapi kehadiranmu lebih dari cukup untuk menyempurnakan ku."


"Mau kah kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya, Shirena Indira? Menghabiskan sisa-sisa usia kita bersama, dalam suka maupun duka."


Air mata Irena menetes. Bryan menunggu jawabannya dengan penuh harap.


"Yes ..." Irena menjawab disertai isak tangis bahagia. Dia mengangguk beberapa kali.


"Thankyou, Ren. I love you."


Irena melepaskan pelukan mereka, "Apa ini tidak terlalu cepat untuk kita? Kamu tau sendiri bagaimana keadaanku sekarang."


"Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap. Malam ini, aku hanya ingin mengikatmu, agar menjadi milikku. Aku nggak mau kecolongan lagi seperti dulu, Ren."


Irena mencari kesungguhan ucapan Bryan dari sorot matanya. Hingga akhirnya ia mengangguk sebagai jawaban, lalu memeluk Bryan kembali.


"I love you too, Bryan." Sambung Irena.


Bryan melepaskan pelukan, wajahnya mendekati wajah Irena. Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, lagi-lagi suara ponsel Irena berbunyi merusak suasana. Namun kali ini, Bryan tidak akan membiarkannya. Dia mengambil ponsel itu dan memasukkannya ke dalam gelas berisi minuman Citron Presse .


Irena melotot melihat ponselnya tenggelam didalam gelas. Tapi tiba-tiba bibirnya sudah berada dalam kuasa Bryan. Sentuhan lembut bibir pria itu membuat jantungnya meledak bagai petasan.


Ini ciuman pertama mereka setelah Irena terbebas dari Dika, bahkan setelah sekian lamanya Bryan berpisah darinya dan menunggu menjadi miliknya lagi.


****

__ADS_1


"Kenapa aku gak boleh ikut masuk?" Tanya Bryan terus menerus.


"Belum waktunya, Bryan. Keluarga ku pasti bakalan kaget banget kalau kamu nemuin mereka gitu aja. Tentang aku dan Dika, mungkin mereka bisa mengerti. Tapi untuk saat ini, aku hanya nggak mau memperkeruh keadaan. Bukankah kamu sudah berjanji akan menungguku?" Irena mengusap wajah Bryan dengan lembut.


"Nanti kalau keadaan sudah mulai tenang dan aku benar-benar sudah siap, pelan-pelan aku akan memberitahukan pada mereka bahwa kamu adalah calon imam untuk masa depan hidupku yang jauh lebih baik."


Bryan tersenyum senang mendengar ucapan Irena, "Kamu mencoba merayu aku ya?"


"Ya, anggap saja begitu." Jawab Irena.


Bryan menyentil hidung Irena, lalu menghela nafas, "Hemm, baiklah kalau begitu aku akan menunggu. Tapi ingat jangan lama-lama bikin aku frutasi."


"Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih?" Tanya Irena grogi. Bryan pasti tau kalau Irena sedang berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan rona merah diwajahnya itu.


"Aku mau lihat kamu sebanyak yang aku bisa malam ini. Sebelum kamu pergi masuk kedalam rumah."


"Aku bukan pergi untuk selamanya, Bryan." Irena terkekeh.


Bryan menarik pinggang Irena, "Satu jam aku tidak melihatmu, rasanya aku seperti menghabiskan waktu kosong yang sangat panjang. Apalagi berhari-hari." Jujurnya.


"Kamu lebay." Irena melepaskan diri. "Aku penasaran sudah berapa banyak wanita yang kamu perdaya dengan rayuan gombalmu itu, Bryan McKenzie?"


"Lagian siapa juga yang pergi berhari-hari. Besok kita juga ketemu dikantor, bukan?"


Bryan kembali menghela nafasnya, berat rasanya untuk mengatakan. "Aku yang akan pergi untuk beberap hari. Aku harus kembali ke Jerman, kerumah orang tuaku. Karna saat ini mereka membutuhkan ku."


Ada sedikit rasa kecewa dalam diri Irena. Baru saja malam ini ia merasakan kebahagiaan yang teramat sangat bersama Bryan, tapi ia malah harus pergi.


Bryan mengalihkan pembicaraan mereka, "O-iya, apa kamu akan percaya kalau aku bilang, aku belum pernah berpacaran lagi setelah berpisah denganmu?"


"Aku nggak percaya." Ketus Irena. Kedua bola matanya membulat, antara percaya atau tidak. Tapi anehnya, rasa percaya menempati posisi teratas melihat ekspresi Bryan saat bicara. "Kamu serius?" Selidiknya.


"Ya, tentu saja. Buat apa aku bohong?"


"Sekalipun hanya one night stand?" Tanya Irena yang entah kenapa harus pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya disaat seperti ini. "Kau sudah gila Irena." Sesalnya sendiri dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Haha Irena sepertinya sudah mulai kehilangan kesadaran nih, bisa jadi sebentar lagi kehilangan akal sehat juga 😂😂


__ADS_2