Akan Ada Pelangi Setelah Hujan

Akan Ada Pelangi Setelah Hujan
Episode 123


__ADS_3

Irena ikut mengantar kepergian Bryan ke Bandara, mereka menunggu bersama sebelum Bryan naik ke pesawat. Keduanya saling bergandengan, nggak pernah lepas semenjak beranjak pergi sampai tiba disini.


"Kamu harus segera kabari aku kalau sudah tiba disana." Ulang Irena lagi.


"Iya."


"Jangan lama-lama." Lanjutnya.


Bryan menatap lekat Irena begitu dalam, "Dan setibanya disana, aku selalu menunggu kabar baik darimu."


Irena mengangguk, "Kamu jangan nakal disana." Ucapnya memberanikan diri. Rasanya sangat malu harus jadi posesif seperti itu, tapi pasti ada kalanya resah memiliki kekasih sesempurna Bryan.


"Aku janji nggak akan lama." Balas Bryan.


"Aku cuma bisa nakal sama kamu." Kekeh Bryan.


"Hem, Dika masih gangguin kamu?" Tanyanya.


"Ya, masih sama seperti kemarin. Masih sibuk telponin. Tapi nggak aku angkat kok, beneran deh." Irena meyakinkan Bryan.


"Sebenarnya, aku ada kabar baik juga buat kamu sih. Makanya aku tanya begitu." Jelasnya.


"Sebentar lagi juga beritanya akan muncul, you'll see what happened."


"Berita? Maksud kamu?" Irena mulai menerka-nerka dengan jawaban yang mungkin dia pun sebenarnya tau.


Ternyata Bryan benar, Irena nggak perlu melakukan apapun untuk membalas perbuatan Dika dan Rebecca. Pelan-pelan mereka mendapat balasan dengan sendirinya. Dika terjerat kasus hukum, karna ketahuan korupsi dana investor. Rumah, mobil dan semua aset pribadinya dijadikan jaminan, bahkan perusahaannya pun sedang diambang kehancuran. Sementara Rebecca diusir dari apartemennya dan entah dimana dia sekarang.


Kehidupan Dika saat ini benar-benar gelap, semua hancur karna ulahnya sendiri.


"Andai kamu nggak mengkhianati aku, Dik. Semuanya pasti akan tetap baik-baik saja sampai sekarang." Batinnya dalam hati.


"Bagaimana? Aku benar kan?" Tanya Bryan mengagetkan Irena.


Sebuah pengumuman kalau Bryan harus segera menaiki pesawat pun terdengar. Mereka terlihat tidak sanggup untuk berpisah, malah saling mengeratkan genggaman tangan.


"Aku nggak akan minta kamu untuk tetap tinggal, karna harus ada yang ngasih tau orang tua kamu soal hubungan kita." Irena meyakinkan dirinya kalau Bryan hanya pergi sebentar.


"Aku janji nggak akan lama. Aku akan cepat kembali. Aku ingin menikahimu segera." Kata Bryan sembari membelai wajah wanitanya.


Irena mengangguk. Keduanya sama-sama berdiri, saling melepaskan dengan berat hati, bahkan Irena masih setia mengantar sampai batas terakhir yang dia bisa. Bryan memeluk Irena sebelum dirinya masuk kedalam. "I love you so much, Ren."


Irena membalas pelukan itu dan tersenyum, "I love you more." Balasnya.


Pria itu menarik koper semakin jauh darinya. Irena hanya bisa memberikan senyuman setiap kali Bryan menoleh ke arahnya.


"IRENA, AKU MENUNGGU JAWABANMU!" Teriak Bryan tiba-tiba.


Bukan hanya Irena saja yang menoleh, bahkan semua orang yang ada disana. Wajah Irena langsung memerah, teriakan Bryan sangat keras. Dia menaruh jari telunjuk ke bibirnya agar pria itu berhenti bertingkah seperti anak kecil.


"I LOVE YOU, SHIRENA INDIRA!" Teriak Bryan lagi.

__ADS_1


Irene menutup wajahnya, bisa dilihatnya semua orang tersenyum. "Kamu benar-benar nggak punya malu, Bryan!" Gumamnya pelan.


Sementara diujung sana, Bryan hanya tersenyum santai.


*****


Kepulangan Bryan ke Jerman disambut hangat penuh kebahagiaan oleh kedua orang tuanya. Sudah cukup lama ia tidak pulang, sehingga rindu yang teramat berat itu akhirnya terbayarkan.


"Kamu makin sehat aja seperti nya." Mama Rita mengurut lengan putranya itu dengan lembut.


"Lah, kurus begitu kok malah dibilang sehat, Ma." William, Papa Bryan berkomentar.


"Pa, berat badan anakmu sudah ideal loh ini. Soalnya dijaga terus pola makan dan olahraganya. Emangnya kayak papa, makan aja nggak pernah dijaga." Rita cemberut.


"Kenapa Irena nggak ikut, Bryan?" Tanya Rita. Karna Rita sudah mengetahui kedekatan antara Bryan dengan Irena.


"Siapa itu? Asisten kamu?" Tanya William.


"Sebenarnya ... Ada yang mau aku kasih tau ke Mama dan juga Papa." Bryan nggak ingin menundanya, agar tidak ada lagi beban.


"Apa, Bryan?" Wajah kedua orang tuanya menjadi serius.


"Aku harap, setelah mendengar ini. Papa dan Mama jangan marah dulu."


"Kamu buat Mama takut, Bryan." Rita meremas tangan anaknya semakin kuat.


"Katakan Bryan, jangan buat kami penasaran." William memaksa tidak sabaran.


Semua menoleh pada wanita itu, lalu membalas salam dengan penuh keramahan.


"Nah, ini dia tamu kita yang sedari tadi ditunggu-tunggu." Ucap William.


"Wah, aku jadi nggak enak kalau gitu, Om." Vanesha tertawa. Dia melirik Bryan dan tersenyum, "Hai, Bryan. Kapan kembali?" Tanyanya basa-basi.


"Baru saja." Bryan membalas senyuman itu apa adanya. Ada sedikit kecanggungan diantara mereka, lantaran sudah cukup lama tidak bertemu. Padahal waktu masih kecil, mereka sangat begitu akrab.


"Kalian ngobrol aja dulu. Papa ada urusan sama Mama sebentar." William menyingkir seakan ingin membuka jalan untuk mereka berdua.


"Tapi, Pa. Urusan apa sih?" Mama Rita heran.


William menarik tangan sang istri untuk ikut dengannya, "Ada loh, Ma. Tadi kan Papa udah bilang sama Mama. Masa mama lupa sih."


"Kamu sendirian aja, Nesh?" Tanya Bryan, sembari mempersilahkan Vanesha untuk duduk.


"Iya. Kamu rencana berapa lama disini?" Tanyanya balik.


"Masih belum tau." Bryan menoleh pada Vanesha. "Aku dengar kamu udah jadi designer terkenal sekarang ya?" Tanya Bryan.


"Hehe, iya Bryan. Alhamdulillah akhirnya pelan-pelan impianku tercapai."


"Kamu dari dulu emang cerdas, jadi ya nggak heran." Entah itu pujian atau hanya omongan biasa, tampaknya berpengaruh besar pada ekspresi Vanesha saat ini.

__ADS_1


"Kamu ternyata masih ingat sama aku, Bryan." Vanesha tampak malu-malu.


"Aku nggak mungkin lupa lah sama cicak yang selalu nempel kemana aku pergi." Canda Bryan.


Vanesha menghela nafas, "Kalau saja kamu nggak ke Indonesia, mungkin saja hubungan kita terus berlanjut ya. Nempel kamu terus sampai kemana-mana."


Bryan bisa merasakan arti yang berbeda dari ucapan Vanesha. Meski semua itu ada benarnya juga. "Ngomong-ngomong apa kabar Mama sama Papa kamu? Rencana kamu pindah ke Indonesia, emang jadi?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Oh, iya baik. Setelah berpikir cukup lama, aku sepakat nggak jadi pindah. Di negara ini punya makna buat aku dan kita semua. Itu sebabnya, aku pun memilih untuk berkarir disini saja."


"Hebat kamu." Puji Bryan.


"Pada dasarnya kita akan kembali ke tempat ternyaman, Bryan. Meski nanti aku tinggal di Indonesia, hati aku tetap disini. Sayangnya saat aku memilih disini, sepertinya semua sudah terlambat."


Bryan hanya tersenyum menanggapi semua itu. Vanesha secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya, dan itu membuat Bryan merasa semakin canggung.


*****


"Barusan telponan sama siapa? Irena?" Tanya Mama Rita berbisik.


"Hem, iya Ma." Jawab Bryan.


Bryan menarik tangan Mamanya untuk duduk dan berbicara di meja makan sebelum makan malam dimulai, "Ma, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama Mama dan Papa. Tapi aku gak yakin kalau Papa bisa terima."


"Ada apa? Katakan dulu sama Mama." Tanya Rita dengan suara berbisik sepelan mungkin.


"Saat Irena sedang dalam masalah kemarin, Bryan yang membantunya untuk melewati semua itu. Baik itu secara materi, moral ataupun dukungan. Itu semua Bryan lakukan, karna Mama tau sendiri kalau Bryan sangat mencintainya, Ma."


"Mama sudah menduganya. Kamu benar-benar mencintainya?"


Sejenak Bryan terdiam kemudian berkata, "Tentu saja, Ma. Dia cinta pertama dan terakhir Bryan sedari dulu. Mama juga tau, bukan? Kali ini Bryan nggak mau kehilangan Irena lagi Ma, karna harus mengikuti kemauan Papa."


Rita terlihat cemas, "Bryan, apa kamu yang membuat Irena dan suaminya ..."


Bryan sudah menduga kalau akan ada prasangka buruk atas bantuannya, "Tidak, Ma. Sungguh. Bryan bukan penyebab hancurnya rumah tangga Irena dan suaminya. Seperti yang Mama tau, suaminya berselingkuh, itu sudah beberapa kali terjadi."


"Bryan hanya ... Hanya datang disaat yang tepat. Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan untuk kami bisa bersama lagi, Ma." Bryan terus mencoba meyakinkan Mamanya.


"Mama selalu percaya sama kamu, tapi Papa kamu. Mama nggak yakin, Bryan. Karna ...." Rita mulai terlihat resah.


"Sebaiknya kamu harus langsung memberitahu Papa, Bryan. Karna Papa berencana menjodohkan kamu dengan Vanesha. Mama juga baru tau tadi, saat Vanesha datang kerumah." Jelasnya.


"What???" Bryan menggeleng.


.


.


.


Masuk babak baru perjalanan cinta Bryan dan Irena. Kita lihat apakah mereka akan bersatu? We'll see in th next episode. See you 🤪

__ADS_1


__ADS_2