
"Tapi Bu ..."
"Percaya deh sama Ibu, sayang. Dika itu lelaki pilihan terbaik Ibu. Kalian akan menikah minggu depan. Besok kalian berdua akan mengurus semua berkas nikah ke KUA. Tempat fitting gaun pengantin dan jas sudah Ibu dan mertua kamu yang tentukan dimana, Dika juga udah tau soal hal itu"
"Kalau kartu undangan, tempat resepsi, dekor lalu catering, besok juga biar Ibu dan Ibunya Dika yang urus semuanya"
"Bagaimana Ren, kamu siap kan?" tanya Dika yang tiba-tiba muncul dari belakang Irena.
Irena melirik ke arah Dika, menggerutu karena tidak menyangka akan secepat itu menikah dengan Dika.
Gadis itu pun pura-pura tersenyum ke arah Dika dan Hanum, rasanya sulit dijelaskan dan dibayangkan melihat mereka begitu bahagia dengan pernikahan pernikahan ini.
"Emm ... Iya aku siap menikah" ucap Irena bersiap-siap mengambil tas karena akan pergi bersama Dika.
"Bu, Irena pergi dulu sama Dika ya. Assalamualaikum," ucap Irena.
"Iya Bu, saya izin pergi bawa Irena ya, Assalamualaikum" ucap Dika juga.
Mereka berdua berpamitan dengan Hanum dan menyalaminya.
"Wa'alaikumsalam .." jawab Hanum.
Mereka berjalan berdampingan menuju mobil. Dika membukakan pintu depan mobil untuk Irena. Setelah itu Dika duduk di kursi menyetir mobil.
"Oh iya Ren, kita ke Coffee Shop depan kantor kamu dulu ya, ada klien aku disana, ada berkas yang harus aku tanda tangani" ucap Dika.
"E--iya nggak papa" jawab Irena.
Setibanya di Coffee Shop, Dika memarkirkan mobilnya tepat disebelah mobil Rudi. Betapa terkejutnya Irena, ketika melihat ada mobil Rudi disampingnya.
Dika keluar dari mobilnya kemudian membukakan pintu depan. Irena terdiam masih duduk di bangku depan, Dika yang heran Irena tidak keluar berkata "Ren, kita sudah sampai loh"
"E--aku tunggu dimobil aja ya"
"Loh kenapa? Masuk aja bareng aku, kamu juga bisa pesan kopi, sekalian aku kenalin dengan teman dan klien aku. Kamu kan calon istri aku, mereka harus tau dong siapa istri yang beruntung menikahi seorang Andika Mahesa HEHEHEE"
"Apaan sih, gak segitunya jugalah" ucap Irena kesal.
Akhirnya Irena turun dari mobil, tapi sebelum turun seperti biasa ia merapikan baju dan hijabnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sudah, kamu sudah cantik. Nggak perlu cantik-cantik banget lah ketemu mereka, nanti yang ada mereka malah jadi suka sama kamu Ren, Hemm" ucap Dika cemburu.
"Ishhh apaan sih! Kamu deluan aja sana, nanti aku nyusul" gerutu Irena.
"Okey, jangan lama-lama ya" ucap Dika.
Irena hanya menganggukkan kepalanya.
Saat turun dari mobil dan menutup pintu, Irena melihat Rudi yang hendak menyebrang berjalan menuju Coffee Shop.
Irena terus memperhatikannya, ia bernapas pelan-pelan untuk mangatasi kecemasannya.
Rudi melihat Irena berdiri didepan Mobil, ia berteriak memanggil nama Irena.
"Irenaaa ... Ren ..." teriak Rudi.
Saat memanggil nama Irena untuk ketiga kalinya, tiba tiba Irena berteriak."
"RUDI, AWAS!!!!"
"Brakk ..."
Jantung Irena berdetak kencang, kedua tangannya mulai bergetar, rasa takut dan cemas kini mulai kembali ia rasakan. Terlihat sebuah mobil truk besar berjalan kencang menabrak Rudi dari arah samping kanannya.
Tubuh Irena seketika lemas seakan hancur melihat tubuh Rudi tergeletak begitu saja. Gadis itu langsung berlari menghampiri Rudi.
Dika yang mendengar suara benturan keras dan suara teriakan Irena langsung keluar dari Coffee Shop, ia berpikir terjadi sesuatu dengan Irena. Alhamdulillah, ternyata bukan Irena pikirnya.
Lantas ia langsung berlari mendekati siapa yang tertabrak.
"Rudi?" ucap Dika terkejut melihat Rudi yang bersimbah darah menahan rasa sakit sembari melihat kearah Irena yang menangis kencang.
Dika menyuruh Irena minggir dan langsung mengangkat tubuh Rudi masuk kedalam mobilnya.
"Rud, bertahan ya Rud. Aku disini Rud. Irena Rud, Irena, aku disini. Kamu kuat Rud, kamu harus kuat!" ucap Irena didalam mobil sedang memangku kepala Rudi yang penuh dengan luka.
Irena terus menggenggam tangan Rudi dan terus memangil namanya dengan air mata yang terus berlinang sembari berkata "Kamu sudah berjanji akan selalu merindukan dan menjagaku dalam doamu kan, kamu harus tepati itu Rud. Aku mohon kamu bertahan ya, Hikss...Hikss..."
"A.. ku.. men..cintai..mu.. Ire...na"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Rud, sudah ya jangan banyak bicara dulu ya. Aku mohon terus lah bertahan ya, demi aku hikss...hikss"
Dika yang mendengar hal itu sontak menggigit bibir bawahnya, dadanya sesak menahan rasa sakit mendengar ucapan mereka.
Dika sesekali memperhatikan mereka lewat kaca mobil depan. Hatinya benar-benar sakit melihatnya, begitu jelas terlihat Irena begitu cemas dan takut yang luar biasa.
"Jadi selama ini Irena yang sebentar lagi akan menjadi istriku ternyata mencintai pria lain. Seminggu lagi pernikahan kita Ren, baru saja aku bahagia seketika kamu buat hancur menjadi duka yang teramat dalam. Inikah arti dari penolakan mu selama ini menikah denganku? Bukan karena tidak ingin dijodohkan, tapi karna Rudi yang sudah terlebih dahulu kamu cintai"
*****
Saat tiba dirumah sakit, Rudi langsung dibawa ke ruang IGD.
Irena yang masih tampak histeris, hanya bisa menangis terduduk lemas di luar depan ruang IGD bersama dengan Dika. Waktu terasa berhenti memaksanya untuk kembali mengingat masa lalunya yang kelam itu.
"Ren, dengerin penjelasan ayah dulu Nak. Semua itu bohong, ayah akan jelasin semuanya ke kamu, tapi kamu buka dulu pintunya ya"
"Tolong buka Nak. Maafkan Ayah Nak, maafkan ayah. Percayalah, walaupun orang-orang berpikir buruk tentang kerjaan ayah, jangan pikirkan mereka"
"Ayah sayang kalian semua, ayah hanya ingin melindungi kalian, ayah ingin terus menjaga kamu dan keluarga kita. Suatu saat kamu pasti mengerti kenapa ayah seperti ini Nak. Tolong buka pintu nya Nak"
Ayah Irena adalah seorang mafia narkoba, selama bersama keluarganya, ia seperti layaknya seorang ayah biasa yang sering bertugas keluar kota. Keluarganya berpikir bahwa pekerjannya adalah seorang prajurit TNI biasa, ternyata tidak. Saat mereka berlibur di Bali, tiba-tiba ada berita di televisi bahwa Bayu Dermawan seorang buronan mafia narkoba.
Betapa terkejutnya Irena mengetahui hal itu, ia menghampiri Bayu yang tengah duduk didepan kolam , dan mempertanyakan apakah berita itu benar. Bayu terkejut dan mencoba untuk menjelaskan.
Belum sempat menjelaskan, Irena berlari kembali ke kamarnya sembari menangis sesenggukan. Bayu langsung menemui Irena, tapi Irena mengunci kamarnya.
Saat hendak mencoba masuk dan ingin menjelaskan kepada Irena, polisi datang. Ia membalikkan badannya berusaha mencoba melarikan diri, tapi polisi tepat berada didepannya.
Ia terus mengetuk pintu kamar Irena sambil memanggil nama anaknya, ia ingin melihat putri kesayangannya untuk terakhir kalinya.
"Dorrr ....."
Satu dua dan tiga kali tembakan megenai dan menembus dadanya, Bayu jatuh tersungkur. Irena yang mendengar suara tembakan, langsung membuka pintu kamarnya. Tapi Bayu memegang gagang pintu dan menahannya agar tidak terbuka. Ia tidak ingin Irena melihat dirinya yang tertembak begitu mengenaskan.
Irena mengintip dari lubang intip, ia hanya bisa melihat Bayu terduduk lemas menahan rasa sakit, banyak darah di sekujur tubuhnya sembari berkata "Ayah, buka pintunya yah. Irena mohon bertahanlah. Jangan tinggalin Irena yah, tolong tolong toloongg"
"Ja..ngan Nak, kamu di..dalam sa..ja. A..yah nggak mau ka..mu.. melihat Ayah seperti ini. Uhukk ... Uhukkk.. Ayah ko..tor banget" walaupun menahan rasa sakitnya, Bayu masih sempat bercanda dengan Irena.
"A..yah.. sa..yangg.. kaa..liaa..ann, maaf..kan a..yahh"
__ADS_1
Irena terus menangis berteriak histeris. Bayu bicara sangat perlahan sembari menahan sakit. Tak lama kemudian, tidak ada suara lagi terdengar dari mulutnya. Napasnya seakan berhenti setelah mengucapkan kata sayang dan maaf kepada Irena.
"AYAH! AYAAHH!! AYAAHHHH!!!"